Bayi Panda Satrio Wiratama Bisa Dijenguk di Taman Safari Mulai 30 Mei

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bayi Panda Satrio Wiratama Bisa Dijenguk di Taman Safari Mulai 30 Mei

Hans Wilhem Michelson - detikTravel
Sabtu, 16 Mei 2026 07:07 WIB
Seekor bayi panda bernama Satrio Wiratama menikmati bambu saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Istana Panda, Taman Safari Indonesia (TSI)
Bayi panda bernama Satrio Wiratama di Taman Safari Indonesia (Gilang Faturahman/detikfoto)
Bogor -

Kabar gembira bagi para pecinta satwa. Bayi panda bernama Satrio Wiratama yang gemoy bisa dijenguk di Taman Safari mulai 30 Mei 2026 mendatang.

Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor akan memperkenalkan anggota barunya, seekor bayi panda raksasa bernama 'Satrio Wiratama' kepada publik.

Keberhasilan pembiakan spesies langka dari China ini menandai pencapaian yang signifikan dan tonggak penting bagi upaya konservasi satwa di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sesi media update, tim medis Taman Safari terlihat sangat teliti dalam merawat bayi panda tersebut, dengan fokus penuh pada pertumbuhan dan perkembangannya.

Para dokter hewan dan penjaga yang bertugas mengenakan seragam medis hijau steril lengkap, termasuk masker dan penutup kepala, saat mereka melakukan pemeriksaan terhadap Satrio.

ADVERTISEMENT
Seekor bayi panda bernama Satrio Wiratama menikmati bambu saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Istana Panda, Taman Safari Indonesia (TSI), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/5/2026).Bayi panda yang akrab disapa Rio atau Liao tersebut merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia.Seekor bayi panda bernama Satrio Wiratama menikmati bambu saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Istana Panda, Taman Safari Indonesia (TSI), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/5/2026).Bayi panda yang akrab disapa Rio atau Liao tersebut merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia. Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Pemeriksaan tersebut berlangsung di dalam ruang perawatan berdinding kaca yang dirancang khusus, yang dikenal sebagai inkubator, di mana bayi panda tersebut dengan bulu hitam-putih tebalnya yang mulai tumbuh, diamati bersama koleksi mainan panda berbulu.

Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, mengungkapkan bahwa panda memiliki daya tarik yang luar biasa, dengan basis penggemar global yang besar.

Ketika seekor bayi panda lahir, orang-orang dari berbagai negara, termasuk Korea dan Jepang, berbondong-bondong datang dalam jumlah besar untuk melihatnya. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, panda cenderung ceroboh dan teledor.

"Dan salah satu kelucuan panda itu adalah teledor gitu ya. Jadi kalau tidur kepalanya kadang di bawah, kadang jatuh sendiri, kadang ngguling," ungkap Aswin kepada awak media di Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sifat inilah yang menjadi tantangan utama alias pekerjaan rumah (PR) bagi tim dokter hewan yang dipimpin oleh Drh. Bongot Huaso Mulia untuk memastikan keamanan eksibit atau kandang pajang.

Berbeda dengan panda dewasa yang tidak masalah jika terjatuh dari ketinggian 1 hingga 1,5 meter, bayi panda membutuhkan proses belajar yang sangat bertahap.

"Kita coba dulu yang (ketinggian) 80 sentimeter, 90 sentimeter supaya dia tahu kalau jatuh itu rasanya apa, gimana, terus mereka belajar," jelas Aswin.

Program pembiakan Satrio oleh TSI pun menuai pujian dari berbagai pihak. Vice President Life Science Taman Safari Indonesia, Dr. Bongot Huaso Mulia menyebut tanggapan dari pihak China sangat positif terkait pencapaian ini, sekaligus mengakui dedikasi TSI dalam pembiakan spesies endemik mereka.

Nama 'Satrio' diberikan pada Desember lalu ketika Presiden Indonesia, Prabowo Subianto menjamu anggota parlemen China yang terkemuka.

Dr. Bongot menjelaskan tantangan dalam pembiakan panda salah satunya adalah makhluk-makhluk ini sangat individualis dan cenderung menghindari hidup berkelompok. Pencarian pasangan secara inheren menghadirkan tantangan yang signifikan, bahkan di habitat aslinya.

"Apalagi lembaga konservasi seperti kita yang hanya diberi sepasang gitu. Jadi cowoknya nggak bisa milih cewek gitu kan ya. Jadi kalau memang nggak suka ya nggak suka gitu," terang Bongot.

Menanggapi masalah ini, TSI melakukan penelitian menyeluruh mengenai inseminasi buatan. Proses ini membutuhkan kerja sama tim yang erat di antara para ahli dari berbagai negara, termasuk Eropa, China, dan Indonesia, guna mengembangkan teknik inseminasi yang paling efektif.

Kapan Pengunjung Taman Safari Bisa Menjenguk Satrio?

Bagi traveler yang ingin menyaksikan tingkah laku menggemaskan Satrio Wiratama, TSI telah mengatur jadwal kunjungan publik secara rutin.

Penerapan pembatasan ini sangat penting, karena panda muda ini berisiko terjatuh, memakan akar rumput atau tanah yang berbahaya, serta sangat rentan terhadap virus dan bakteri.

"Nanti untuk publik sendiri kita mendorong untuk di akhir bulan nanti di tanggal 30 untuk sudah bisa dilihat berkala oleh publik. Walaupun mungkin tidak bisa sepanjang hari ataupun ada di luar dan sebagainya, karena sekali lagi itu membutuhkan waktu untuk training," ujar Bongot.

Selama masa orientasi awal pada tanggal 30 Mei, Panda yang akrab disapa Rio atau Li Ao diperkirakan hanya akan tampil sebentar, sekitar 2 hingga 3 jam setiap hari.

Pihak pengelola optimis bahwa pada bulan Juni dan Juli, bayi panda yang menggemaskan ini akan siap menyambut hangat semua pengunjung Taman Safari selama masa liburan mereka.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads