Indonesia Perjuangkan Ragam Kebaya Masuk UNESCO

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Indonesia Perjuangkan Ragam Kebaya Masuk UNESCO

Hans Wilhem - detikTravel
Kamis, 30 Apr 2026 21:37 WIB
Festival kebaya pertama kali di Indonesia diadakan di Banyuwangi
Ilustrasi kebaya (Putri Akmal)
Jakarta -

Kebaya memang telah tercatat di UNESCO melalui pengajuan multinasional bersama negara Asia Tenggara. Namun, kini Indonesia mendorong pengakuan yang lebih spesifik terhadap ragam kebaya Nusantara agar identitas budayanya tidak kabur.

Upaya memperkuat posisi kebaya sebagai warisan budaya Indonesia terus berlanjut. Meski telah masuk dalam daftar UNESCO secara kolaboratif, termasuk bersama Malaysia dan Singapura-sejumlah pegiat budaya menilai masih perlu ada penegasan terhadap kekayaan kebaya khas Indonesia.

Pendiri Komunitas Perempuan Indonesia dalam Kebaya, Rahmi Hidayati, menekankan pentingnya pelestarian yang melibatkan generasi muda. Menurutnya, keberlanjutan kebaya tidak bisa hanya bergantung pada generasi sebelumnya.

"Kita penting tuh ke generasi muda. Karena kalau nenek-nenek ini sudah lewat, lewat itu semua kebaya," ujar Rahmi dalam acara "Cerita Kebaya: Diskusi, Lokakarya Memakai Pakaian, dan Trunk Show" di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan berbagai inisiatif dilakukan untuk mendekatkan kebaya dengan anak muda, mulai dari diskusi hingga lokakarya penggunaan busana tradisional seperti jarik. Pendekatan itu diharapkan menumbuhkan rasa akrab sekaligus kebanggaan dalam mengenakan kebaya di kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, Rahmi bersama para aktivis budaya tengah mendorong agar lebih banyak jenis kebaya Indonesia diakui secara resmi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Langkah itu dinilai penting sebagai bentuk perlindungan budaya.

ADVERTISEMENT

"Jangan kita heboh-heboh dulu, entar mereka duluan yang sudah daftar," ujar dia.

Untuk itu, proses yang ditempuh tidak sederhana. Setiap jenis kebaya harus terlebih dahulu masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda nasional sebelum diajukan ke UNESCO. Proses itu melibatkan kajian akademis dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, serta validasi pemerintah.

Saat ini, sedikitnya tujuh jenis kebaya tengah didorong untuk mendapatkan pengakuan lebih luas, di antaranya Kebaya Basiba dari Sumatera Barat, Kebaya Kartini, Kebaya Kutu Baru, Kebaya Sunda, Kebaya Bali, hingga Kebaya Maluku yang masih dalam tahap kajian.

Keberagaman ini menunjukkan bahwa kebaya bukan sekadar busana, melainkan representasi nilai budaya yang dipengaruhi sejarah dan kearifan lokal di tiap daerah. Misalnya, kebaya di Sumatera Barat cenderung longgar dan panjang akibat pengaruh budaya Islam, sementara kebaya Jawa memiliki potongan khas seperti Kutu Baru atau model yang lebih mengikuti bentuk tubuh.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads