Bangkok Tertibkan Trotoar, Street Food Terancam Tergusur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bangkok Tertibkan Trotoar, Street Food Terancam Tergusur

Femi Diah - detikTravel
Rabu, 06 Mei 2026 07:15 WIB
Bangkok Street Food
Street food Bangkok terancam digusur (detik)
Bangkok -

Jajanan kaki lima di Bangkok menjadi salah satu buruan turis dunia. Namun, kini budaya kuliner jalanan yang menjadi salah satu ciri khas ibu kota Thailand itu terancam.

Wajan yang berdesis dan panggangan arang berasap mengubah jalanan dan trotoar menjadi dapur terbuka sejak pagi hingga larut malam di Bangkok. Aroma bawang putih, cabai, dan daging panggang menguar dari kios dan gerobak di pinggir jalan di kota itu menjelang petang hingga larut malam.

Namun, budaya kuliner jalanan yang menjadi ciri khas Bangkok itu terancam hilang. Pengetatan aturan membuat pedagang kaki lima terancam tak bisa lagi melanjutkan rutinitasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Bangkok berupaya menertibkan trotoar, meningkatkan keteraturan, serta memindahkan pedagang dari pinggir jalan di kawasan komersial padat ke lokasi pasar yang telah ditentukan.

ADVERTISEMENT

"Saya khawatir karena kami berjualan secara ilegal," kata Looknam Sinwirakit, dikutip dari AFP, Rabu (6/5/2026).

Dia pernah didenda 1.000 baht (sekitar Rp 530 ribu) karena menghalangi jalan saat menjual kue ketan goreng seharga 50 baht di kawasan Chinatown.

Perempuan berusia 45 tahun itu mengatakan ramainya pelanggan di kawasan wisata tersebut membuatnya tetap bertahan, meski harus menghadapi risiko denda dari pemerintah kota.

"Pedagang perlu mencari nafkah. Tidak adil jika kami langsung digusur. Tapi kalau diminta pergi, kami tidak punya pilihan selain menurut," dia menambahkan.

Di lokasi yang sama, penjual durian Wong Jaidee yang telah berjualan lebih dari 20 tahun juga khawatir akan dipindahkan.

"Saya tidak punya rencana cadangan," ujar pria berusia 56 tahun itu.

"Biaya hidup di Bangkok tinggi, dan kami mungkin tidak mampu bertahan," dia menegaskan.

Merujuk data Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA), sejak 2022 jumlah pedagang kaki lima di Bangkok turun lebih dari 60 persen, atau berkurang sekitar 10.000 pedagang.

"Meski sebagian pedagang telah pindah ke pasar informal dan pusat jajanan, mengikuti model seperti di Singapura, pedagang ditempatkan di lokasi khusus, banyak lainnya justru menutup usaha karena aturan yang lebih ketat atau karena tidak lagi menguntungkan," kata pejabat BMA, Kunanop Lertpraiwan.

Pemerintah kota Bangkok mengutamakan penertiban pedagang yang berjualan di jalan utama dengan lalu lintas pejalan kaki yang padat. Sementara itu, pedagang di jalan kecil serta kawasan yang populer di kalangan backpacker dan wisatawan masih diberi kelonggaran.

"Kami memberi mereka waktu dan berkomunikasi dengan jelas," kata Kunanop.

Dia menjelaskan beberapa pedagang bahkan diberi waktu hingga beberapa bulan untuk mencari lokasi baru.

"Bukan berarti kami akan langsung memindahkan mereka besok," kata dia.

Pemerintah kota juga mendorong pedagang untuk pindah ke salah satu dari lima pusat jajanan yang telah dibuka dalam beberapa tahun terakhir. Lokasi terbaru di dekat Taman Lumphini, Bangkok.

Pusat jajanan tersebut memiliki deretan kios makanan dan meja makan. Saat ini, area itu menampung sekitar selusin pedagang yang sebelumnya berjualan di jalan sekitar.

Para pedagang didorong untuk pindah oleh BMA dan kini membayar 60 baht per hari untuk menyewa kios.

Panissara Piyasomroj, yang telah menjual mi kepada para pehobi lari pagi di taman itu sejak 2004, mengatakan bahwa pindah ke pusat jajanan membuat kondisi kerja menjadi lebih baik, termasuk kemudahan akses air dan listrik.

Berjualan di bawah atap yang melindungi dari panas, perempuan berusia 59 tahun itu menilai usahanya kini meningkat dan terlihat lebih bersih.

Namun, tidak semua pedagang merasa nyaman dengan perubahan ini. Thitisakulthip Sang-uamsap (67) yang telah berjualan gorengan sayur di dekat Chinatown selama lebih dari 40 tahun, khawatir akan dipindahkan.

"Saya tinggal di sekitar sini... jika diminta pergi, saya tidak akan nyaman," kata dia.

Thitisakulthip berharap pemerintah lebih berempati kepada pedagang lanjut usia dengan penghasilan kecil.

Sementara itu, bagi banyak wisatawan, trotoar yang ramai serta aroma cumi panggang dan berbagai jajanan menjadi daya tarik utama Bangkok. Makanan murah dan lezat yang bisa dinikmati sambil berjalan dianggap sepadan dengan kondisi trotoar yang sedikit terganggu.

Turis asal Jerman, Oliver Peter, mengatakan Thailand memiliki salah satu kuliner terbaik di dunia, dengan favoritnya Pad Thai-mi goreng khas yang mudah ditemukan di street food Bangkok.

"Akan sangat disayangkan jika mereka hilang. Ini bagian dari budaya," kata dia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Santap Nikmat Thai Cuisine Di Pusat Kota Bangkok Thailand"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads