Jejak Sungai Purba Waduk Brigif, Dijamin Nggak Jumpa Beton Melulu

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jejak Sungai Purba Waduk Brigif, Dijamin Nggak Jumpa Beton Melulu

Hans Wilhem - detikTravel
Kamis, 14 Mei 2026 18:15 WIB
Waduk Brigif dimanfaatkan warga sebagai ruang terbuka. Selain pengendali air, kawasan ini menjadi tempat aktivitas dan interaksi sosial.
Waduk Brigif dimanfaatkan warga sebagai ruang terbuka. Selain pengendali air, kawasan ini menjadi tempat aktivitas dan interaksi sosial.(Muhammad Firman/detikFoto)
Jakarta -

Di Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebuah waduk dibangun sebagai destinasi warga sekitar, Waduk Brigif. Siapa sangka itu adalah bagian dari sebuah sungai purba.

Kawasan itu telah berkembang melebihi fungsi utamanya, yakni sebagai penanggulangan banjir. Kini, Waduk Brigif juga digunakan sebagai pusat pendidikan yang dinamis dan destinasi olahraga warga.

detikTravel baru-baru ini mengunjungi waduk itu dan berbincang dengan Ahmad Maulana, yang akrab disapa Bang Apur (55). Pria paruh baya itu salah satu warga di sana, juga seorang aktivis lingkungan yang tanpa pamrih mengabdikan waktunya untuk mengawasi kelestarian waduk tersebut menurut penuturan beberapa warga sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan banyak waduk yang tersebar di seluruh Jakarta, yang sering kali ditandai dengan dinding betonnya yang kaku, Waduk Brigif menonjol dengan desainnya yang ramah lingkungan. Apur menekankan bahwa kawasan ini memiliki nilai ekologis yang cukup besar yang berasal dari sejarah alamnya.

"Ini sebetulnya Sungai Purba awalnya. Lembah purba. Yang mentok sana itu Sungai Krukut," ujar Apur saat ditemui di lokasi, Jumat (1/5/2026).

ADVERTISEMENT
Ahmad Maulana atau Bang Apur, warga Jagakarsa, peduli lingkungan Waduk Brigif.Ahmad Maulana atau Bang Apur, warga Jagakarsa, peduli lingkungan Waduk Brigif. (Hans Wilhem/detikcom)

Konsep tanpa beton (naturalisasi) yang diterapkan di sini memungkinkan air meresap dengan lebih alami ke dalam tanah. Tak hanya soal teknis pengairan, waduk ini juga menjadi rumah bagi berbagai habitat flora dan fauna yang jarang ditemui di tengah kota.

"Konsepnya apik buat gue. Tidak dengan beton, jadi memang meresap. Ini satu lahan untuk edukasi yang luar biasa," kata dia.

Warga Jakarta Selatan memanfaatkan kawasan Waduk Brigif sebagai lokasi favorit untuk ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa. Aktivitas sore hari di waduk ini tak hanya menjadi ajang menunggu azan magrib, tetapi juga tempat bersantai dan berolahraga bagi masyarakat sekitar.Warga Jakarta Selatan memanfaatkan kawasan Waduk Brigif (Muhammad Firman Maulana/detikcom)

Sejak diresmikan Gubernur Anies Rasyid Baswedan pada 4 Oktober 2022, Waduk Brigif telah menjadi destinasi wisata olahraga yang digemari oleh masyarakat setempat.

Jalur pejalan kaki yang mengelilingi perairan yang tenang, dengan pemandangan hamparan hijau yang asri, menjadi daya tarik utama bagi para penggemar jogging. Apur mencatat bahwa pada hari libur, jumlah pengunjung bisa meningkat secara signifikan.

"Cuaca baik, pagi bisa ribuan (orang). Sore juga begitu," kata dia.

Daerah ini menarik pengunjung tidak hanya dari kalangan warga Jagakarsa, tetapi juga diminati pengunjung dari jauh. Sejumlah besar pengunjung dari luar wilayah setempat tertarik ke Waduk seluas 10 hektare ini. Mereka melakukan beragam aktivitas, sekadar duduk-duduk hingga memancing.

Warga Jakarta Selatan memanfaatkan kawasan Waduk Brigif sebagai lokasi favorit untuk ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa. Aktivitas sore hari di waduk ini tak hanya menjadi ajang menunggu azan magrib, tetapi juga tempat bersantai dan berolahraga bagi masyarakat sekitar.Warga Jakarta Selatan memanfaatkan kawasan Waduk Brigif (Muhammad Firman Maulana)

Pantauan detikTravel terdapat jembatan mencolok yang membentang di atas waduk telah menjadi destinasi populer bagi warga, yang berbondong-bondong datang ke sana untuk berfoto atau menikmati suasana sekitarnya.

Pesona Waduk Brigif menarik banyak pengunjung, tetapi masalah serius tetap ada yaitu adanya sampah. Apur menekankan peran penting kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan kawasan ini, dengan tujuan mencegah penambahan beban pada krisis sampah Jakarta.

Dia berharap agar pengunjung Waduk Brigif memandang diri mereka bukan sekadar sebagai penikmat fasilitas, melainkan sebagai pecinta alam.

"Harus ada titik sadar. Mereka bukan hanya sekadar jadi penikmat, tapi juga jadi pencinta. Kalau kita cinta, kita pasti jaga," kata Apur.

Infografis Waduk Brigif di Jagakarsa, JakselInfografis Waduk Brigif di Jagakarsa, Jaksel. (Sumber: data didapatkan dari hasil wawancara, infografis diolah dengan bantuan AI.) (dok. detikTravel)

Waduk Brigif membuktikan bahwa ruang publik yang dikelola dengan konsep ekologis dapat memberikan dampak ganda, yakni sebagai pengendali banjir bagi daerah sekitarnya seperti Ciganjur, sekaligus sebagai ruang sosial yang sehat bagi masyarakat.

Bagi traveler yang ingin mencari suasana tenang, menghirup oksigen lebih banyak, atau sekadar berlari pagi di akhir pekan, Waduk Brigif di Jagakarsa adalah jawaban yang tepat. Buka setiap hari pukul 07.00-17.00. Bahkan masih terdapat beberapa pengunjung hingga malam.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads