Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Femi Diah - detikTravel
Selasa, 05 Mei 2026 06:01 WIB
Dua individu anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) telah lahir di Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.
Dua individu anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) telah lahir di Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.(dok. Kemenhut)
Lampung -

Kabar gembira datang dari Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Dua ekor harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) lahir.

Kelahiran tersebut merupakan hasil perkawinan antara individu jantan bernama Kyai Batua dan betina Sinta. Keduanya merupakan satwa hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.

Kyai Batua diselamatkan oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung bersama-sama dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada 2-4 Juli 2019 di Dusun Baru Ampar, Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat dalam kondisi terjerat. Akibat luka serius pada kaki depan kanan, Kyai Batua harus menjalani tindakan amputasi pada 5 Juli 2019.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Sinta merupakan individu harimau sumatra yang diselamatkan dari Provinsi Bengkulu pada Desember 2024 dengan kondisi serupa. Sinta mengalami cedera berat akibat jerat pada saat dievakuasi ditemukan cacat pada kaki belakang kanan.

Perkawinan kedua individu tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV 2024/2025 yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).

ADVERTISEMENT

Dalam studbook harimau sumatra, Kyai Batua tercatat dengan nomor SB ID 1886 dan Sinta dengan nomor SB ID 1998. Berkat pengawasan dan pendamping yang ketat oleh tim medik veteriner Taman Satwa Lembah Hijau, diusia tiga bulan ini, anak harimau tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kelahiran dua individu harimau sumatera itu menjadi indikator positif keberhasilan pengelolaan konservasi ex situ di Provinsi Lampung. Selain itu, memperkuat upaya pelestarian spesies yang saat ini menghadapi tekanan populasi di habitat alaminya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang telah terjalin.

"Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan LK Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi harimau sumatra. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat," dikutip dari rilis Kemenhut, Selasa (4/5/2026).

Dia berharap keberhasilan itu dapat memperkuat komitmen bersama dalam upaya perlindungan satwa liar, khususnya dalam penanggulangan ancaman jerat dan perburuan ilegal yang masih terjadi.

Komisaris Utama Lembaga Konservasi Taman Satwa PT Lembah Hijau menyampaikan bahwa capaian ini merupakan wujud komitmen lembaga dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi.

"Keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil penyelamatan tetap memiliki potensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi harimau sumatra," kata dia.

Lebih lanjut disampaikan bahwa LK Lembah Hijau akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa sesuai prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) serta mendukung program konservasi populasi satwa liar.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kelahiran itu tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam aspek edukasi, penelitian, serta penguatan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian satwa liar.

Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), PKBSI, serta seluruh pihak terkait akan terus mendorong penguatan program konservasi berbasis kolaborasi, baik in situ maupun ex situ.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads