Harga Avtur Kian Mahal, Maskapai Kewalahan Tanggung Biaya Operasional

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Harga Avtur Kian Mahal, Maskapai Kewalahan Tanggung Biaya Operasional

CNN Indonesia - detikTravel
Minggu, 17 Mei 2026 11:15 WIB
Airplane flying under blue sky and white cloud
Ilustrasi pesawat (Getty Images/iStockphoto/npstockphoto)
Jakarta -

Direktur Jenderal Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) Willie Walsh menyatakan maskapai mulai kesulitan menanggung biaya operasional akibat lonjakan hargabahan bakar akibat situasi di Timur Tengah. Dia mengatakan ada potensi kenaikan harga tiket dalam waktu dekat.

"Sama sekali tidak ada cara bagi maskapai penerbangan untuk menyerap biaya tambahan yang mereka alami saat ini," ujar Walsh seperti diberitakan Independent tengah pekan lalu, dikutip Minggu (17/5/2026).

"Mungkin ada beberapa momen saat maskapai memberikan diskon untuk merangsang arus lalu lintas penumpang..., tetapi seiring berjalannya waktu, sudah pasti tingginya harga minyak akan tercermin pada harga tiket yang lebih mahal," dia menambahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walsh menilai situasi itu kemungkinan besar tidak akan memicu pembatalan penerbangan massal secara global. Namun, dia tetap memberikan catatan penting terkait potensi hambatan logistik menjelang musim liburan.

ADVERTISEMENT

"Saya pikir kekhawatiran utamanya adalah jika pasokan alternatif yang memadai tidak berhasil didapatkan, kemungkinan akan terjadi beberapa kelangkaan saat kita memasuki periode puncak musim panas," kata dia.

Kondisi sulit itu pun mulai tercermin dari laporan keuangan sejumlah perusahaan penerbangan besar.

Pekan lalu, IAG yang merupakan induk perusahaan British Airways, telah mengeluarkan peringatan bahwa laba perusahaan mereka akan tergerus lantaran estimasi pengeluaran untuk bahan bakar tahun ini membengkak sekitar €2 miliar atau sekitar Rp 34,5 triliun dari rencana awal.

Sementara itu, Chief Executive IAG Luis Gallego optimistis bahwa pasokan bahan bakar jet untuk operasional musim panas tidak akan mengalami gangguan total.

Guna mengantisipasi krisis yang meluas, langkah taktis juga mulai diambil sejumlah otoritas. Sekretaris Transportasi Inggris Heidi Alexander menyatakan rencana liburan musim panas masyarakat diupayakan tidak menghadapi gangguan besar akibat kelangkaan ini.

Dia membeberkan bahwa pasokan bahan bakar tambahan telah diimpor dari Amerika, bersamaan dengan peningkatan produksi dari kilang-kilang domestik di Inggris.

Selain itu, pemerintah setempat memberlakukan aturan darurat sementara yang mengizinkan maskapai menggabungkan penumpang dari beberapa jadwal penerbangan berbeda ke dalam satu pesawat yang sama demi menghemat bahan bakar.

Kebijakan efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan data penerbangan yang menunjukkan tren kenaikan angka pembatalan jadwal sepanjang Mei 2026.

Berdasarkan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, maskapai tercatat telah membatalkan ratusan jadwal keberangkatan dari bandara-bandara di Inggris demi menyesuaikan kapasitas dengan ketersediaan bahan bakar yang ada.

Tren ini diperkirakan masih bisa bergerak dinamis, mengingat aturan penerbangan internasional mengizinkan maskapai melakukan pembatalan tanpa kompensasi ganti rugi asalkan pemberitahuan diberikan setidaknya dua minggu sebelum jadwal keberangkatan.

Krisis ini sendiri berakar dari harga bahan bakar jet global yang telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah, menyusul aksi Iran yang memperketat jalur keluar masuk kapal tanker di Selat Hormuz.

"Maskapai penerbangan Inggris menegaskan bahwa mereka saat ini tidak melihat adanya kelangkaan bahan bakar jet," jubir pemerintah.

Pemerintah juga menjelaskan bahwa komoditas avtur umumnya dibeli jauh-jauh hari dalam bentuk kontrak berjangka, dan pengelola bandara bersama pemasok selalu menjaga ketersediaan stok cadangan untuk menjaga ketahanan operasional.

"Kami terus bekerja sama dengan pemasok bahan bakar, bandara, maskapai penerbangan, dan mitra internasional untuk menjaga penerbangan tetap beroperasi," kata dia.

"Kami juga sedang mengonsultasikan langkah-langkah untuk membantu maskapai merencanakan jadwal penerbangan yang realistis guna menghindari gangguan di menit-menit terakhir dan melindungi masa liburan," kata jubir tersebut.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads