Menteri Trump Sindir Biden Usai Spirit Airlines Kolaps

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menteri Trump Sindir Biden Usai Spirit Airlines Kolaps

Femi Diah - detikTravel
Selasa, 05 Mei 2026 09:37 WIB
Spirit Airlines
Spirirt Airlines (dok spirit.com)
Jakarta -

Pernyataan tajam datang dari Menteri Transportasi Amerika Serikat (AS) Sean Duffy menyusul runtuhnya Spirit Airlines. Dia menyindir kebijakan pemerintahan di bawah Joe Biden turut membuka jalan bagi kejatuhan maskapai tersebut.

Dalam konferensi pers, Duffy mengatakan bahwa kolapsnya Spirit Airlines terjadi setelah keputusan Biden bersama mantan Menteri Transportasi Pete Buttigieg dan Departemen Kehakiman AS untuk memblokir rencana merger dengan JetBlue.

"Pemerintahan Joe Biden-Pete Buttigieg dan Departemen Kehakiman menggagalkan kesepakatan itu," kata Duffy dalam acara ABC This Week dilansir Yahoonews, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Segera setelah itu, mereka mengajukan kebangkrutan," dia menambahkan.

Pernyataan Duffy itu disampaikan setelah Spirit menghentikan seluruh penerbangan pada 2 Mei 2026 sekitar pukul 03.00. Saat itu juga, Spirit menutup pusat layanan dan loket tiket, serta memulai apa yang disebut sebagai "proses likuidasi yang tertib."

ADVERTISEMENT

Pada saat bersamaan, pejabat federal dan maskapai lain bergerak membantu penumpang yang terdampak. Duffy mengatakan penutupan tersebut membuat tidak ada lagi dukungan operasional bagi penumpang.

"Spirit tidak memiliki pesawat yang sedang terbang pagi ini," kata Duffy.

"Jika Anda memiliki jadwal penerbangan dengan Spirit Airlines, jangan datang ke bandara. Tidak akan ada yang bisa membantu Anda di sini," dia menambahkan.

Ya, Spirit Airlines resmi menghentikan operasional setelah gagal mendapatkan dukungan finansial tambahan. Maskapai itu telah dua kali mengajukan perlindungan kebangkrutan dalam setahun dan tidak mencatat keuntungan sejak 2019.

Kondisi tersebut semakin memburuk akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang dipicu konflik di Timur Tengah. Biaya operasional melonjak tajam, di saat bersamaan model bisnis tarif murah yang diandalkan Spirit tidak mampu menutup kenaikan tersebut.

Pemerintahan Trump sempat mengusulkan dana talangan sebesar USD 500 juta untuk menyelamatkan Spirit. Namun, rencana tersebut ditolak oleh kreditur, termasuk perusahaan investasi besar yang khawatir posisi utang mereka akan tergerus.

Tanpa kesepakatan, Spirit akhirnya menghentikan operasional secara total. Keputusan itu membuat sekitar 17.000 karyawan dan kontraktor. Selain itu, para penumpang kelabakan karena tidak ada kepastian penerbangan yang sudah dipesan dan kompensasi setelah layanan konsumen juga ditutup.

Kejatuhan Spirit menjadi sorotan karena maskapai itu berkontribusi menjaga harga tiket pesawat tetap rendah di pasar AS. Penutupannya berpotensi membuat tarif penerbangan meningkat, terutama di rute-rute yang sebelumnya dilayani maskapai berbiaya murah tersebut.

Maskapai lain seperti United Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, dan JetBlue Airways kini ikut menampung penumpang terdampak dengan membatasi harga tiket serta membantu pemulangan karyawan.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads