Kecelakaan Kereta Berulang, Akademisi Minta Perlintasan Sebidang Dihapus

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kecelakaan Kereta Berulang, Akademisi Minta Perlintasan Sebidang Dihapus

Femi Diah - detikTravel
Minggu, 03 Mei 2026 07:11 WIB
Sejumlah petugas SAR gabungan melakukan evakuasi gerbong KRL yang hancur akibat kecelakaan setelah menabrak kereta jarak jauh Argo Bromo di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan melibatk
Sejumlah petugas SAR gabungan melakukan evakuasi gerbong KRL yang hancur akibat kecelakaan setelah menabrak kereta jarak jauh Argo Bromo di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). (Pradita Utama/detikfoto)
Jakarta -

Berkaca dari kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, akademisi menilai insiden serupa akan terus berulang jika perlintasan sebidang tidak segera dihapus. Selain faktor teknis, rendahnya disiplin masyarakat dinilai turut memperbesar risiko kecelakaan.

Kecelakaan itu terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden kecelakaan tersebut terkait KRL lain yang bertabrakan dengan taksi online.

Di jalur berbeda, KA Argo Bromo Anggrek menyundul KRL. Peristiwa itu menelan 106 korban, 90 di antaranya mengalami luka-luka dan 16 lainnya meninggal dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti dan Staf Ahli dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, menyebut kecelakaan merupakan efek domino dari kejadian di perlintasan sebidang.

"Jadi mungkin terdapat beberapa faktor yang mungkin terjadi dan hal ini dipicu oleh faktor primer, yaitu mungkin karena ada taksi mati atau berhenti di perlintasan," kata Iwan dikutip dari situs resmi UGM, Minggu (3/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan bahwa meskipun kereta sudah menggunakan sistem modern seperti sistem blok, risiko kecelakaan tetap ada. Itu karena kereta, termasuk KA Argo Bromo Anggrek, tidak dapat berhenti secara mendadak.

Iwan menjelaskan kondisi tersebut diperparah oleh adanya keterlambatan informasi yang diterima masinis. Akibatnya, pengereman tidak bisa dilakukan tepat waktu karena kereta sudah terlalu dekat dengan lokasi kejadian saat informasi diterima.

Selain itu, faktor kepadatan pada lalu lintas kereta di stasiun tersebut semakin memicu terjadinya peristiwa beruntun tersebut.

Masyarakat Tidak Patuh, Jangan Ada Lagi Perlintasan Sebidang

Iwan menyebut penyebab utama kecelakaan tersebut adalah rendahnya disiplin masyarakat dalam menghadapi teknologi transportasi.

"Kesadaran masyarakat masih rendah terhadap permasalahan ini yang ditandai dengan perilaku menerobos palang pintu," kata dia.

Dia menilai masyarakat di Indonesia belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem transportasi modern. Meskipun teknologi sudah bekerja melalui palang kereta, kecelakaan tetap bisa terjadi jika pengguna jalan tidak mematuhi aturan.

"Perilaku kita itu terhadap suatu sistem yang modern itu kan juga harus berubah," kata dia.

Iwan mengingatkan agar masyarakat lebih patuh pada rambu lalu lintas, bukan menuntut sistem untuk menyesuaikan dengan ketidakpatuhan. Menurutnya, perubahan perilaku menjadi kunci dalam keselamatan transportasi modern.

Sebagai upaya pencegahan, dia menilai perlu adanya penghapusan perlintasan sebidang. Dia menjelaskan bahwa secara regulasi, perlintasan antara jalan raya dan rel kereta sebenarnya tidak diperbolehkan kecuali dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu, solusi seperti pembangunan flyover atau underpass dinilai penting agar tidak ada lagi perpotongan langsung antara kendaraan dan kereta api.

"Secara konsep itu tidak boleh ada perlintasan sebidang, kecuali terdapat kondisi tertentu," kata dia.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads