Konflik di Timur Tengah membuat industri pariwisata kacau, Thailand menjadi salah satu yang terdampak. Sebulan sejak perang, Thailand sudah kehilangan turis.
Thailand kehilangan sekitar 30 persen turis pada bulan pertama setelah dimulainya perang di Timur Tengah. Operator tur mulai melihat tekanan berkelanjutan di kuartal kedua dan ketiga, seperti dikutip dari Bangkok Post pada Selasa (13/4/2026).
Bhummikitti Raktaengam, wakil ketua Dewan Industri Pariwisata Thailand (TICT), mengatakan konflik tersebut telah membuat banyak wisatawan enggan terbang, terutama dari Timur Tengah, sementara periode Ramadan, yang berakhir pada 21 Maret, juga mengurangi perjalanan ke luar negeri. Kedatangan wisatawan dari Eropa juga terpengaruh, sehingga penurunan keseluruhan mencapai sekitar 30%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan Thailand sangat bergantung pada pasar utama termasuk Tiongkok, Timur Tengah, dan Australia, tetapi segmen Timur Tengah kemungkinan tidak akan segera pulih.
Pada saat yang sama, kenaikan harga bahan bakar telah mendorong kenaikan tarif penerbangan dan biaya operasional. Ini menjadi salah satu faktor yang semakin menekan permintaan.
Meskipun terjadi perlambatan, perjalanan domestik selama Songkran diperkirakan akan tetap menjadi penyangga penting.
Bhummikitti mendesak pemerintah untuk menstabilkan harga bahan bakar dan meningkatkan sentimen perjalanan untuk mendorong warga Thailand melakukan perjalanan domestik.
"Banyak orang ragu-ragu karena pengeluaran telah meningkat tajam. Langkah-langkah membangun kepercayaan akan membantu merangsang pergerakan dan pengeluaran," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pariwisata memainkan peran kunci dalam mendistribusikan pendapatan di seluruh perekonomian. Sektor swasta telah mengusulkan langkah-langkah bantuan, termasuk meminta Airports of Thailand untuk menunda biaya bandara baru dan mencari dukungan seperti pembekuan tarif listrik.
Operator juga memperketat biaya sambil mencoba mempertahankan lapangan kerja dengan mencatat bahwa pasar penerbangan jarak pendek akan sangat penting dalam beberapa bulan mendatang, meskipun harga minyak yang lebih tinggi tetap menjadi risiko.
(bnl/wsw)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong