Keraton Gunung Kawi Viral Usai Didatangi Pesulap Merah, Ini Sejarahnya

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Keraton Gunung Kawi Viral Usai Didatangi Pesulap Merah, Ini Sejarahnya

Muhammad Aminudin - detikTravel
Sabtu, 23 Mei 2026 06:10 WIB
Dua lokasi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan di Gunung Kawi
Gunung Kawi (Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Keraton Gunung Kawi yang lekat dengan mitos pesugihan viral setelah didatangi Marcel Radhival alias Pesulap Merah. Bagaimana sejarah tempat ini?

Melalui akun media sosialnya, Marcel menyampaikan bahwa kedatangannya ke Keraton Gunung Kawi adalah demi menjawab rasa penasaran netizen terkait dugaan adanya praktik pesugihan dan penggunaan tumbal di lokasi sakral tersebut.

Menanggapi permintaan netizen, Marcel langsung menemui juru kunci (kuncen) setempat untuk menggali informasi secara langsung melalui wawancara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari penuturan Jono, salah satu juru kunci kompleks keraton Gunung Kawi, pusat dari kawasan ini adalah makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati.

Kedua tokoh yang berasal dari Kerajaan Kediri kuno tersebut dikenal menetap di sana untuk bertapa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (moksa) hingga akhir hayatnya.

ADVERTISEMENT

"Masyarakat datang ke sini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada leluhur, sama seperti makam-makam keramat pada umumnya. Anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi mencari pesugihan atau kekayaan instan itu tidak benar," ujar Jono.

Setelah memasuki pintu gapura, pengunjung akan menemui tiga makam yang dipercaya merupakan pengawal setia dari Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Mereka adalah Eyang Hamid, Eyang Broto dan Eyang Joyo.

Setelah melewati area makam tersebut, pengunjung akan menemui sebuah bangunan tepat berada di ujung anak tangga dinamai Keraton Gunung Kawi.

Dua lokasi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan di Gunung KawiDua lokasi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan di Gunung Kawi Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim

Pada sisi timur bangunan berdiri pohon Dewandaru yang dipercaya merupakan pohon keberuntungan. Sedangkan pada sisi barat terdapat bangunan tempat ibadah umat beragama Konghucu.

Makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati berada di sisi utara dari keraton atau tepat di ujung bawah anak tangga untuk menuju tempat pertapaan.

Dahulu, semasa Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati masih hidup, masyarakat datang ke lokasi itu untuk meminta wejangan hidup.

"Sampai kemudian wafat, masyarakat tetap berkunjung ke sini untuk berziarah. Hanya itu tujuannya, bukan ada hal lain (pesugihan)," beber Jono.

Menurut Jono, seseorang yang ingin usahanya sukses dan diberikan kelancaran atau pun tujuan yang lain. Biasanya berdoa di makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati.

"Jadi bukan pesugihan. Biasanya orang berdoa meminta kelancaran dan kesuksesan di sini sebagai perantaranya," paparnya.

Nuansa Mistis Terasa di Gunung Kawi

Begitu traveler memasuki gerbang Keraton Gunung Kawi, hawa sejuk khas lereng pegunungan akan langsung menyambut. Pohon-pohon besar yang dibalut kain bermotif kotak-kotak hitam-putih (kain poleng) langsung memberikan kesan sakral dan magis.

Ditambah lagi, aroma dupa dan sesajen di beberapa sudut bangunan kerap kali membuat pengunjung yang baru pertama kali datang langsung merasa merinding, bulu kuduk pun dibuat berdiri.

Meski demikian, pihak pengelola menegaskan bahwa aura mistis tersebut bukanlah pertanda adanya praktik sekte gelap atau pesugihan hitam di Keraton Gunung Kawi yang terletak di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Malang.

Bagi mereka yang datang dengan niat untuk memperlancar usaha, pengelola meluruskan bahwa keraton ini berfungsi sebagai tempat berdoa dan memohon kelancaran kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menghormati jasa para leluhur sebagai perantaranya.

Para peziarah biasanya akan kembali datang sebagai wujud syukur. Karena mengetahui usaha sukses atau permasalahan yang dihadapi bisa selesai.

"Doa dengan niat ikhlas dari hati dan kemudian terkabul. Semua kembali ke pribadi masing-masing, ketika terkabul peziarah kembali untuk menyatakan syukur dan mengirim doa kepada leluhur," tuturnya.

Para peziarah telah sukses dalam karir maupun usaha, bukan hanya datang menggelar selametan. Melainkan memberikan donasi untuk biaya pembangunan kompleks keraton, bukan tumbal pesugihan.

"Di sini bangunan sampai ada Wi-Fi dari donasi peziarah. Banyak baik dari Malang sampai luar Jawa," katanya.

Bagi wisatawan yang penasaran, tempat ini terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 12 ribu dan biaya parkir kendaraan, pengunjung sudah bisa menikmati ketenangan batin, keindahan alam, sekaligus mengedukasi diri tentang sejarah dan budaya yang ada.

Keraton Gunung Kawi berdiri di atas lahan milik Perhutani yang dikelola oleh masyarakat desa setempat. Setidaknya ada 20 warga yang terlibat sebagai pemandu sekaligus penjaga dan merawat komplek keraton.


---------

Artikel ini telah naik di detikJatim, bisa dibaca selengkapnya di sini dan di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Monitor Ketua: Pesulap Merah Unjuk Kekuatan"
[Gambas:Video 20detik] (wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads