Paus Sperma Raksasa Terdampar di Pantai Jembrana, Berakhir Mati Kehabisan Udara

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Paus Sperma Raksasa Terdampar di Pantai Jembrana, Berakhir Mati Kehabisan Udara

I Putu Adi Budiastrawan - detikTravel
Kamis, 07 Mei 2026 18:08 WIB
Paus sperma terdampar di Pantai Nusasari, Jembrana, Bali.
Paus sperma terdampar di pantai Jembrana (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana -

Paus sperma raksasa ditemukan terdampar di pesisir Pantai Desa Nusasari, Jembrana, Bali. Warga pun langsung menyerbu lokasi terdamparnya paus itu.

Terdamparnya paus sperma ini pertama kali diketahui warga sekitar pukul 15.30 Wita. Saksi mata melihat ada sebuah benda besar bergerak-gerak di pinggir laut sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Mamalia laut berukuran besar itu ditemukan dalam kondisi masih hidup. Saat air laut surut, hewan raksasa itu kemudian terdampar dengan posisi kepala menghadap ke laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Paus tersebut ditemukan pertama kali oleh warga yang melihat ada ikan besar mengibas-ngibaskan ekornya di pinggir laut," ungkap Kapolsek Melaya Kompol I Ketut Sukadana saat dikonfirmasi.

Namun, seiring air laut yang surut drastis, paus tersebut akhirnya dinyatakan mati pada pukul 16.00 Wita karena kondisinya sepenuhnya kandas di daratan.

ADVERTISEMENT

Proses nekropsi terhadap bangkai paus sperma pun dilakukan untuk mencari penyebab kematian satwa raksasa itu. Relawan dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI), drh. Abdullatif Muhammad, menjelaskan proses nekropsi baru bisa dilakukan Rabu (6/5) siang lantaran terkendala pasang surut air laut.

"Yang dinekropsi itu paus sperma jenis kelamin betina dengan panjang 17 meter. Karena kemarin terkendala air pasang, baru siang tadi bisa dilakukan dan sampai sore ini belum selesai," ungkap Abdullatif saat ditemui di lokasi, Rabu (6/5).

Abdullatif membeberkan beberapa dugaan awal penyebab kematian paus tersebut. Sebagai mamalia laut, paus membutuhkan air untuk menopang organ tubuhnya.

Saat terdampar di perairan dangkal, dapat terjadi crush syndrome, yakni organ dalam paus tertarik gravitasi karena tidak ada lagi daya apung dari air.

"Dugaan kedua, paus bernapas dengan blow hole (lubang hidung) di bagian atas. Saat terdampar dan badan terombang-ambing, lubang pernapasan itu bisa kemasukan air, sehingga paus tersebut mengalami kondisi seperti tenggelam," papar Abdullatif.

Untuk memastikan penyebab pastinya, tim medis telah mengambil lebih dari 20 sampel, mulai dari organ dalam hingga kulit, untuk diuji di laboratorium, termasuk tes DNA.


--------

Artikel ini telah naik di detikBali, bisa dibaca selengkapnya di sini dan di sini.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads