Mimpi Jepang di 2030: Kedatangan 60 Juta Turis

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mimpi Jepang di 2030: Kedatangan 60 Juta Turis

Bonauli - detikTravel
Minggu, 24 Mei 2026 21:26 WIB
Japan, Shibuya Ward, Shibuya Crossing, Crowd, Spectator
Foto: Getty Images/CHUNYIP WONG
Tokyo -

Negeri Sakura rasanya masih belum puas dengan catatan kunjungan turisnya. Targetnya, Jepang ingin 60 juta turis di tahun 2030.

Pemerintah Jepang menyetujui rencana dasar kelima untuk mempromosikan Jepang sebagai negara yang berorientasi pariwisata. Jepang menetapkan target 60 juta pengunjung asing pada tahun 2030, kira-kira 40 persen lebih banyak daripada tahun 2025, seperti dikutip dari Japan Today Minggu, (24/5/2026).

Jika ada enam puluh juta pengunjung berarti sekitar 160.000 kedatangan per hari harus diterima Jepang. Dengan asumsi masa tinggal rata-rata sekitar 10 hari berdasarkan tren terkini, kira-kira 1,6 juta wisatawan asing akan berada di Jepang setiap harinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka tersebut mendekati 40 persen dari 4,13 juta penduduk asing yang tercatat pada akhir tahun 2025 dan sekitar 1,3 persen dari populasi sekitar 120 juta penduduk Jepang.

ADVERTISEMENT

Menurut pemerintah, julukan overtourism yang kerap disematkan dianggap terlalu berlebihan. Pengendalian kerumunan di festival kembang api menjadi salah satu contoh bahwa pariwisata bisa dikelola dengan langkah-langkah tenang dan praktis.

Enam puluh juta pengunjung juga berarti sekitar 320.000 orang masuk dan keluar negara setiap hari melalui bandara, di samping wisatawan Jepang. Pemerintah menargetkan jumlah warga Jepang yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2030 untuk melampaui angka tertinggi sepanjang masa yaitu 20,08 juta.

Jepang saat ini sangat bergantung pada bandara Haneda dan Narita di wilayah Tokyo dan Bandara Internasional Kansai di Prefektur Osaka. Namun, penundaan pembangunan landasan pacu ketiga di Narita dan kebutuhan untuk memperluas kapasitas seperti penambahan staf bandara berarti penerbangan tambahan di wilayah ibu kota kemungkinan tidak akan meningkat banyak dalam waktu dekat. Hal ini membuat target tahun 2030 terasa sulit digapai.

Jika melihat data kunjungan wisatawan asing per prefektur pada tahun 2025, Tokyo menyumbang 34 persen dari total, diikuti oleh Prefektur Osaka sebesar 14 persen, Prefektur Kyoto sebesar 11 persen, Hokkaido sebesar 7 persen, Okinawa sebesar 5 persen, dan Prefektur Fukuoka sebesar 4 persen.

Banyak prefektur di luar tiga wilayah metropolitan utama mencatatkan tingkat hunian kamar di bawah 60 persen pada tahun 2025. Ini menunjukkan kapasitas akomodasi yang masih timpang. Mencapai 60 juta pengunjung akan bergantung pada strategi Jepang dalam mengarahkan lebih banyak wisatawan asing ke destinasi regional.

Sementara itu, jika menarik lebih banyak wisatawan melalui bandara regional akan membutuhkan perluasan rute internasional yang signifikan, termasuk di bandara yang sudah mengoperasikan penerbangan dari Tiongkok dan tempat lain.

Promosi akan lebih realistis dengan menetapkan bandara utama untuk setiap blok regional dan menghubungkannya ke jaringan transportasi utama dan situs wisata utama di wilayah tersebut.

Tantangan terbesar bagi pariwisata regional adalah apakah setiap wilayah benar-benar merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi dan ditinggali. Dalam pendekatan ini, 10 organisasi manajemen destinasi wilayah luas, seperti Organisasi Promosi Pariwisata Tohoku, akan ditugaskan untuk mempromosikan pariwisata masuk. Organisasi-organisasi ini menyatukan operator kereta api lokal, bank, dan pemerintah daerah yang dapat memperkuat daya tarik regional.

Pengunjung dari luar negeri bukanlah gelombang destruktif yang merusak kehidupan sehari-hari di komunitas regional. Dengan meningkatkan daya tarik lokal dan memperbaiki akses, baik penduduk maupun wisatawan akan menjadi lebih puas-hasil yang akan memajukan tujuan Jepang untuk benar-benar menjadi negara yang berorientasi pada pariwisata.




(bnl/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads