Seiring dengan modernisasi yang berlangsung pesat di ibu kota, berbagai upaya serius terus dilakukan untuk melestarikan dan melindungi identitas budaya asli Jakarta. Salah satu contoh nyata dari inisiatif ini adalah Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) di Setu Babakan, Jakarta Selatan dengan Kampung Ismail Marzuki.
Kampung Ismail Marzuki diresmikan dan dibuka untuk umum sejak Jumat (13/2/2026). Kawasan baru itu menghadirkan perpaduan keindahan alam dengan pulau buatan yang tenang, sekaligus memberikan gambaran tentang masa lalu melalui replika kehidupan desa Betawi, yang mendorong pengunjung untuk merasakan esensi komunitas tradisional Betawi.
Dalam upaya untuk mengeksplorasi seluk-beluk, latar belakang, dan ambisi seputar evolusi kawasan ini, detikTravel berbincang dengan Shafrina Fauzia, yang mewakili Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riri, sapaan karib Shafrina Fauzia, menyatakan bahwa ide awal untuk Kawasan Perkampungan Budaya Betawi sebenarnya merupakan bagian dari visi yang lebih besar yang telah digagas selama lebih dari dua puluh tahun.
"Tahun 2003-2005 itu direncanakan 289 hektar area di Kelurahan Srengseng Sawah itu akan difungsikan sebagai Kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Nah, pada saat itu ada kebutuhan untuk bikin satu area di mana bisa merepresentasikan kampung Betawi pada masa dulu gitu," kata Riri kepada detikTravel di lokasi Rabu (29/4/2026).
Inisiatif ini terutama didorong oleh kebutuhan mendesak akan sebuah ruang yang secara otentik mencerminkan desa Betawi tradisional. Seiring dengan laju modernisasi, arsitektur rumah Betawi yang dulu begitu menonjol kini semakin jarang digunakan.
Sejumlah besar penduduk telah memilih untuk merenovasi rumah mereka dengan bahan-bahan kontemporer seperti dinding bata, sehingga mengurangi ciri khas asli yang dimilikinya.
"Akhirnya butuh ada satu area yang menampilkan kampung Betawi yang bisa menjelaskan nih kalau Betawi itu ada pembagian wilayahnya gitu, ada Betawi Pesisir, Betawi Tengah atau Betawi Kota, sama Betawi Pinggir," kata Riri.
Shafrina Fauzia, staf Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB). (Hans Wilhem/detikcom) |
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sebuah pulau buatan seluas beberapa hektar sengaja dibangun di tengah danau Setu Babakan yang kini dikenal dengan nama Kampung Ismail Marzuki.
Pulau ini didesain khusus agar menyerupai kawasan perkampungan tempo dulu, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Pantauan detikTravel di lokasi rumah-rumah adat Betawi yang dibangun di sana lengkap dengan elemen khas seperti ornamen gigi balang, memberikan pengalaman autentik bagi setiap pengunjung yang datang.
Mengapa "Ismail Marzuki"?
Salah satu hal yang menarik dari pulau yang memiliki luas 3,2 hektare ini adalah pemilihan namanya. Sebelumnya, area pulau buatan ini hanya dikenal secara fungsional sebagai Zona C. Namun, pada periode 2022-2023, terjadi perubahan nama yang signifikan.
Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan saat itu, yang mengeluarkan Peraturan Gubernur mengenai perubahan sejumlah nama jalan dan fasilitas umum menggunakan nama tokoh-tokoh pahlawan dan budayawan Betawi.
"Kenapa diubah? Itu bertepatan sama Peraturan Gubernur itu keluar sebagai bentuk penghargaan kepada tokoh Betawi. Makanya area-area yang dianggap 'Betawi banget' akhirnya diubahlah jadi nama tokoh-tokoh," kata Riri.
Dengan demikian, nama Kampung Ismail Marzuki dipilih sebagai bentuk penghormatan abadi kepada maestro musik dan pahlawan nasional asli Betawi yang karya-karyanya telah mengakar dalam sejarah bangsa.
Kawasan PBB Setu Babakan yang dikelola secara langsung oleh UPK sendiri terdiri dari lima zona utama, masing-masing dengan nama tokoh yang berbeda.
β’ Kampung Muhammad Husni Thamrin (sebelumnya Zona A).
β’ Kampung Ismail Marzuki (sebelumnya Zona C).
β’ Kampung KH Noer Ali, yang mencakup area SMK 74 (Sekolah Kesenian) yang baru dibuka pada tahun 2024.
β’ Kampung Abdulrahman Saleh, sebuah gedung sentra kuliner baru yang terletak di pinggir Setu Babakan.
β’ Zona Embrio.
Meskipun Kawasan Perkampungan Budaya Betawi direncanakan seluas 289 hektar, tidak seluruhnya merupakan aset yang dikelola eksklusif oleh pemerintah.
Terdapat permukiman warga yang luas dan masuk dalam kawasan pelestarian budaya ini. Untuk menjaga keselarasan estetika kawasan, pemerintah setempat memberikan arahan khusus.
"Masyarakat yang tinggal di sini diarahkan sama peraturan tersebut buat pakai ornamen atau arsitektur Betawi. Jadi walaupun punya masyarakat umum misalnya, itu memang diarahin misalnya pakai gigi balang atau pakai ornamen Betawi," jelas Riri.
Hal ini menunjukkan komitmen kolektif antara pemerintah dan masyarakat untuk merawat warisan budaya, meskipun replika kampung yang sepenuhnya dikelola oleh pemerintah baru terpusat di pulau Kampung Ismail Marzuki.
Bagi traveler yang ingin berkunjung dan menikmati keindahan Kampung Ismail Marzuki, aksesnya sepenuhnya gratis. Pulau ini beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Saat ini, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas umum yang telah disediakan:
β’ Jalur Pedestrian (Jogging Track): Area pedestrian yang mengitari pulau ini sangat nyaman dan cocok digunakan untuk jogging santai di pagi atau sore hari, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan pemandangan danau yang menenangkan.
β’ Spot Foto Menarik: Banyak sudut yang Instagramable, menawarkan kombinasi keindahan alam dan arsitektur rumah adat Betawi yang detail.
β’ Rumah Adat dan Saung: Pengunjung dapat bersantai di saung-saung yang memberikan suasana langgar khas Betawi tempo dulu.
β’ Fasilitas Pendukung: Tersedia toilet umum, musala, serta kolam ikan yang dirawat dengan baik.
Meskipun akses masuk digratiskan, pengelolaan kebersihan tetap menjadi prioritas utama. Riri mengakui bahwa menjaga kebersihan di area terbuka yang luas memiliki tantangan tersendiri, namun sejauh ini masih dapat teratasi dengan baik berkat kehadiran petugas kebersihan yang standby.
"Kalau anak kecil juga mungkin dari segi keamanan masih agak riskan. Paling di situ sih tantangannya, di keamanan area," kata Riri.
Bagi instansi pendidikan atau kelompok yang ingin mendapatkan penjelasan mendalam, UPK PBB juga menyediakan layanan pemandu wisata edukasi. Kunjungan edukasi ini harus dikoordinasikan sebelumnya dengan cara mengirimkan surat permohonan agar jadwal dapat disesuaikan.
Kampung Ismail Marzuki di Masa Depan
Saat ini, kegiatan di Kampung Ismail Marzuki berfokus pada pariwisata rekreasi dan kunjungan edukatif. UPK PBB telah menyusun serangkaian strategi yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kawasan tersebut ke depannya.
Riri mengungkapkan niatnya untuk memindahkan atau menyelenggarakan berbagai pertunjukan seni, yang biasanya digelar di teater terbuka di Kampung Muhammad Husni Thamrin, ke Kampung Ismail Marzuki.
"Terus kegiatan festival yang rutin kami laksanakan setiap tahun kayak HUT Jakarta, HUT RI, atau HUT Perkampungan Budaya Betawi ada rencana juga untuk dilaksanakan di sana," kata Riri.
Selain aktivasi seni dan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar juga menjadi agenda penting. Meskipun saat ini belum ada keterlibatan langsung dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di area pulau tersebut, Riri optimistis harapan tersebut akan segera direalisasikan seiring dengan meningkatnya aktivitas dan jumlah kunjungan.
"Mungkin ke depannya kalau kami sudah banyak melaksanakan kegiatan di sana, mungkin ada kolaborasi sama UMKM atau sama masyarakat sekitar untuk bisa jualan di sana atau yang lainnya itu mungkin ada kesempatan untuk ke arah sana," ujar dia.
Baca juga: Bernostalgia di Kampung Ismail Marzuki |
Simak Video "Video: Jalan Setu Babakan Rusak Parah, Pramono Minta Segera Perbaiki "
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)













































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal
Pendakian Berujung Maut di Gunung Dukono, Polisi Soroti Dugaan Kelalaian Guide