Turis ke Piala Dunia 2026 Meningkat, tapi Tuan Rumah Cuan atau Tidak Ya?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Turis ke Piala Dunia 2026 Meningkat, tapi Tuan Rumah Cuan atau Tidak Ya?

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Minggu, 17 Mei 2026 07:11 WIB
Suasana semarak menyelimuti lingkungan Alvorada di Kota Manaus, negara bagian Amazonas, Brasil, saat warga mulai menghias kawasan permukiman mereka untuk menyambut Piala Dunia FIFA 2026, Sabtu (9/5/2026). REUTERS/Bruno Kelly
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (REUTERS/Bruno Kelly)
Jakarta -

Permintaan perjalanan internasional selama Piala Dunia 2026 di tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksikom meningkat belakangan ini. Namun, dampak ekonomi dari ajang sepakbola terbesar sejagat itu diperkirakan tidak bakal merata di semua kota tuan rumah

Laporan gabungan dari The Data Appeal Company, Mabrian, dan PredictHQ sejauh ini Meksiko mencatat pertumbuhan permintaan perjalanan paling stabil. Sementara itu, AS mengalami lonjakan tajam minat kunjungan pada kuartal pertama tahun ini. Adapun, Kanada menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi tetap konsisten.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di level kota, permintaan wisatawan paling banyak mengarah ke destinasi utama seperti Boston, Mexico City, dan Vancouver. Sedangkan New York masih menjadi salah satu magnet utama wisata global.

Melansir Euronews, Minggu (17/5/2026) meski minat perjalanan terus naik, laporan itu menilai belum semua kota tuan rumah otomatis akan mendapat keuntungan besar dari ajang tersebut.

ADVERTISEMENT

AS diperkirakan bakal menjadi pintu masuk utama wisatawan internasional karena memiliki penerbangan langsung ke 40 dari 48 negara peserta Piala Dunia. Selain itu, permintaan perjalanan domestik selama periode turnamen juga mulai meningkat.

North America Market Manager The Data Appeal Company, Maria Pradissitto, mengatakan format Piala Dunia 2026 yang digelar di banyak kota dan negara akan menciptakan peluang bagi masing-masing tuan rumah.

"Format Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menyebarkan permintaan dan dampak acara ke banyak venue, kota, dan negara secara bersamaan, sehingga menciptakan peluang bagi setiap negara tuan rumah," kata Maria.

Menurutnya, pergerakan wisatawan masih sangat dinamis dan dipengaruhi kapasitas penerbangan, pencarian perjalanan, hingga pola pemesanan hotel.

"Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh popularitas destinasi, tetapi juga kemampuan membaca permintaan secara real-time, mengoptimalkan konektivitas, strategi harga, dan pengelolaan kapasitas," Maria menambahkan.

Belanja wisata terkait turnamen ini diperkirakan mencapai USD 4,3 miliar atau sekitar Rp 69 triliun. Lebih dari 80% pengeluaran tersebut diprediksi masuk ke sektor perhotelan.

Tarif sewa hotel di sejumlah kota tuan rumah juga mulai naik, terutama untuk pertandingan besar seperti laga pembuka di Mexico City pada 11 Juni dan final di kawasan New York atau New Jersey pada 19 Juli.

Di sisi lain, laporan dari Oxford Economics menilai dampak ekonomi jangka panjang ajang itu kemungkinan tidak terlalu besar, khususnya di kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat. Lead Economist Oxford Economics, Barbara Denham, menyebut peningkatan ekonomi dan lapangan kerja yang muncul diperkirakan hanya bersifat sementara dan lebih banyak terjadi di sektor hiburan serta perhotelan.

"Karena sangat sedikit infrastruktur baru yang dibangun untuk gelaran Piala Dunia 2026 ini, dampak jangka menengahnya pertumbuhan ekonomi akan terbatas," ujar Barbara.

Ia mengatakan sebagian besar aktivitas wisata selama turnamen kemungkinan hanya mengalihkan perjalanan wisata yang sudah ada, bukan menciptakan permintaan baru.

Kota-kota kecil seperti Kansas City diprediksi akan mendapat dampak paling terasa terhadap penyerapan tenaga kerja. Setelah itu disusul San Jose, Atlanta, Houston, dan Los Angeles.

Sementara kota wisata besar seperti Miami, New York, dan Seattle diperkirakan hanya mengalami kenaikan terbatas karena sejak awal sudah memiliki jumlah wisatawan internasional yang tinggi.

Laporan itu juga menyebut pola serupa pernah terjadi pada Piala Dunia 1994, ketika dampak ekonomi jangka panjang di kota penyelenggara dinilai tidak terlalu signifikan.




(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads