Di Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April, mari kita belajar untuk berperang melawan sampah dari kota Tokyo, Jepang. Seperti apa sampah ditangani di Tokyo?
Tokyo merupakan salah satu Prefektur (setingkat Provinsi) di Jepang dengan jumlah penduduk 9 Juta Jiwa. Pada session-session tertentu, jumlah penduduk di Tokyo akan meningkat bersamaan dengan musim liburan.
Walaupun banyak ditempati oleh penduduk dan wisatawan, kota Tokyo sangat tertata dan bersih. Menyusuri pusat-pusat kota seperti Shibuya, Shijuku, Ginza, dan pusat kota Tokyo lainnya, kita disuguhi dengan kebersihan kota dan manajemen sampah yang baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat dan wisatawan seperti didorong secara alamiah untuk menjadi bagian dari ekosistem dalam pengelolaan sampah yang teratur dan sistematis.
Evolusi pengelolaan sampah di Jepang, termasuk kepedulian masyarakatnya terhadap pengelolaan sampah diawali dari meningkatnya jumlah sampah perkotaan yang signifikan sebagai konsekwensi dari pertumbuhan ekonomi yang pesat di periode tahun 1960-an.
Pada saat itu, Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) penuh, karena sampah yang ada tidak diolah, sehingga TPA cepat penuh. Di sisi lain lahan untuk TPA di Tokyo semakin terbatas.
Kondisi tersebut, kurang lebih sama dengan kondisi kota-kota besar di Indonesia saat ini, dimana TPA banyak yang over capacity alias melebihi kapasitas.
Berangkat dari kondisi tersebut, pada tahun 1971, muncul gerakan Waste War atau Perang Terhadap Sampah dari Pemerintah Prefektur Tokyo yang dipimpin langsung oleh Gubernur Tokyo saat itu.
Sebuah gerakan perang terhadap sampah dengan meningkatkan metode pengelolaan sampah agar sampah dapat di reduksi secara signifikan di TPA melalui metode insenarator dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sampah sejak dini.
Hasilnya, tingkat reduksi pada proses pengelolaan sampah di Prefektur Tokyo saat ini berkisar antara 90%-95%. Artinya dari 100 ton sampah yang dihasilkan hanya tersisa 5 ton setelah melalui tahapan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Pemilahan Sampah di Tingkat Rumah
Kunci reduksi sampah yang tinggi adalah pemilahan sampah di tingkat rumah hingga tempat pengolahan sampah. Kesadaran tinggi pemilahan sampah di Prefektur Tokyo diawali dengan masuknya kesadaran lingkungan ke dalam kurikulum SD sejak kelas 4 yang secara konsisten diterapkan sejak inisiasi waste war.
Indonesia sendiri berencana memasukan pendidikan lingkungan kedalam kurikulum sesuai dengan arahan Presiden Prabowo pada Puncak Hari Guru Nasional 2025 di Jakarta 28 November 2025. Semoga intruksi presiden tersebut dapat meningkatkan kesadaran dalam mengelola sampah di Indonesia.
Pemerintah kota di bawah Prefektur mempunyai pusat pendidikan lingkungan yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Salah satunya Ozenji Eco-Gurashi Kankyo Kan yang berada di Kota Kawasaki. Pusat pendidikan tersebut digunakan untuk anak-anak sekolah belajar tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Pusat pendidikan tersebut berada dalam satu komplek dengan insenerator dan fasilitas pemandian air panas yang bersumber dari insenerator sehingga anak-anak dapat melihat pengelolaan sampahnya dilakukan dengan baik.
Waste to Energy Hikarigaoka Incineration Plant yang bersih dan ramah lingkungan Foto: (dok. Yuki M.A Wardhana/Istimewa) |
Cerobong dari insenerator tersebut tidak menimbulkan asap dan minim polutan sehingga masyarakat bisa dengan nyaman tinggal di sekelilingnya. Hal ini penting untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat bahwa pemerintahnya mengelola sampah dengan ramah lingkungan.
Agar sampah dikelola dengan baik, maka sampah harus dipilah sesuai spesikasi teknologi pengelolaan sampahnya. Pada pengelolaan sampah di Prefektur Tokyo, sampah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pertama sampah yang dapat dibakar atau combustable waste, metode pengelolaan sampahnya menggunakan insenerator ramah lingkungan.
Kedua, sampah yang tidak dapat dibakar atau incombustable waste seperti alat elektronik dan barang dari logam, pengolahannya melalui Incombustible Waste Processing Center.
Ketiga, sampah besar seperti bekas lemari dan kasur yang dikelola dengan Pulverization Processing Plant for Large Size Waste. Hasilnya, sampah tereduksi hingga 95% dan hanya 5% di TPA.
Ilustrasi evolusi sampah per orang berdasarkan waktu di Ozenji Eco-Gurashi Kankyo Kan Foto: (dok. Yuki M.A Wardhana/Istimewa) |
Kondisi tersebut membawa manfaat pada umur teknis TPA yang panjang sehingga cocok untuk kota-kota besar dengan volume sampah tinggi seperti Jakarta.
Pengelolaan sampah yang besar dan efisien tentunya akan membawa dampak pada pembiayaan yang besar. Biaya pengelolaan sampah di kota-kota dibawah Prefektur Tokyo menggunakan skema blended finance, yaitu bersumber dari Prefektur, Kab/Kota, Obligasi dan pajak yang dibayarkan masyarakat.
Blended finance dipilih karena biaya investasi pengelolaan sampah sangat besar. Sedangkan untuk operasional pengelolaan sampahnya menggunakan skema Public Private Partnership (PPP).
3 Kunci Pengelolaan Sampah di Tokyo
Terdapat beberapa kunci yang dapat diambil dari pembelajaran pengelolaan sampah di Prefektur Tokyo. Pertama, pengelolaan sampah bukan bersifat parsial tapi terintrgrasi sebagai satu kesatuan sebagai ekosistem.
Kedua, biaya investasi pengelolaan dan pengolahan sampah sangat besar sehingga blended finance antara Pemerintah pusat, provinsi, kota, pelaku usaha dan masyarakat sangat diperlukan.
Ketiga, pentingnya pendidikan usia dini terhadap lingkungan dan pengelolaan sampah. Keempat, reduksi sampah dari pengolahan sampah sangat ditentukan oleh pemilhan sampah.
Provinsi dan kota-kota besar di Indonesia dapat belajar dari Prefektur Tokyo dalam mengelola sampah dengan jumlah penduduk dan pendatang yang besar.
Kota yang bersih dan tertata akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan serta membuat masyarakat dan pendatang nyaman untuk beraktifitas.
Indonesia memiliki produk pengolahan sampah yang lebih bervariasi. Berdasarkan hasil kajian IIGF Institute tahun 2024, setidaknya ada 5 produk olahan sampah yang dapat dikembangkan Indonesia berdasarkan tipologi jenis sampahnya, yaitu termal untuk listrik, RDF, biogas,dan kompos. Penentuan produk olahan sampah tersebut, tergantung dari kapasitas fiskal dan offtaker dari produk tersebut.
Saat ini, merupakan momen yang tepat untuk turning point dari pengelolaan sampah di Indonesia karena beberapa kota besar sudah darurat sampah dan terdapat komitmen Presiden Prabowo untuk memasukan pendidikan lingkungan di sekolah serta memanfaatkan sampah menjadi waste to energy atau derrivative product lainnya dari sampah.
---------
Artikel ini ditulis oleh Dr. Yuki M.A. Wardhana. Penulis bekerja sebagai Knowledge and Research Advisor IIGF Insititute.
Simak Video "Video: KLH-Pemprov Jabar Percepat Pembangunan Proyek Sampah Jadi Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)














































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Jumlah Turis Asing Melancong ke RI Naik, Terbanyak dari Malaysia
Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung