7 Fakta Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

7 Fakta Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur

Bonauli - detikTravel
Sabtu, 30 Mei 2026 19:14 WIB
Salah satu momen yang paling ditunggu wisatawan dalam momen Perayaan Hari Raya Waisak 2569 BE yang dipusatkan di Candi Borobudur adalah pelepasan lampion.
Perayaan Waisak di Candi Borobudur (Syanti Mustika/detikTravel)
Magelang -

Akhir pekan ini Candi Borobudur akan menjadi pusat perhatian dunia. Tepat tanggal 31 Mei, Hari Raya Waisak akan dilaksanakan di Candi Borobudur.

Sejarah Waisak di Candi Borobudur bermula sejak masa Dinasti Syailendra (abad ke-8) sebagai pusat ibadah Buddha terbesar, namun tradisi ini sempat terhenti selama berabad-abad ketika pusat kerajaan pindah dan candi terkubur.

Borobudur akhirnya bangkit dari tidur panjangnya, perayaan Waisak modern pertama kali digelar kembali pada tahun 1929 oleh komunitas spiritual. Kemudian disusul oleh perayaan nasional besar-besaran pada tahun 1953 di bawah pelopor Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1983, Borobudur diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Perayaan ini bertransformasi menjadi festival spiritual internasional yang ikonik, lengkap dengan tradisi pelepasan lampion, serta menjadi simbol toleransi dan harmoni budaya yang mendunia hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa fakta unik dan menarik tentang Waisak di Borobudur:

1. Pusat Perayaan Waisak Nasional di Indonesia

Meskipun ada banyak candi Buddha di Indonesia, Candi Borobudur merupakan pusat utama dari seluruh rangkaian perayaan Hari Raya Waisak nasional. Ribuan umat Buddha dari berbagai sangha (aliran), baik dari dalam negeri maupun luar negeri (seperti Thailand, Tibet, dan Sri Lanka), berkumpul di sini untuk beribadah.

ADVERTISEMENT

2. Ritual Pengambilan Api Alam dan Air Berkah

Sebelum puncak perayaan di Borobudur, ada dua ritual krusial yang harus dilakukan:

  • Api Abadi: Diambil dari sumber api alam di Mrapen, Grobogan. Api ini melambangkan penerangan dan pengikisan kekesalan dalam hidup.
  • Air Berkah: Diambil dari umbul (mata air) Jumprit di Temanggung. Air melambangkan ketenangan, pembersihan diri, dan kesucian.

Kedua elemen ini kemudian disemayamkan di Candi Mendut sebelum dibawa kirab ke Borobudur.

3. Prosesi Kirab Jalan Kaki (Candi Mendut - Pawon - Borobudur)

Salah satu prosesi yang paling ikonik adalah kirab atau berjalan kaki bersama dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur. Jaraknya sekitar 3,5 kilometer. Selama kirab, para biksu dan umat berjalan kaki sambil membawa persembahan berupa sarana puja, hasil bumi, serta replika Buddha.

4. Tradisi "Pindapata"

Sebelum hari H Waisak, para biksu biasanya melakukan tradisi Pindapata di sepanjang jalan sekitar Magelang. Dalam tradisi ini, para biksu berjalan kaki membawa mangkuk (patra) untuk menerima sumbangan sukarela dari masyarakat, baik berupa makanan, minuman, atau dana. Ini adalah simbol pelepasan keduniawian bagi biksu dan ladang kebajikan bagi masyarakat.

5. Detik-Detik Waisak Ditentukan secara Astronomis

Berbeda dengan hari raya keagamaan lain yang tanggalnya mengunci pada hari tertentu, puncak Waisak ditentukan berdasarkan perhitungan astronomi modern. Detik-detik Waisak jatuh pada saat bulan purnama sidereal (purnama sidi), di mana posisi bumi, matahari, dan bulan berada dalam satu garis lurus yang membuat bulan bersinar paling terang. Oleh karena itu, puncak Waisak bisa terjadi pada pagi, siang, atau malam hari.

6. Festival Pelepasan Lampion yang Mendunia

Pelepasan ribuan lampion di lapangan Aksobya Candi Borobudur menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu.

Pelepasan lampion ini bukan sekadar estetika untuk foto, melainkan simbol menerbangkan doa, harapan, kedamaian, serta melepaskan hal-hal negatif dari dalam diri menuju alam semesta.

7. Memperingati Tiga Peristiwa Penting (Tri Suci Waisak)

Seluruh rangkaian ibadah di Borobudur dirayakan untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gautama yang terjadi pada hari purnama yang sama:

  • Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini (563 SM).
  • Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha di Bodhgaya (528 SM).
  • Parinibbana (wafatnya) Buddha Gautama di Kusinara (483 SM).



(bnl/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads