Pernahkah traveler membayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan seorang wisatawan selama menginap di Bali? Angkanya cukup mengejutkan: 1,2 kg per hari.
Dr. Yuki M.A. Wardhana, seorang akademisi di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa beban sampah akibat mass tourism di Bali bisa dihitung dengan metode tourist equivalent population dan guest night based waste load.
"Metode tersebut akan menhitung sampah yang dihasilkan oleh wisatawan dalam satu hari penuh, beberapa data menyebutkan rata-rata wisatawan menghasilkan sampah sebanyak 0,6-1,2 Kg per guest night. Berdasarkan kalkulasi data wisatawan di wilayah-wilayah kantong wisatawan, dapat dihitung fasilitas yang perlu disediakan," ujar Yuki saat dihubungi detikTravel, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia menggarisbawahi bahwa penyediaan tong sampah saja tidak cukup. Kunci utamanya adalah pemilahan.
"Belum ada satu pun teknologi di dunia yang bisa mengelola sampah tercampur tanpa dipilah. Jenis sampah menentukan teknologi apa yang akan digunakan," tegas Ketua Umum IESA ini.
Bali memang telah tampil di garis depan dengan penerapan Pergub No. 97 Tahun 2018, yang mengatur pembatasan limbah plastik sekali pakai. Apa yang menyebabkan plastik masih terus-menerus ditemukan di pantai dan sungai?
Yuki menyoroti kendala krusial dalam pelaksanaan kebijakan ini. Ia menegaskan bahwa larangan yang ada saat ini masih belum lengkap, karena hanya berfokus pada kantong belanja, styrofoam, dan sedotan.
Namun pada kenyataannya, penyebab utama masalah ini adalah kemasan sachet, botol minuman, dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari lainnya.
"Penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dapat diterapkan, dimana produsen harus dilibatkan mengelola sampah produknya," jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti minimnya fasilitas pembuangan sampah yang mudah dijangkau di area publik sehingga orang cenderung membuang sampah ke sungai atau pantai.
Berikut Langkah Konkrit yang Harus Dilakukan Pemerintah dalam 1-2 Tahun ke Depan:
1. Ekosistem Terintegrasi
Pengelolaan sampah tidak boleh sepotong-sepotong. Harus ada model tata kelola yang jelas dari hulu (upstream), tengah (middle stream), hingga hilir (downstream).
2. Sampah adalah Cosr
Menurut Yuki, mengelola sampah membutuhkan biaya yang sangat besar, mengandalkan anggaran dari APBD saja tidak akan cukup.
"Perlu blended finance atau kolaborasi pendanaan antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat. Ini kebutuhan mendesak mengingat kapasitas fiskal daerah yang terbatas," tuturnya.
3. Teknologi Waste to Energy (WTE)
Untuk kota padat seperti di Bali, teknologi yang mampu mereduksi volume sampah secara signifikan sangat disarankan guna menghemat lahan TPA.
4. Meniru Pendidikan Lingkungan di Jepang
Investasi jangka panjang melalui pendidikan lingkungan sejak usia dini. Metode ini terbukti berhasil di kota-kota besar dunia seperti Tokyo untuk membentuk karakter masyarakat yang sadar sampah.
"Sampah itu adalah cost (biaya). Jika Bali ingin tetap menjadi destinasi dunia, maka investasi pada sistem pengolahan sampah bukan lagi pilihan, tapi keharusan," pungkas Yuki.
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Jumlah Turis Asing Melancong ke RI Naik, Terbanyak dari Malaysia
Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung