Wacana reaktivitasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung dan Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta mengemuka. Berikut poin-poin rencana itu.
Selama ini, Bandara Husein Sastranegara bukan tidak beroperasi sepenuhnya. Hingga kini, bandara itu tetap beroperasi, tetapi lebih banyak melayani pesawat baling-baling (ATR), penerbangan pendek, militer, dan aktivitas tertentu lainnya masih beroperasi. Sejak 2023, mayoritas penerbangan jet komersial dipindahkan ke Bandara Kertajati.
Sementara itu, Bandara Adi Sutjipto juga tidak tutup total. Setelah Yogyakarta International Airport beroperasi penuh, sebagian besar rute komersial reguler dipindahkan ke sana, tetapi Adi Sutjipto masih dipakai untuk penerbangan tertentu, sekolah penerbangan TNI AU, dan beberapa rute domestik terbatas seperti Halim-Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Status dua bandara itu berubah pada pemerintah Presiden ke-7 Joko Widodo yang memutuskan memindahkan sebagian besar penerbangan komersial ke bandara baru yang dinilai memiliki kapasitas lebih besar.
Tentang Rencana Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Adi Sutjipto
1. Arahan Presiden Prabowo
Wacana itu mencuat kembali setelah mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto. Prabowo memberikan arahan langsung untuk reaktivasi dan optimalisasi komersialisasi sejumlah bandara, di antaranya Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta.
Kemudian ditindaklanjuti oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) Donny Ermawan menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN/Waka Bappenas) RI Febrian Alphyanto Ruddyard di Ruang Kerja Wamenhan, Jakarta, pada Senin (25/5/2026).
2. Disambut Suka Cita Walkot Farhan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun merespons arahan Presiden Prabowo Subianto soal rencana reaktivitas tersebut. Ia mengaku bersyukur karena rencana itu sudah ia tunggu-tunggu selama ini.
Petugas membersihkan kaca di ruang tunggu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/6/2025). (Raisan Al Farisi/Antara) |
"Saya bersyukur sekali, setelah Presiden berkunjung ke Kota Bandung pada tanggal 25 Mei yang lalu, sorenya saya mendapatkan kabar Presiden memberikan instruksi agar reaktivasi Bandara Husein bersama-sama dengan Adisucipto," kata Farhan, Rabu (27/5/2026).
"Kita sangat menunggu reaktivasi ini karena bagaimanapun selama ini Bandara Husein bukan ditutup ya, tetapi aktivitas untuk penerbangan komersialnya hanya diizinkan penerbangan komersial berjadwal menggunakan pesawat baling-baling dan tujuannya adalah antarkota di dalam Pulau Jawa," dia menambahkan.
3. Penerbangan di Bandara Husein Tetap Terbatas
Meski telah menerima informasi soal wacana ini, Farhan menyatakan penerbangan di Bandara Husein tetap terbatas. Pesawat yang melayani penerbangan tidak bisa berdimensi besar, karena maksimal hanya bisa untuk pesawat baling-baling, 737 hingga A370.
"Kita kan tidak bisa menerima pesawat berbadan lebar. Kita hanya bisa menerima pesawat sekelas 737 A320 gitu. Tapi cukup da Bandung mah sakitu oge. Cukup pisan itu mah," kata dia.
4. Yogyakarta Belum Merespons
Hingga saat ini Pemerintah Provinsi Yogyakarta dan manajemen Bandara Adi Sutjipto ataupun Bandara YIA belum merespons rencana itu.
Sementara itu, pengalihan operasional penerbangan komersil di Yogyakarta pada 2023 itu menuai pro dan kontra. Merujuk sejumlah pendapat traveler, banyak yang menilai mendarat di Bandara Adi Sutjipto lebih praktis dan "lebih Jogja" karena lokasinya dekat pusat kota.
Suasana YIA dan Stasiun Bandara YIA Kulon Progo, Kamis (18/12/2025) mulai dipadati penumpang jelang libur Natal dan Tahun Baru 2026. (Jalu Rahman Dewantara/detikcom) |
Bandara Adi Sutjipto bisa dijangkau dari Malioboro dengan waktu tempuh kurang dari 30 menit, sementara Bandara YIA berada sekitar 57 km dari kota dengan waktu tempuh sekitar 1-1,5 jam lewat jalan darat.
Tapi dari sisi kenyamanan bandara modern, YIA unggul jauh. Terminalnya jauh lebih luas, kapasitas besar, fasilitas lebih lengkap, runway panjang untuk pesawat wide body, dan alur penumpang lebih lega. Adi Sutjipto dulu sering dikeluhkan terlalu padat saat jam sibuk.
Sekarang akses ke YIA juga sudah jauh membaik berkat kereta bandara langsung ke Stasiun Tugu dengan waktu sekitar 35-40 menit. Banyak traveler akhirnya menilai YIA lebih nyaman untuk penerbangan besar dan internasional, sementara Adi Sutjipto lebih unggul untuk kepraktisan dan kedekatan ke kota.
Di forum dan media sosial juga cukup banyak komentar yang bilang mereka "kangen" Adi Sutjipto karena tinggal turun pesawat lalu cepat sampai kota. Namun, ada juga yang menilai YIA lebih layak sebagai bandara utama karena Adi Sutjipto sudah terlalu sempit untuk volume penumpang modern.
5. Alasan Pemindahan pada 2023
Dalam arsip berita 10 Oktober 2023, Menteri Perhubungan saat itu, Budi Karya Sumadi, mengatakan bahwa pemindahan penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati dilakukan dengan menimbang faktor keselamatan dan kebutuhan runway yang lebih panjang.
Landasan pacu (runway) yang lebih memadai diperlukan agar mampu menampung pesawat berbadan besar seperti Boeing 777 sehingga mampu mendorong penerbangan langsung dari luar negeri.
Bandara Husein Sastranegara diketahui hanya memiliki landasan pacu sepanjang 2.200 meter. Adapun, Bandara Kertajati memiliki panjang landasan pacu 3.000 meter.
Sementara itu, Juru Bicara Pembangunan YIA dari AP I Agus Pandu Purnama saat itu menjelaskan bahwa pemindahan bandara dilakukan karena Bandara Adisutjipto telah mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).
Kelebihan kapasitas itu berpengaruh pada kenyamanan penumpang, selain juga pesawat yang hendak mendarat di Adisutjipto mengalami holding (menunggu antrean). Waktu tunggu antrean pesawat mendarat makin hari semakin lama, bahkan mencapai 40-50 menit.
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
Kalau Budget Bukan Jadi Masalah, Mau Liburan ke Mana?
Presiden Jerman Mau ke RI, Bertemu Prabowo dan Susuri Terowongan Silaturahmi
Piala Dunia 2026 di Depan Mata, Suporter Iran Malah Kehilangan Tiket