Motayok merupakan tradisi pengobatan yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Motayok berupa ritual tarian untuk mengobati orang sakit dengan bantuan roh leluhur melalui bolian.
Saat melakukan ritual motayok, bolian menari diiringi musik gimbal (gendang) dan golantong (gong), bolian didampingi oleh seorang yang disebut mokokapoi untuk memanggil roh, dan dua orang monenden yang bertugas menyanyi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat tiga jenis penyakit yang dapat diobati yaitu takit kon bonu baloy (penyakit yang didapat dalam rumah), takit kon dalan (penyakit yang didapat diperjalanan), takit kon kayuon (penyakit yang didapat dalam hutan).
Pelaksanaan ritual ini, sebelumnya didahului dengan penyiapan bahan-bahan makanan untuk sesajen serta bahan-bahan lainnya. Sesajen, diantaranya makanan berupa ayam kampung utuh yang dimasak dengan rempah-rempah, telur ayam, beras ketan yang dibungkus daun woka dan beras yang dibungkus daun nasi (keduanya dimasak dalam bambu).
Semua bahan-bahan sesajen tersebut dibungkus dalam empat daun woka berukuran besar. Bahan-bahan lainnya yaitu buah pinang dan rempah-rempah daun yang ditaruh dalam wadah anyaman.
Setelah semua bahan sesajen siap, dilanjutkan dengan alat musik gimbal dan golantong dibunyikan oleh pemain musik, kemenyan dibakar, mokokapoi mulai memanggil roh leluhur, bolian mulai menari, mantra-mantra penyembuhan dinyanyikan oleh bolian dan dua orang monenden.
Dahulu, ritual motayok dimainkan selama tiga hari tiga malam dan hari terakhirnya disebut tabangan atau penutup, roh leluhur keluar dari bolian kembali ke alam asal.
Saat ini, tradisi pengobatan tradisional motayok ini sudah sangat jarang diketahui oleh generasi muda, karena sistem pengobatan modern yang semakin maju membuat masyarakat menganggap tradisi ini hanyalah takhayul dan mitos. Traveler masih dapat menyaksikan motayok di Desa Tudu Aog, Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow.
---
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha