Studi: Warga Amerika Tetap Liburan di Tengah Naiknya Harga, Banyak yang Utang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Studi: Warga Amerika Tetap Liburan di Tengah Naiknya Harga, Banyak yang Utang

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Rabu, 29 Apr 2026 20:10 WIB
Ilustrasi merencanakan liburan
Ilustrasi wisatawan (Shutterstock)
New York -

Kenaikan biaya hidup di Amerika Serikat nyatanya tidak menghentikan minat warganya untuk bepergian. Di tengah tekanan inflasi, warga AS tetap mengalokasikan anggaran besar untuk liburan, bahkan mencatatkan rekor baru dalam pengeluaran perjalanan.

Analisis dari marketplace asuransi perjalanan, Squaremouth, menunjukkan rata-rata biaya perjalanan pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai 7.257 USD (Rp 116 juta). Angka itu naik 3,6% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dilakukan 23 tahun lalu.

Biaya per perjalanan juga lebih dari 1.250 USD (Rp 21 juta) lebih mahal dibandingkan periode 2017-2020. Lonjakan tersebut dipengaruhi perubahan pola perjalanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari The Independent, Rabu (29/4/2026) wisatawan kini cenderung memilih perjalanan yang lebih besar dan berbasis pengalaman seperti safari atau pelayaran ekspedisi. Selain itu, tren wisata mewah yang semakin luas juga ikut mendorong kenaikan biaya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, harga bahan bakar turut memberi tekanan. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari mendorong harga minyak mendekati level tertinggi.

Data dari International Air Transport Association menyebutkan harga bahan bakar jet di Amerika Utara hampir dua kali lipat dalam beberapa pekan setelah konflik dimulai. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada tarif penerbangan.

CEO United Airlines, Scott Kirby, mengatakan bahwa tarif tiket telah naik sekitar 15 hingga 20%. Menjelang musim liburan musim panas, harga diperkirakan masih akan tinggi.

Selain tiket, biaya tambahan juga ikut naik. Setidaknya enam maskapai menaikkan tarif bagasi untuk menyesuaikan biaya operasional. Delta Air Lines dan Southwest Airlines termasuk yang menaikkan biaya bagasi sebesar 10 USD (Rp 172 ribu) sejak konflik berlangsung.

Meski biaya meningkat, sebagian wisatawan AS tidak serta-merta mencari opsi termurah. Laporan Squaremouth mencatat 42% responden lebih memilih membatalkan perjalanan daripada harus menggunakan penerbangan dan akomodasi berbiaya rendah.

Di tengah kondisi ekonomi tersebut, muncul tren pembiayaan perjalanan dengan utang. Survei dari NerdWallet pada Maret menemukan sekitar 60% wisatawan berencana meminjam uang untuk berlibur.

Dari jumlah itu, 23% memilih menggunakan kartu kredit tanpa langsung melunasi tagihan. Sebanyak 13% memanfaatkan penarikan tunai, sementara 7 persen lainnya menggunakan pinjaman jangka pendek.

Risikonya mulai terlihat, sekitar 35% wisatawan yang membayar perjalanan pada 2025 dengan kartu kredit mengaku masih memiliki sisa tagihan hingga sekarang.




(upd/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads