Kisah 'Mimi Campervan' Menemukan Makna Hidup di Timur Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah 'Mimi Campervan' Menemukan Makna Hidup di Timur Indonesia

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Selasa, 21 Apr 2026 11:24 WIB
Rahmi Shofia atau dikenal Mimi Campervan saat berkeliling Indonesia
Rahmi Syofia atau dikenal Mimi Campervan saat berkeliling IndonesiaPerlengkapan Mimi Campervan berkeliling Indonesia. (Istimewa)
Jakarta -

Perjalanan Rahmi Syofia atau yang dikenal sebagai Mimi Campervan bukan sekadar menjelajah destinasi indah di Indonesia. Di balik perjalanan hampir dua tahun menyusuri Indonesia Timur, tersimpan kisah tentang pencarian makna hidup, kemanusiaan, hingga titik henti yang penuh refleksi.

Perjalanan itu dimulai pada akhir 2022, dengan campervan sederhana yang ia rakit sendiri, Mimi memulai rute panjang dari Jawa Timur menuju kawasan timur Indonesia-wilayah yang sejak awal memang ingin ia jelajahi.

"Akhir 2022 Desember atau kurang lebih 1 Januari lah atau akhir Desember 2022. Start-nya dari Malang, jadi Malang aku masuk ke Bali. Bali sebulanan lebih lah," kata Mimi kepada detikTravel beberapa hari lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Bali, roda mobilnya berlanjut ke Lombok, Sumbawa, Bima, hingga Flores dan Sumba. Ia tidak sekadar singgah, melainkan tinggal berbulan-bulan di sejumlah lokasi.

Berbeda dengan kebanyakan traveler yang memiliki rencana perjalanan jelas, Mimi justru memilih mengalir tanpa arah pasti. Ia mengikuti insting, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan hingga ke pelosok yang jarang dijangkau wisatawan.

ADVERTISEMENT

Namun, perjalanan itu tidak selalu tentang lanskap indah. Justru di tempat-tempat sederhana, ia menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.

"Ternyata masih ada yang kosong gitu. Masih ada rasa kayaknya bukan ini sih yang gue cari gitu," katanya.

Perubahan mulai terasa ketika Mimi terlibat dalam berbagai aktivitas sosial selama perjalanan. Di Lombok, ia mendaki Gunung Rinjani sambil mengumpulkan sampah hingga 10 karung. Di Bima, ia membantu membangun fasilitas dasar di desa.

Rahmi Shofia atau dikenal Mimi Campervan saat berkeliling IndonesiaMimi Campervan saat mengumpulkan sampah di Gunung Rinjani. (Istimewa)

"Ke Lombok malah saya naik Gunung Rinjani bawa ngumpulin sampah. Sampai 10 karung saya bawa turun sampah, terus ternyata ada rasa kepuasan di sana," jelasnya.

"Di Bima saya niatnya cuma singgah ke tempat kenalan baru, ternyata di sana musholanya belum ada. Musholanya cuma ada tiang doang, seng pun belum ada cuma pasir doang," ia melanjutkan.

Aktivitas sosialnya itu pun yang membuatkan menikmati setiap perjalanan yang ia tempuh. Tak cuma mengisi makna hidup dari perjalanannya, tetapi juga punya kebermanfaatan bagi masyarakat di sana.

Tak henti dengan membuat mushola tersebut tegak berdiri. Mimi juga pada akhirnya mengerjakan kebutuhan umum yang lainnya seperti lahan pengairan hingga toilet umum.

"Ternyata saya menemukan rasa kayaknya kekosongan tadi tuh mulai terisi satu per satu. Saya sadar karena ternyata mungkin ketika saya bermanfaat buat orang lain, menghubungkan saya dengan orang-orang yang membutuhkan," ucapnya.

Tak hanya itu, di Sumba ia membantu membangun rumah untuk seorang lansia yang hidup sendiri. Di mana dari penuturannya rumah lansia itu sudah tidak layak, di sana juga ia berperan untuk memperbaiki rumah lansia tersebut.

Campervan sebagai Rumah Berjalan

Mobil campervan miliknya bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi ruang berbagi. Di dalamnya, Mimi juga membawa berbagai titipan dari teman dan pengikutnya untuk disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan.

"Di mobil saya bawa tanki air, bawa mukena, bawa Al-Quran dititipin followers. Bahkan gak cuma itu, saya Islam, saya juga bawa Alkitab karena teman-teman titipkan ke saya," kata Mimi.

Rahmi Shofia atau dikenal Mimi Campervan saat berkeliling IndonesiaMimi Campervan di Timor Leste. (Istimewa)

Campervan itu menjelma menjadi jembatan antara orang-orang yang ingin berbagi dan mereka yang membutuhkan bantuan di pelosok negeri. Perjalanan Mimi bahkan melampaui batas negara. Ia sempat mencapai wilayah Timor Leste dan menjelajah Maluku Barat Daya dengan cara yang tidak biasa.

"Masuk Sumba, masuk ke Kupang, Kupang sampe ke Timur Leste. Bahkan sempet, bahkan sempet meninggalkan mobil lagi (karena akses) adi aku tinggalin aja. Aku mulai bersepeda ke Maluku Barat Daya sampe Saumlaki, Kei, Bandar Neira, Maluku," kata dia.

Perjalanan lintas pulau itu memakan waktu berhari-hari di kapal, sebelum akhirnya ia kembali mengambil mobil dan melanjutkan perjalanan.

Titik Henti di Alor

Di balik perjalanan panjang tersebut, ada momen yang menjadi titik balik sekaligus alasan Mimi menghentikan perjalanannya. Peristiwa itu terjadi di Alor, ketika ia membantu warga yang sedang dalam kondisi darurat.

Ia menceritakan bagaimana tengah malam ia diminta mengantar seorang warga ke puskesmas. Namun, perjalanan itu berakhir dengan duka.

"Waktu itu tengah malam saya tidur kan jam 01.30 WIT, saya diketok 'bisa anterin ke puskesmas nggak? Ini bapak saya sakit' katanya, kan. Terus sampai Puskesmas nggak mau turun, ternyata sesak napas dan serangan jantung mungkin ya," Mimi menceritakan peristiwa itu.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. "Saya ngerasa hidup tuh cuman gini doang loh, nggak ada yang bisa dibawa, terus saya rasa oke 'kayaknya cukup kematian yang mengingatkan saya untuk berhenti dulu'," katanya seraya merefleksikan diri.

Setelah hampir dua tahun berkeliling dan mengunjungi puluhan destinasi, Mimi akhirnya mengakhiri perjalanan episode pertamanya pada akhir 2024.

Halaman 2 dari 2
(upd/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads