Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi penumpasan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai dan selokan besar di Ibu Kota. Ikan sapu-sapu yang berkembang biak secara invasif dapat mengganggu ekosistem sungai.
Namun, jenis ikan ini dapat menjadi sumber protein jika berasal dari lingkungan yang bersih dan dikelola dengan baik, seperti di Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Ternyata ikan ini adalah salah satu ikan yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk Amazon (Peru dan Ekuador).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spesies ini lebih disukai di antara banyak ikan Amazon lainnya dan banyak dikonsumsi terutama di daerah Amazonas, Loreto, San MartΓn, HuΓ‘nuco, Ucayali dan Madre de Dios.
Ikan sapu-sapu dalam bahasa setempat disebut carachama. Carachama dewasa pada umumnya dapat tumbuh sekitar 30 sentimeter dan berat 300 gram. Selain itu, ini adalah spesies yang berumur panjang, karena hidup lebih lama daripada ikan Amazon lainnya. Ikan carachama dikenal memiliki daging putih yang sangat lezat dan lembut.
Oleh etnis Kichwa dan masyarakat mestizo, ikan prasejarah ini dibuat sup tradisional yang disebut dengan caldo de carachama dikenal juga dengan sebutan chilcano de carachama. Sup ini sering dianggap sebagai 'reconstituyente natural' makanan penambah stamina dan untuk mengobati anemia.
Caldo de carachama adalah kaldu berupa ikan sapu-sapu utuh yang biasanya dimasak selama sekitar 20 menit dengan api besar dalam panci dengan bumbu garam, sachaculantro (ketumbar Amazon), bawang putih, dan paprika manis, dan yuka rebus.
Sup ini sering disajikan panas disajikan di atas daun bijao atau piring, disertai dengan pisang tanduk rebus yang disebut "inguiri" atau juga yucca rebus dan sachaculantro cincang ditambahkan sebagai hiasan. Dengan sambal chalaca yang terbuat dari cocona (buah Amazon), cabai charapita, dan jeruk nipis.
Selain dagingnya yang lembut dan lezat, telur carachama, dengan warna kuning dan oranye yang mencolok, sangat bergizi dan langsung dapat dikonsumsi mentah sebagai kaviar, yang merupakan camilan yang sangat dihargai oleh suku-suku di Amazon.
----
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong