Pernahkah traveler membayangkan bahwa kawasan Kuningan, yang kini dipenuhi gedung pencakar langit menjulang tinggi, pernah hampir menjadi lokasi Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Juga ada kisah tentang kebersihan kawasan itu.
Sejarawan JJ Rizal mengungkap perspektif berbeda mengenai sejarah jantung ibu kota pada sesi talkshow di acara Pencanangan HUT ke-499 Tahun Jakarta, yang berlangsung di Pedestrian Plaza Festival Minggu (10/5/2026).
Kawasan Kuningan sarat dengan warisan visi ambisius Bung Karno, pengaruh budaya Mantan Gubernur Ali Sadikin, serta filosofi mendalam yang terkandung dalam nama pahlawan wanita, HR Rasuna Said.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah ini bermula dari atas helikopter. Bung Karno, bersama arsitek kesayangannya, Frederich Silaban, terbang mencari lahan untuk pembangunan GBK. Awalnya, pilihan Bung Karno jatuh pada kawasan Kuningan. Namun, Silaban tidak setuju dan menganggap kawasan Senayan jauh lebih cocok.
Sejarawan JJ Rizal dalam talk show perayaan HUT DKI Jakarta ke-499 di Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Minggu (10/6/2026). (Hans Wilhem) |
"Nah, ini kan dulu Kuningan jadi enggak dipakai buat apa-apa ya? Jadi Soekarno kemudian bilang, 'Oh, saya punya gagasan agar Kuningan ini menjadi kawasan yang merupakan manifestasi dari Dasasila Konferensi Asia Afrika, kawasan internasional,'" kata Rizal.
Tidaklah mengherankan jika kini kita menjumpai banyak kedutaan besar dan jalan raya yang dinamai sesuai dengan tempat-tempat dengan nama dari negara jauh, seperti Casablanca, di wilayah ini.
Pembangunan fisik Kuningan mengalami momentum yang signifikan selama masa jabatan Gubernur Ali Sadikin. Memahami bahwa sebuah kota lebih dari sekadar struktur beton, gubernur yang dikenal kontroversial itu memperkaya lanskap perkotaan dengan mendirikan Pusat Perfilman Usmar Ismail dan Gelanggang Remaja, yang kini dikenal sebagai Soemantri Brojonegoro.
Rizal mengamati bahwa Kuningan secara historis menunjukkan esensi 'maskulin' yang menonjol, yang ditandai dengan lanskap aspal dan beton abu-abunya. Dalam upaya menciptakan keseimbangan, Gubernur Ali sengaja menamai jalan utama di kawasan ini untuk menghormati HR Rasuna Said.
"Kenapa dikasih nama jalan Rasuna Said? Karena mayoritas jalan protokol di Jakarta itu laki-laki," kata Rizal.
Sejarawan JJ Rizal dalam talk show perayaan HUT DKI Jakarta ke-499 di Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Minggu (10/6/2026). (Hans Wilhem) |
Pemilihan nama ini mencerminkan esensi feminim yang mengingatkan pada seorang ibu yang merawat keluarganya, mengatur lingkungannya, dan menjaga rumahnya tetap rapi dan bersih.
Filosofi 'ibu' sangat erat kaitannya dengan istilah 'resik', yang berarti bersih. Menjelang peringatan 500 tahun Jakarta, komitmen terhadap kebersihan tercermin dengan jelas dalam Deklarasi Gerakan Pilah Sampah.
Bagi pendiri buku Komunitas Bambu itu, menjaga kebersihan Kuningan bukan sekadar urusan lingkungan, tapi juga soal menjaga marwah sang tokoh pahlawan.
"Kalau misalnya kawasan Rasuna itu enggak bersih, artinya dia durhaka terhadap ibunya sendiri, Ibu Rasuna Said," ujar dia.
Saat kita menatap masa depan, salah satu tantangan besar yang dihadapi wilayah Kuningan adalah perubahan iklim. Saat ini, Jakarta hanya memiliki 10% ruang terbuka hijau, jauh di bawah target ideal sebesar 35% hingga 37%.
Talkshow itu juga dihadiri oleh tokoh-tokoh ternama seperti Maudy Koesnaedi, Afif Xavi, dan Jerhemy Owen, menjadi pengingat bagi warga Jakarta bahwa mengubah Kuningan menjadi kota hijau dan internasional adalah pendekatan ideal untuk menghormati sejarahnya sambil menatap masa depan.
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha