Sebuah kejadian tak terduga dialami oleh penumpang dari penerbangan Easyjet. Mereka ditinggal oleh pesawat, padahal mereka ada di bandara.
Insiden itu dialami oleh penerbangan Easyjet dari Bandara Linate Milan, Italia menuju Manchester, AS pada hari Minggu (12/4/2026) lalu dengan jadwal penerbangan pukul 11.00 waktu setempat.
Seorang penumpang, Kiera, 17 tahun, dari Oldham, mengatakan kepada BBC bahwa dia dan pacarnya ketinggalan pesawat selagi antre di counter pemeriksaan perbatasan. "Kami tiba di sini pukul 7.30 untuk penerbangan kami pukul 11.00 jadi kami datang sangat awal," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 10.50 waktu setempat, petugas membawakan air untuk orang-orang karena sudah antre lebih dari tiga jam. "Ketika kami sampai di depan antrean, seseorang bertanya apakah kami akan pergi ke Manchester, dan memberi tahu kami bahwa penerbangan kami baru saja berangkat," kenangnya.
Ia harus menunggu selama 20 jam di bandara sampai mereka bisa mendapatkan penerbangan keesokan harinya.
Adam Lomas, 33, seorang akuntan dari Wakefield, sedang berlibur di Milan bersama istrinya Katy, 31, dan putri mereka yang berusia empat bulan juga ketinggalan pesawat.
"Kami telah duduk di bandara selama berjam-jam," keluhnya.
Lomas mencoba menghubungi pegawai maskapai tetapi hanya terhubung dengan chatbot. Saat ia melakukan panggilan, ada masalah audio sehingga mereka tidak dapat mendengar suara Lomas, dan setelah lima atau sepuluh menit petugas menutup telepon.
"Kami hanya berjalan kaki ke hotel terdekat. Beberapa penumpang telah berkendara ke Pisa untuk terbang," ungkapnya.
Setelah dihitung, ada 100 penumpang yang tertinggal, hanya 30 orang yang berhasil naik ke pesawat. Penumpang dibuat bingung karena ternyata petugas maskapai dan bandara bertengkar di depan mereka.
"Pihak bandara dan Easyjet telah menghabiskan waktu berjam-jam berdebat satu sama lain tentang siapa yang harus disalahkan," kenang Lomas.
Easyjet mengatakan penundaan di perbatasan yang disebabkan oleh penerapan Sistem Masuk/Keluar Eropa (EES) yang baru "tidak dapat diterima". Sistem tersebut seharusnya diterapkan pada Oktober tahun lalu - mulai beroperasi penuh pada 10 April.
Pemerintah Inggris memperingatkan orang-orang yang bepergian ke wilayah Schengen Eropa bahwa mereka mungkin perlu mendaftarkan data biometrik mereka, seperti sidik jari dan foto, ketika tiba di benua tersebut.
Pemerintah menyatakan bahwa orang-orang "tidak perlu melakukan tindakan apa pun sebelum tiba di perbatasan, dan tidak ada biaya untuk pendaftaran EES".
"Pendaftaran EES menggantikan sistem saat ini yang menggunakan stempel paspor secara manual ketika pengunjung tiba di Uni Eropa.
Seorang juru bicara Easyjet mengonfirmasi insiden ini.
"Kami menyadari bahwa beberapa penumpang yang berangkat dari Milan Linate hari ini mengalami waktu tunggu yang lebih lama dari biasanya di bagian pemeriksaan paspor dan kami menyarankan pelanggan yang akan terbang untuk menyediakan waktu tambahan untuk melewati bandara," ucap juru bicara Easyjet.
Maskapai telah melakukan segala upaya untuk meminimalkan dampak antrean di bandara, menunda penerbangan untuk memberi pelanggan waktu tambahan dan menyediakan transfer penerbangan gratis bagi pelanggan yang mungkin ketinggalan penerbangan, termasuk EJU5420 dengan tujuan Manchester.
"Kami terus mendesak otoritas perbatasan untuk memastikan mereka memanfaatkan sepenuhnya dan secara efektif fleksibilitas yang diizinkan selama diperlukan sementara Sistem Masuk/Keluar Eropa diterapkan, untuk menghindari penundaan perbatasan yang tidak dapat diterima ini bagi pelanggan kami.
"Meskipun ini di luar kendali kami, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang disebabkan," pungkas juru bicara itu.
(bnl/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain