Seorang nelayan di Jawa Barat tanpa sengaja menemukan harta karun bernilai ratusan miliar dari kapal karam di Laut Cirebon. Inilah kisah lengkap Cirebon Wreck.
Pernahkah mendengar kisah nelayan Cirebon yang menemukan harta karun di Laut Jawa?
Cerita ini bukan sekadar legenda, melainkan peristiwa nyata yang kemudian dikenal sebagai Cirebon Wreck. Sebuah penemuan arkeologi bawah laut terbesar di Indonesia yang membuka jejak perdagangan kuno Asia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum, Cirebon Wreck merujuk pada bangkai kapal dagang yang karam di perairan Cirebon dan menyimpan ratusan ribu artefak berharga.
Kapal ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-10, membawa muatan dari wilayah China dan menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim yang melintasi Nusantara.
Awal Mula Penemuan Harta Karun
Hari sial mungkin tak pernah tercatat di kalender, begitu pula hari keberuntungan. Namun bagi seorang nelayan asal Cirebon, Jawa Barat, momen biasa di laut justru berubah menjadi penemuan luar biasa.
Melansir arsip detikTravel yang merujuk pada CNBC Indonesia dilansir Minggu (19/4), peristiwa itu terjadi pada tahun 2003, saat ia tengah mencari ikan di Laut Jawa, sekitar 70 kilometer dari pesisir.
Ketika jala diangkat, bukan ikan yang didapat, melainkan benda asing berupa keramik. Temuan ini menjadi titik awal dari penemuan besar dari kisah Cirebon Wreck yang mencatat sejarah penemuan laut terbesar di Indonesia.
Setelah laporan tersebut ditindaklanjuti, dilakukan penelitian awal yang mengindikasikan bahwa keramik itu merupakan artefak kuno. Pemerintah kemudian memberikan izin eksplorasi kepada pihak terkait untuk melakukan pengangkatan di lokasi tersebut.
Hasilnya mencengangkan, di dasar laut ditemukan bangkai kapal yang menyimpan sekitar 314.171 artefak keramik, mulai dari piring, mangkuk, hingga porselen dalam jumlah besar.
Selain itu, salah satu penelitian ilmiah mengungkap adanya sekitar 12.000 mutiara, serta ribuan permata dan emas yang ditemukan di bangkai kapal tersebut.
Penanggalan radiokarbon dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa muatan kapal berasal dari kisaran akhir abad ke-10, memperkuat dugaan usia kapal.
Secara keseluruhan, nilai harta karun ini ditaksir mencapai sekitar Rp 720 miliar.
Lebih jauh, proses pengangkatan ini melibatkan kajian arkeologi bawah laut yang cukup kompleks, termasuk dokumentasi artefak dan analisis konteks situs untuk memahami asal-usul kapal dan muatannya.
Berkaitan dengan Jalur Perdagangan China
Temuan Cirebon Wreck tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membuka wawasan penting tentang sejarah. Berdasarkan kajian arkeologi dan studi institusi seperti UNESCO terkait warisan budaya bawah laut, kapal karam seperti ini menjadi bukti kuat aktivitas perdagangan maritim kuno.
Sebagian besar artefak yang ditemukan berasal dari China, khususnya keramik yang memiliki ciri khas produksi masa Dinasti Tang yang berkuasa di periode tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kapal tersebut kemungkinan merupakan kapal dagang yang mengangkut komoditas untuk diperdagangkan di kawasan Asia Tenggara.
Nusantara, termasuk wilayah Cirebon, pada masa itu berada di jalur strategis perdagangan laut yang menghubungkan China, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah. Jalur ini sering disebut sebagai bagian dari jalur perdagangan maritim kuno atau cikal bakal Jalur Sutra Laut.
Di Mana Harta Karun Itu Sekarang?
Mengutip Majalah Arkeologi Indonesia, setelah proses pengangkatan selesai, pengelolaan artefak dari Cirebon Wreck berada di bawah pengawasan negara.
Sebagian besar temuan disimpan dan didokumentasikan melalui fasilitas milik Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, termasuk di Galeri Warisan Maritim yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan sekaligus edukasi.
Artefak yang berhasil diangkat, mulai dari keramik, mutiara, hingga benda logam berharga ditetapkan sebagai Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang secara hukum menjadi milik negara.
Penetapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh benda memiliki perlindungan hukum, serta dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan pelestarian sejarah maritim Indonesia.
Di galeri tersebut, sebagian koleksi telah melalui proses konservasi agar tetap terjaga dari kerusakan, mengingat kondisi awalnya yang terendam laut selama lebih dari seribu tahun.
Selain disimpan, artefak tertentu juga dipamerkan secara terbatas untuk memberikan gambaran kepada publik mengenai kekayaan budaya bawah laut Indonesia.
Simak Video "Video: Gali Harta Karun, 2 Orang Tewas di Antapani "
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong