Lalainya Pengelola-Gas Air Mata Diduga Jadi Pemicu Tragedi Maut Benteng Laferriere

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Lalainya Pengelola-Gas Air Mata Diduga Jadi Pemicu Tragedi Maut Benteng Laferriere

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Selasa, 14 Apr 2026 21:13 WIB
Benteng Laferriere di Haiti utara
Benteng Laferriere. (Getty Images/Lukas Bischoff)
Jakarta -

Insiden desak-desakan yang menewaskan 25 orang di Citadelle Laferriere, Haiti pada Sabtu lalu diduga karena penggunaan gas air mata untuk membubarkan kerumunan di lokasi tersebut. Selain itu, kelalaian pengelolaan izin juga menjadi dugaan terjadi insiden

Mantan Direktur (Badan Perlindungan Warisan Nasional) ISPAN, Jean-Herold Perard, menyebut aparat keamanan diduga menembakkan gas air mata yang kemudian memicu kepanikan dan gelombang desakan di area situs Warisan Dunia UNESCO itu.

Perard menjelaskan kejadian bermula saat petugas keamanan balai kota datang untuk mengambil uang hasil penjualan tiket masuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari The Haitian Times, Selasa (14/4/2026) setiap pengunjung dikenakan tarif 250 gourdes atau sekitar 2 USD (Rp 34 ribu). Dengan jumlah pengunjung sekitar 3.000 orang, pemasukan hari itu diperkirakan mencapai 6.000 USD (Rp 102 juta).

ADVERTISEMENT

Untuk memudahkan pengambilan uang, petugas sempat menutup salah satu dari dua pintu masuk. Namun, saat hujan turun sekitar pukul 16.00 waktu setempat, pengunjung di luar mencoba masuk secara paksa.

Dalam situasi tersebut, terdengar tembakan peringatan ke udara dan gas air mata digunakan untuk membubarkan massa. Belum dipastikan siapa yang menggunakan gas air mata, tetapi sejumlah warga menduga tindakan itu dilakukan oleh polisi Unit Departemen Pemeliharaan Ketertiban (UDMO).

"Orang-orang saling berdesakan dan beberapa meninggal karena kehabisan napas, terutama setelah gas air mata ditembakkan," kata Perard mengutip kesaksian saksi.

Kepolisian Nasional Haiti (PNH) menyatakan telah menangkap lima petugas keamanan balai kota dan dua pegawai ISPAN terkait insiden tersebut. Hingga kini, pihak kepolisian wilayah utara dan pemerintah setempat belum memberikan keterangan lebih lanjut.

Sorotan juga mengarah ke Wali Kota Milot, Wesner Joseph. Sejumlah warga menilai pengelolaan tiket masuk oleh balai kota tidak dilakukan dengan baik.

"Balai kota memang berhak memungut biaya masuk, tetapi cara yang dilakukan tidak wajar," ujar Perard.

Kritik juga disampaikan Wali Kota Saint-Raphael, Gelin Robert Junior, yang menilai kegiatan di lokasi tersebut seharusnya tidak diizinkan. "Seharusnya kegiatan ini tidak pernah diizinkan. Balai kota bertanggung jawab atas kematian anggota keluarga saya," tegas Gelin.

Sementara itu, Joseph membantah pihaknya mengetahui adanya acara tersebut dan menyoroti keterbatasan jumlah petugas di lapangan yakni sekitar 20 polisi dan 10 petugas keamanan.

"Ia (hakim) harus memerintahkan penyelidikan agar diketahui penyebab dan pihak yang bertanggung jawab," klaim Joseph.

Citadelle Laferriere dibangun pada 1820 oleh Raja Henri Christophe dan berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Situs ini menjadi salah satu destinasi wisata utama Haiti dan biasanya ramai dikunjungi, terutama pada April yang bertepatan dengan peringatan hari jadinya.

Warga menyebut jumlah pengunjung pada 11 April jauh lebih besar dari biasanya. Sebagian bahkan telah datang sejak pukul 04.00 pagi dan beberapa pengunjung dilaporkan sudah meninggalkan lokasi lebih awal karena kesulitan bernapas akibat kepadatan sebelum insiden terjadi.




(upd/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads