Wisatawan Hasilkan 1,2 Kg Sampah per Hari, Ini Saran Pakar UI Atasi Krisis Sampah di Bali

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wisatawan Hasilkan 1,2 Kg Sampah per Hari, Ini Saran Pakar UI Atasi Krisis Sampah di Bali

Hans Wilhem Michelson - detikTravel
Rabu, 15 Apr 2026 16:30 WIB
Seorang warga berdiri di atas tumpukan sampah kiriman di Pantai Kuta Bali
Ilustrasi sampah di Bali (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta -

Pernahkah traveler membayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan seorang wisatawan selama menginap di Bali? Angkanya cukup mengejutkan: 1,2 kg per hari.

Dr. Yuki M.A. Wardhana, seorang akademisi di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa beban sampah akibat mass tourism di Bali bisa dihitung dengan metode tourist equivalent population dan guest night based waste load.

"Metode tersebut akan menhitung sampah yang dihasilkan oleh wisatawan dalam satu hari penuh, beberapa data menyebutkan rata-rata wisatawan menghasilkan sampah sebanyak 0,6-1,2 Kg per guest night. Berdasarkan kalkulasi data wisatawan di wilayah-wilayah kantong wisatawan, dapat dihitung fasilitas yang perlu disediakan," ujar Yuki saat dihubungi detikTravel, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ia menggarisbawahi bahwa penyediaan tong sampah saja tidak cukup. Kunci utamanya adalah pemilahan.

"Belum ada satu pun teknologi di dunia yang bisa mengelola sampah tercampur tanpa dipilah. Jenis sampah menentukan teknologi apa yang akan digunakan," tegas Ketua Umum IESA ini.

ADVERTISEMENT

Bali memang telah tampil di garis depan dengan penerapan Pergub No. 97 Tahun 2018, yang mengatur pembatasan limbah plastik sekali pakai. Apa yang menyebabkan plastik masih terus-menerus ditemukan di pantai dan sungai?

Yuki menyoroti kendala krusial dalam pelaksanaan kebijakan ini. Ia menegaskan bahwa larangan yang ada saat ini masih belum lengkap, karena hanya berfokus pada kantong belanja, styrofoam, dan sedotan.

Namun pada kenyataannya, penyebab utama masalah ini adalah kemasan sachet, botol minuman, dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

"Penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dapat diterapkan, dimana produsen harus dilibatkan mengelola sampah produknya," jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti minimnya fasilitas pembuangan sampah yang mudah dijangkau di area publik sehingga orang cenderung membuang sampah ke sungai atau pantai.

Berikut Langkah Konkrit yang Harus Dilakukan Pemerintah dalam 1-2 Tahun ke Depan:

1. Ekosistem Terintegrasi

Pengelolaan sampah tidak boleh sepotong-sepotong. Harus ada model tata kelola yang jelas dari hulu (upstream), tengah (middle stream), hingga hilir (downstream).

2. Sampah adalah Cosr

Menurut Yuki, mengelola sampah membutuhkan biaya yang sangat besar, mengandalkan anggaran dari APBD saja tidak akan cukup.

"Perlu blended finance atau kolaborasi pendanaan antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat. Ini kebutuhan mendesak mengingat kapasitas fiskal daerah yang terbatas," tuturnya.

3. Teknologi Waste to Energy (WTE)

Untuk kota padat seperti di Bali, teknologi yang mampu mereduksi volume sampah secara signifikan sangat disarankan guna menghemat lahan TPA.

4. Meniru Pendidikan Lingkungan di Jepang

Investasi jangka panjang melalui pendidikan lingkungan sejak usia dini. Metode ini terbukti berhasil di kota-kota besar dunia seperti Tokyo untuk membentuk karakter masyarakat yang sadar sampah.

"Sampah itu adalah cost (biaya). Jika Bali ingin tetap menjadi destinasi dunia, maka investasi pada sistem pengolahan sampah bukan lagi pilihan, tapi keharusan," pungkas Yuki.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads