Mengenal Fafaru, Kuliner Berbau Menyengat tapi Enak Khas dari Tahiti

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mengenal Fafaru, Kuliner Berbau Menyengat tapi Enak Khas dari Tahiti

Hari Suroto - detikTravel
Jumat, 08 Mei 2026 19:31 WIB
Ombak di Teahupoo, Tahiti
Ilustrasi Tahiti (Getty Images)
Papeete -

Tahiti, pulau terbesar di Polinesia Prancis, punya kuliner khas bernama Fafaru. Baunya menyengat, tapi rasanya konon enak.

Tahiti di Pasifik Selatan adalah destinasi yang menakjubkan dengan gunung berapi, air terjun, dan pantai berpasir hitamnya. Selain itu, Tahiti juga menawarkan pengalaman bersantap kuliner ekstrim.

Fafaru adalah salah satu hidangan paling populer di Kepulauan Tahiti. Namun, sebagian besar traveler tidak pernah mencobanya karena baunya yang sangat menyengat dan tidak sedap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi rasanya sama sekali berbeda 180 derajat dengan baunya yang menyengat. Fafaru malah dikenal memiliki rasa yang sedikit manis dan lembut.

Fafaru adalah hidangan tradisional Polinesia Prancis yang unik. Hidangan ini terdiri dari irisan ikan mentah, biasanya tuna, tetapi banyak yang lebih suka menggunakan haura (ikan pedang/swordfish/todak), yang lebih awet.

ADVERTISEMENT

Ikan itu lalu direndam dalam larutan air laut yang difermentasi dengan kepala udang air tawar lokal. Keistimewaannya terletak pada aromanya yang kuat seperti ikan busuk.

Udang yang dihancurkan direndam dalam toples kaca berisi air laut. Kemudian sebaiknya rendaman udang itu diletakkan di bawah sinar matahari selama dua atau tiga hari.

Campuran tersebut kemudian disaring, dan irisan tuna dibiarkan dalam cairan tersebut untuk difermentasi selama tiga hingga delapan jam, tergantung pada rasa yang diinginkan.

Bagi para penikmat kuliner, fafaru adalah hidangan istimewa. Paling enak disantap dengan mitihue (saus santan fermentasi), talas, ubi jalar, dan 'uru (buah sukun).

Mitihue adalah bumbu tradisional yang terbuat dari santan fermentasi. Prosesnya dimulai dengan mengekstraksi santan dari kelapa parut, yang kemudian dibiarkan berfermentasi secara alami selama beberapa hari.

Selama proses fermentasi, santan akan mengental dan mengembangkan rasa asam yang sedikit tajam yang khas untuk mitihue.

Fafaru sering disajikan untuk acara makan khusus dan perayaan di Tahiti. Tetapi, sekarang banyak keluarga di Tahiti juga menyiapkan fafaru untuk makan siang hari Minggu mereka.


-------

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads