Bagi sebagian orang, gunung es mungkin hanya sekadar pemandangan menakjubkan yang terpampang di layar kaca. Namun bagi Furky Syahroni, gunung es adalah ruang belajar yang sesungguhnya.
Di lingkungan gunung es itu, ia tidak hanya mempelajari seluk-beluk teknik pendakian, tetapi juga menemukan batas kemampuan dirinya serta perubahan dalam cara pandangnya terhadap kehidupan.
Furky memulai pendakian gunung es pertamanya yang dimulai pada tahun 2019. Selama periode tersebut, ia melakukan ekspedisi ke Gunung Kilimanjaro di Tanzania.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan ketinggian yang mengesankan mencapai 5.895 meter di atas permukaan laut, Kilimanjaro lebih dari sekadar sebuah gunung.
Gunung ini merupakan titik tertinggi di Afrika dan termasuk dalam Seven Summits, yaitu puncak-puncak tertinggi di masing-masing dari tujuh benua.
Pendakian Furky ke Kilimanjaro memberikan pengalaman yang luar biasa. Terletak di zona khatulistiwa, gunung ini menampilkan variasi lanskap dan kehidupan tumbuhan yang menakjubkan.
"Selama perjalanan saya merasakan takjub melihat alam yang begitu beragam," ungkap Furky.
Ia menceritakan bagaimana indranya terpesona oleh perubahan lanskap alam, saat berpindah dari kawasan tropis yang lembap (humid) hingga zona alpine yang dingin membeku.
Bagi Furky, seorang penggemar olahraga ekstrem, pengalaman ini menandai momen penting. Ia menyadari bahwa pendakian gunung di high-altitude mountaineering (pendakian gunung tinggi) menghadirkan tantangan yang dapat dikuasai, dipahami, dan pada akhirnya dijalani sebagai hobi yang penuh passion.
Baca juga: Momen Mencekam Furky Syahroni di Gunung Es |
Namun, kekaguman itu sempat terganggu oleh rasa tidak nyaman. Furky mengenang pendakian perjalanan berat menuju puncak Kilimanjaro sebagai pengalaman yang paling menantang sekaligus paling tak terlupakan.
Saat fajar mendekat, dalam kegelapan total, Furky menghadapi tantangan menakutkan untuk menavigasi medan bersalju untuk pertama kalinya di bawah naungan malam.
"Rasa dingin yang menusuk, rasa tidak nyaman berjalan di salju malam-malam. Rasanya harus berjuang di kondisi 'asing' membuat saya struggling malam itu," tuturnya.
Momen-momen penderitaan ini sering kali menjadi titik balik bagi seorang pendaki: menentukan apakah mereka akan mundur atau, sebaliknya, justru terpesona. Meskipun rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, semangat Furky mendorongnya untuk terus melangkah.
Naik Gunung Bukan Sekadar Wisata
Setelah kembali dari Afrika, Furky menyadari bahwa kata "menyerah" telah lenyap dari kosakatanya. Namun, ada satu hal yang mengalami perubahan signifikan dalam dirinya: perspektif.
Ia menekankan bahwa mendaki gunung setinggi Kilimanjaro membutuhkan lebih dari sekadar keinginan sesaat atau gagasan sepele seperti "jalan-jalan."
"Gunung-gunung besar tidak cukup didaki dengan mindset 'wisata'. Jika ingin menuju gunung yang lebih menantang, mindset itu harus diubah," tegas Furky.
Ia menegaskan bahwa high-altitude mountaineering merupakan olahraga ekstrem yang membutuhkan latihan fisik yang matang, keahlian teknis yang mumpuni, keterampilan khusus, dan yang tak kalah pentingnya, kemampuan untuk memberi jeda pada tubuh.
Komitmen Furky telah dengan jelas membuktikan keasliannya. Tahun demi tahun, ia dengan tekun mengasah kemampuannya, yang mencapai puncaknya pada tahun 2025 dengan pendakian luar biasa ke Annapurna IV di Himalaya.
Dari Kilimanjaro hingga Annapurna, Furky telah membuktikan bahwa di balik salju beku tersembunyi hasrat yang membara untuk mengatasi egonya dan mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia.
Simak Video "Video: 4 Pendaki Wanita Dievakuasi dari Gunung Dempo karena Hipotermia-Cedera"
[Gambas:Video 20detik] (wsw/wsw)











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim