Tinggal beberapa minggu jelang Piala Dunia 2026 dimulai, tingkat hunian hotel di sejumlah kota tuan rumah masih di bawah ekspektasi. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa industri perhotelan terlalu optimistis memprediksi lonjakan wisatawan selama turnamen berlangsung.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, data CoStar menunjukkan pemesanan hotel di beberapa kota justru lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.
Vancouver misalnya, mencatat okupansi hotel sekitar 39% untuk tanggal pertandingan, turun dari 53 persen tahun lalu. Sementara Boston hanya berada di angka 32%, dibanding 44% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari New York Post, Senin (1/6/2026) Kota New York juga belum mendapat dampak besar dari pertandingan Brasil melawan Maroko di New Jersey pada 13 Juni. Tingkat hunian hotel di kota itu tercatat sekitar 31%, turun dari 43% pada tahun lalu.
Survei American Hotel & Lodging Association terhadap hotel di 11 kota tuan rumah menunjukkan sekitar 80% pelaku industri mengaku pemesanan kamar masih di bawah proyeksi awal. Kendala visa, situasi geopolitik, hingga pembatalan blok kamar oleh FIFA disebut menjadi penyebab utama.
Direktur nasional analitik perhotelan CoStar, Jan Freitag, menilai turnamen itu kemungkinan baru meningkat saat fase gugur pada Juli. "Untuk pertandingan putaran awal, ada kemungkinan daya tariknya tidak sebesar yang diharapkan dan itu berdampak pada rendahnya okupansi hotel," kata Freitag.
Menurut Freitag, tingginya harga tiket pesawat, inflasi, dan mahalnya biaya perjalanan juga membuat banyak suporter berpikir ulang untuk datang langsung ke stadion.
"Sekarang ada perang yang sedang berlangsung dan harga minyak naik, sehingga tiket pesawat menjadi lebih mahal," ujarnya.
Sorotan juga datang dari harga tiket pertandingan yang dinilai terlalu mahal. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengaku enggan membayar USD 1.000 (Rp 17 juta) untuk menyaksikan laga pembuka AS melawan Paraguay di Los Angeles.
Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga tiket. Ia menyebut tiket final di MetLife Stadium sempat dijual lebih dari USD 2 juta dan dia sambil bercanda mengatakan dirinya sendiri akan mengantarkan "hot dog dan Coca-Cola" kepada pembeli yang bersedia membayar tiket semahal itu.
Ahli menilai harga tiket yang tinggi dan sistem dynamic pricing berisiko membuat suporter biasa semakin sulit menikmati langsung Piala Dunia 2026, meski FIFA mengklaim lebih dari 5 juta tiket telah terjual.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Kalau Budget Bukan Jadi Masalah, Mau Liburan ke Mana?
Hotel-hotel Mewah Dubai Meratap, Jual Kemewahan dengan Diskon 50%
Presiden Jerman Mau ke RI, Bertemu Prabowo dan Susuri Terowongan Silaturahmi