Gegara Perang Timur Tengah, Turis Australia Banyak Beralih Liburan ke Bali

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Gegara Perang Timur Tengah, Turis Australia Banyak Beralih Liburan ke Bali

Fabiola Dianira - detikTravel
Senin, 20 Apr 2026 20:14 WIB
turis asing
Turis di Bali (Gede/detikTravel)
Badung -

Memanasnya perang Timur Tengah berdampak pada pola perjalanan turis Australia. Banyak dari mereka yang membatalkan liburan ke Eropa dan beralih ke Bali.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengatakan pergeseran ini sudah terlihat dalam tiga bulan terakhir, dengan wisatawan Australia tetap menjadi penyumbang kunjungan tertinggi.

"Kalau kita melihat selama tiga bulan ini, masih tertinggi oleh Australia. Jadi kami sudah prediksi, karena banyak wisatawan Australia sebetulnya yang cancel ke Eropa. Jadi itu juga bisa menambah kunjungan ke Indonesia khususnya," ujarnya Jumat (17/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak tersebut juga tercermin dari data kunjungan. Pada Maret 2026, jumlah wisatawan tercatat naik sekitar 4-5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kalau dibandingkan Maret tahun 2025 sama Maret 2026, kita ada kenaikan kurang lebih 4-5%. Jadi itu sebetulnya kondisi yang cukup bagus," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Selain faktor geopolitik, Agus menyebut daya tarik Bali bagi wisatawan Australia juga dipengaruhi faktor musim dan keunikan iklim tropis.

"Australia itu biasanya, dia kalau di daerahnya mulai musim dingin, dia pasti akan ke Indonesia. Kemudian orang Australia itu, sebenarnya di tempatnya dia itu kan banyak pilihan, tapi suasana katulistiwa itu memang tidak ditemukan di negara dia. Jadi salah satu pilihannya adalah ke Bali selain Bangkok," jelasnya.

Ia menambahkan dari sisi infrastruktur, Bangkok masih dinilai lebih unggul. Namun, Bali tetap menjadi destinasi favorit wisatawan Australia.

Saat ini, wisatawan Australia masih mendominasi kunjungan ke kawasan The Nusa Dua, disusul Rusia dan China.

Meski begitu, Agus mengingatkan pelaku pariwisata di Bali untuk tetap waspada terhadap dinamika global, termasuk kenaikan harga avtur yang dapat berdampak pada industri penerbangan.

"Jadi geopolitiknya masih berlangsung, kemudian diikuti oleh naiknya harga avtur, karena maskapai pun cukup merasa tertekan terkait dengan harga yang tinggi. Kita mesti mengantisipasi itu, tetapi kita harus optimis," ungkapnya.


--------

Artikel ini telah naik di detikBali.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads