Menelusuri Jejak 'Ideal City' di Kali Besar Kota Tua

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menelusuri Jejak 'Ideal City' di Kali Besar Kota Tua

Hans Wilhem - detikTravel
Selasa, 05 Mei 2026 13:37 WIB
Jejak ideal city di tepian Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat
Jejak ideal city di tepian Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat (Hans Wilhem/detikcom)
Jakarta -

Perjalanan ke Kota Tua Jakarta kurang lengkap jika traveler hanya menjelajahi Taman Fatahillah. Cobalah berjalan sedikit lebih ke barat maka traveler bisa menemukan pesona Kali Besar, bukan sungai biasa.

Dulu Kali Besar dikenal dengan nama De Groote Rivier. Ya, sungai itu sudah ada sejak zaman kolonialisme. Gilang Ramadhan, pemandu dari Free Guided Tour UPK Old Town pada rute "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now", mendampingi detikTravel menjelajahi masa keemasan Batavia, sambil mengamati perencanaan matang yang membentuk kawasan ini pada Selasa (7/4/2026).

Pesona masa lalu terabadikan dengan jelas dan begitu menakjubkan. Arsitektur bergaya Eropa yang memukau menghiasi tepi sungai, yang kini telah direvitalisasi menjadi zona pejalan kaki yang menarik dan indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahukah detikers, bahwa Batavia dibangun berdasarkan konsep "Ideal City", yang terinspirasi dari Amsterdam di Belanda?

Para perencana kota pada masa itu membayangkan sebuah kota yang sempurna, yang mampu menahan serangan musuh, dengan mematuhi tiga kriteria utama.

ADVERTISEMENT

"Pertama, kota harus dikelilingi oleh benteng. Kedua, perumahan harus berbentuk persegi, jadi antar blok bentuknya simetris. Dan ketiga, harus ada kanal yang mengelilingi area kota untuk transportasi air," kata Gilang kepada rombongan tur.

Kanal-kanal ini memiliki fungsi lebih dari sekadar hiasan. Sama seperti di Belanda, kanal-kanal di Batavia berfungsi sebagai jalur lalu lintas yang sangat penting.

Kali Besar mengalir langsung ke muara di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kapal dagang berukuran kecil hingga menengah dapat berlayar langsung ke kota, sedangkan kapal-kapal besar bergaya galleon ditampung di pelabuhan.

Lalu lintas kapal yang ramai menjadikan Kali Besar sebagai Central Business District (CBD), yakni pusat perniagaan utama Batavia masa lampau. Mengingat reputasinya yang terhormat, pembangunan gedung-gedung di sepanjang tepi sungai harus mematuhi peraturan yang ketat.

"Di sepanjang Kali Besar dibangun gedung-gedung yang mengadopsi konsep Waterfront City. Artinya, bangunan yang ada di sekitar kali wajib menghadap ke depan atau ke arah sungai, tidak boleh membelakanginya," ujar Gilang.

Aturan ketat ini berlaku untuk bangunan komersial. Pengecualian hanya diberikan pada bangunan penunjang pusat pemerintahan seperti gereja, yang memang dirancang untuk menghadap ke alun-alun kota.

Bangunan-Bangunan Bersejarah di Kali Besar

Menyusuri jalur pedestrian Kali Besar seperti berjalan di lorong waktu. Traveler bisa melihat langsung deretan bangunan yang memiliki cerita dan fungsinya masing-masing pada masa lampau.

1. Toko Merah

Toko Merah di Kota Tua, Jakarta BaratToko Merah di Kota Tua, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

Ini adalah bangunan yang paling mencuri perhatian dengan warna merah batanya yang khas. Menurut Gilang, ini aslinya adalah mansion megah milik pejabat VOC bernama Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Bangunan ini aslinya adalah dua rumah yang disatukan, terlihat dari dua pintu utamanya. Jika ditempati dua keluarga, bagian dalamnya akan diberi partisi pembatas.

2. Gedung Eks Standard Chartered (Bank Mandiri)

museum bank mandiri kota tuaMuseum Bank Mandiri di Kota Tua Jakarta (Tommy Bernadus/d'Traveler)

Terletak di sudut jalan dengan ciri khas kubah (dome) di bagian atasnya. Dibangun sekitar tahun 1912, gedung megah ini sekarang menjadi aset Bank Mandiri-bank yang merupakan hasil merger empat bank di tahun 1998.

3. Gedung Karya Frederich Silaban

Ada fakta menarik, tidak semua gedung di sini adalah buatan Belanda. Ada sebuah gedung perbankan megah peninggalan 1950-an (pasca-kemerdekaan) yang dirancang oleh arsitek legendaris Indonesia, Frederich Silaban.

Jika diperhatikan, desainnya memang memiliki tarikan garis yang mengingatkan kita pada karyanya yang lain, yakni Masjid Istiqlal.

4. Gedung Jasa Raharja (Eks Eka Karya)

Dulu gedung ini merupakan pusat asuransi laut dan kebakaran era kolonial. Setelah merdeka, perusahaannya dinasionalisasi menjadi perusahaan negara bernama Eka Karya (cikal bakal Jasa Raharja).

5. Gedung KPP Tambora

Bangunan putih megah dari era 1800-an yang dulunya digunakan untuk perdagangan. Kini, gedung yang memanjang ke belakang ini dialihfungsikan menjadi Kantor Pelayanan Pajak.

6. Gedung Bahtera Adiguna

Sebuah bangunan kokoh yang di masa lampau berfungsi vital sebagai warehouse atau gudang perkapalan.

Kawasan Kali Besar hari ini menawarkan wisata sejarah yang memanjakan mata, sekaligus memberikan edukasi tata kota masa lampau yang luar biasa. Tertarik menikmati senja di antara gedung-gedung bersejarah yang tak lekang oleh waktu ini, traveler?




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads