Tren Baru di China: Turis Berburu Hotel-hotel Murah

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tren Baru di China: Turis Berburu Hotel-hotel Murah

Bonauli - detikTravel
Jumat, 17 Apr 2026 20:11 WIB
Ilustrasi hostel.
Ilustrasi (Pool)
Beijing -

Pariwisata China mulai cuan, ada peningkatan kunjungan turis yang terlihat di tahun ini. Tren baru mulai terbentuk, yaitu staycation di hotel murah.

Menurut data dari Administrasi Imigrasi Nasional China, dari Januari hingga Agustus tahun ini, 15,89 juta warga negara asing memasuki China tanpa visa. Angka tersebut mewakili 62,1% dari seluruh pengunjung asing yang masuk dengan peningkatan 52,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara total, ini berarti sekitar 25,59 juta kunjungan asing ke China selama delapan bulan pertama tahun ini, seperti dikutip dari China Travel News pada Jumat (16/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

China juga melihat arus dua arah penduduk Hong Kong yang bepergian ke utara dan pengunjung dari daratan China yang berkendara ke selatan. Hasilnya, model layanan hotel dan strategi produk kembali terlihat di seluruh wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT

Pada bulan November, di Konferensi Intelijen Digital TravelDaily China 2025 (edisi Greater Bay Area), CEO TravelDaily Charlie Li, Direktur Eksekutif dan CEO Divisi Inovasi Kelas Atas Dossen Group Wei Wu, dan Wakil Presiden Senior Operasi Regal Hotels International Qinhui Huang bergabung dalam diskusi yang berjudul "Bagaimana seharusnya hotel menyambut tamu dari semua arah di tengah booming perjalanan lintas batas?".

Diskusi tersebut membahas perubahan kebutuhan wisatawan dari Tiongkok daratan, pengunjung Hong Kong-Makau, dan wisatawan internasional, serta mengeksplorasi bagaimana hotel dapat meningkatkan produk, layanan, dan SOP untuk melayani segmen tamu yang beragam dengan lebih baik.

"Kami mengoperasikan lebih dari 2.700 hotel di seluruh negeri. Pada tahun 2024, kami menerima lebih dari 1,1 juta tamu asing, dan tahun ini jumlahnya diperkirakan mencapai antara 1,2 dan 1,3 juta. Awalnya saya berasumsi hotel-hotel kelas atas kami akan menampung lebih banyak tamu internasional, tetapi data tersebut mengejutkan kami-sebagian besar pengunjung asing justru menginap di hotel-hotel kelas ekonomi kami," ungkap Wei Wu.

Wu mencatat bahwa sebagian besar tamu asing berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan, dengan India berada di urutan teratas, diikuti oleh Thailand, Filipina, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Amerika Utara dan Amerika Selatan. Rata-rata lama menginap untuk tamu internasional relatif singkat-sekitar 1,6 hari.

Media sosial seperti TikTok menjadi salah satu platform turis menjangkau hotel-hotel tersebut. Turis dari AS, Eropa, atau Timur Tengah rata-rata datang dari rekomendasi media sosial.

"Kami telah mengeksplorasi cara memanfaatkan TikTok untuk distribusi konten. Karena video TikTok biasanya hanya berdurasi 30 hingga 45 detik, fokus kami adalah untuk menyaring nilai hotel kami dan Hong Kong ke dalam konten singkat yang ringkas dan menarik."

Untuk pembuatan konten, mereka menggunakan alat AI dan juga berkolaborasi dengan tim produksi dari mitra dan agen perjalanan. Video yang dihasilkan didistribusikan melalui TikTok, Xiaohongshu, dan saluran program mini grup hotel.

Qinhui Huang menekankan bahwa pemasaran tidak boleh hanya berfokus pada metrik output seperti jumlah penayangan. Yang benar-benar penting adalah hasilnya, apakah konten tersebut dapat mengubah perilaku pemesanan tamu. Huang beranggapan bahwa story telling dari video tersebutlah yang membuat turis datang dan membuat tren baru.

"Promosi hanya penting ketika mengubah kebiasaan," katanya.

Menurut pencarian dari berbagai sumber, harga hotel murah di China sangat bervariasi tergantung kota dan kelas bintangnya. Secara umum, turis bisa menemukan penginapan dengan harga mulai dari Rp300.000 hingga Rp900.000 per malam untuk kategori ekonomis atau bintang 3.




(bnl/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads