Kampung Lio yang berada di Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah yang memiliki jejak sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda.
Di balik suasana pedesaannya yang kini tenang dan asri, kawasan ini menyimpan kisah penting terkait aktivitas militer pada masa penjajahan hingga perubahan sosial di masa modern. Berikut perjalanan sejarah Kampung Lio dari masa ke masa.
Kamp Latihan Militer Kolonial Belanda
Pada era kolonial, Kampung Lio digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai lokasi latihan militer. Wilayah ini dipilih karena kondisi geografisnya yang dinilai strategis, dengan kontur perbukitan, aliran sungai, serta medan yang menyerupai kondisi pertempuran sesungguhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir arsip pemberitaan detikcom, Rabu (22/4/2026), kawasan ini kerap dijadikan tempat simulasi perang. Sekitar tahun 1930-an, Kampung Lio dipilih sebagai kamp untuk persiapan menghadapi potensi konflik global menjelang Perang Dunia II.
Latihan militer tersebut melibatkan skenario pertempuran dari desa ke desa, dengan titik-titik strategis seperti Bukit Pamipiran, kaki Gunung Cipadung, hingga bantaran Sungai Cimandiri.
Salah satu latihan besar yang dilakukan adalah latihan militer 5-10 September 1929. Saat itu para perwira hanya melibatkan mobilitas dan manuver pasukan tanpa strategi, hal ini membuat para pejuang disebut dengan 'pewira salon' karena bertempur dengan strategi yang minim.
Pada November 1941, Kolonial Belanda menggelar latihan perang besar-besaran di Sukabumi. Latihan ini bahkan menjadi tontonan publik dan disaksikan oleh para pejabat seperti Bupati Sukabumi, Bupati Cianjur, serta perwira tinggi militer.
Detik-detik Pendudukan Jepang
Memasuki awal 1940-an, situasi di Hindia Belanda berubah drastis ketika Jepang mulai melakukan ekspansi militer ke wilayah Nusantara. Kampung Lio menjadi salah satu wilayah yang turut terdampak oleh situasi perang tersebut.
Pada masa ini, kawasan Sukabumi, termasuk Kampung Lio, menjadi bagian dari jalur strategis yang dilalui pergerakan militer.
Serangan udara dan tekanan perang di berbagai wilayah Jawa turut meninggalkan jejak dalam sejarah kawasan ini, menjadikannya bagian dari saksi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang pada tahun 1942.
Masa Transisi dan Warisan Sejarah Lokal
Setelah masa kolonial berakhir, Kampung Lio kembali berkembang sebagai wilayah pedesaan. Namun, jejak sejarah masa lalu tetap melekat dalam ingatan masyarakat dan lanskap wilayahnya. Keberadaan situs-situs bersejarah di sekitar kawasan Gunung Cipadung, termasuk area pemakaman tradisional seperti Makam Eyang Layung Kuning, menjadi penanda bahwa wilayah ini telah lama dihuni dan memiliki nilai historis yang kuat bahkan sebelum masa kolonial.
Kondisi Kampung Lio Saat Ini
Saat ini, Kampung Lio masih ada sebagai saksi bisu sejarah. Kampung ini dikenal sebagai kawasan perkampungan yang tenang dengan panorama alam yang masih sangat alami. Hamparan sawah, perbukitan hijau, dan aliran sungai menjadi ciri khas utama wilayah ini.
Meski demikian, kondisi geografisnya yang berada di wilayah perbukitan juga membuatnya memiliki potensi kerawanan terhadap bencana alam seperti pergerakan tanah atau longsor saat curah hujan tinggi. Hal ini menjadi perhatian masyarakat setempat dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan keamanan wilayah.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Jumlah Turis Asing Melancong ke RI Naik, Terbanyak dari Malaysia
Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung