Erupsi Gunung Dukono tidak hanya menjadi perhatian media Indonesia, tetapi juga media internasional. Sejauh ini, media asing melaporkan mengenai peristiwa alam itu dan korban jiwa, termasuk pendaki asing.
Gunung Dukono mengalami erupsi pada Jumat (8/5/2026), sekitar pukul 07.41 WIT. Gunung api aktif di Pulau Halmahera itu memuntahkan kolom abu vulkanik hingga sekitar 10 kilometer ke udara, disertai dentuman keras dan hujan abu di sekitar kawasan gunung.
Saat erupsi terjadi, sebanyak 20 pendaki, terdiri dari warga Indonesia dan Singapura, sedang berada di jalur pendakian menuju area kawah melalui jalur Desa Mamuya, Kecamatan Galela. Sebanyak 17 pendaki dinyatakan selamat dan tiga orang meninggal dunia. Korban tewas terdiri dari dua warga Singapura dan satu pendaki asal Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung membuat proses evakuasi berlangsung sulit karena tim SAR harus menghadapi medan terjal, hujan, dan lontaran material vulkanik.
Insiden itu menjadi sorotan internasional. Selain kejadian erupsinya, media-media itu juga melaporkan tentang para pendaki yang memasuki kawasan yang berstatus zona larangan atau "OB/No-Go Zone".
Ya, aktivitas pendakian Gunung Dukono ditutup sejak 17 April 2026. Pemerintah melarang aktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah Malupang Warirang karena peningkatan aktivitas erupsi.
Di antara media internasional yang melaporkan adalah Associated Press (AP). AP menyebut bahwa ada pendaki yang terjebak saat Gunung Dukono mengeluarkan abu vulkanik yang tebal hingga hingga proses evakuasi yang berisiko tinggi.
AP juga menyebut bahwa Indonesia berada di kawasan "Ring of Fire", wilayah dengan aktivitas vulkanik paling aktif di dunia. AP juga menunjukkan simpati terhadap korban sekaligus peringatan tentang bahaya mendaki gunung aktif. AP juga menegaskan bahwa para pendaki naik meski ada larangan resmi dari otoritas vulkanologi Indonesia.
The Guardian mengunggah artikel dengan judul "Three hikers dead after Indonesia's Mount Dukono volcano erupts" berfokus pada fakta bahwa para pendaki berada di "no-go zone" atau area terlarang ketika erupsi terjadi. Pemberitaan The Guardian cenderung reflektif dan menekankan risiko mendekati gunung api aktif.
Sky News bahkan mengaitkan tragedi itu dengan fenomena wisata demi konten media sosial. Dalam laporan berjudul "Mount Dukono erupts: Three hikers 'creating online content' killed on Indonesia volcano" disebut beberapa pendaki diduga mendekati kawah untuk membuat konten online sebelum erupsi terjadi.
Al Jazeera mengambil angle regional dan keselamatan publik. Media ini menyoroti bahwa kawasan Dukono sebenarnya sudah ditutup sejak 17 April akibat peningkatan aktivitas vulkanik, tetapi pendaki tetap masuk ke area tersebut.
Sementara media regional seperti Malay Mail dan media Singapura banyak memberi perhatian pada nasib warga Singapura yang menjadi korban, termasuk bantuan konsuler dan proses pemulangan jenazah.
The Sun menyajikan peristiwa itu dengan lebih bombastis. Judul-judulnya menonjolkan kata-kata seperti "deadly eruption", "massive ash cloud", atau "urgent search mission". The Sun melengkapi artikel dengan visual dan efek dramatis, juga menyebut kemungkinan korban bertambah.
Sementara itu, SAR Ternate, Maluku Utara secara resmi menutup operasi pencarian dan evakuasi terhadap 20 pendaki yang menjadi korban erupsi Gunung Dukono. Operasi evakuasi berakhir setelah tim penyelamat berhasil menemukan dan membawa turun jasad dua pendaki warga singapura pada Minggu (10/5) sore.
"Sekarang proses operasi pencarian sudah resmi dihentikan setelah semua korban meninggal berhasil dievakuasi. Tim evakuasi semuanya sudah turun dari lokasi kejadian," kata Kepala SAR Kota Ternate, Iwan Ramdani, dikutip dari detik Sulsel.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha