Tradisi Turis Cari Peruntungan Bikin Ikon Milan Rusak, Kini Direstorasi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tradisi Turis Cari Peruntungan Bikin Ikon Milan Rusak, Kini Direstorasi

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Rabu, 03 Jun 2026 13:11 WIB
Mosaik banteng di Galleria Vittorio Emanuele II, Milan, Italia yang rusak akibat tradisi menggesek tumit oleh wisatawan
Mosaik banteng di Galleria Vittorio Emanuele II, Milan. (Stefano Rellandini/AFP/Getty Images)
Milan -

Salah satu ikon wisata terkenal di Kota Milan, Italia, kembali harus menjalani restorasi. Penyebabnya cukup unik, yakni tradisi wisatawan mencari keberuntungan.

Mosaik banteng yang berada di lantai Galleria Vittorio Emanuele II mengalami kerusakan akibat kebiasaan pengunjung yang terus berulang selama bertahun-tahun.

Ya, galeri perbelanjaan bersejarah yang terletak tak jauh dari Katedral Duomo itu memang menyimpan satu ritual wajib bagi wisatawan. Banyak pengunjung sengaja memutar tumit di atas bagian testis banteng pada mosaik lantai karena dipercaya bisa membawa keberuntungan, bahkan diyakini membuat seseorang bisa kembali lagi ke Milan di masa depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi tersebut telah menjadi semacam ritual tak tertulis bagi wisatawan dari berbagai negara. Tak sedikit pengunjung yang rela antre hanya untuk ikut berputar di titik yang dianggap membawa hoki itu.

Namun di balik popularitasnya, kebiasaan tersebut ternyata meninggalkan dampak serius. Pemerintah Kota Milan mengatakan gesekan terus-menerus dari ribuan kaki wisatawan telah menyebabkan bagian mosaik mengalami aus dan rusak. Akibatnya, ikon bersejarah itu kembali direstorasi untuk menjaga kelestariannya.

ADVERTISEMENT

"Karena putaran tumit yang terus-menerus dilakukan wisatawan yang berkunjung ke Milan, kepingan mosaik berwarna merah muda yang membentuk bagian testis banteng telah terkikis hingga membentuk cekungan kecil," kata otoritas kota seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (3/6/2026).

Mosaik berwarna krem itu merupakan bagian dari lantai Galleria Vittorio Emanuele II yang dibangun pada abad ke-19. Gambar banteng tersebut melambangkan Kota Turin, yang saat itu menjadi ibu kota Italia.

Proses restorasi dilakukan oleh restorator, Gianluca Galli. Saat pekerjaan berlangsung, wisatawan tetap memadati galeri dan berkeliling di kawasan yang juga menjadi lokasi toko Prada pertama di dunia.

Galli menilai tradisi memutar tumit di atas mosaik memang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, tetapi berdampak pada kelestarian karya seni tersebut.

"Ini mungkin merupakan gestur yang menarik, tetapi juga cukup merusak bagi sebuah karya seni," ujar Galli.

Mosaik banteng di Galleria Vittorio Emanuele II, Milan, Italia yang rusak akibat tradisi menggesek tumit oleh wisatawanMosaik banteng di Galleria Vittorio Emanuele II, Milan, Italia. (Stefano Rellandini/AFP/Getty Images)

Dalam proses perbaikan, Galli memotong batu secara manual dengan mengacu pada desain asli dari periode pembuatannya. Ia juga membuat cetakan dari bagian mosaik yang masih tersisa untuk memastikan hasil restorasi sesuai dengan bentuk semula.

Menurutnya, kali ini ia menggunakan resin epoksi sebagai perekat pengganti campuran kapur dan mortar pasir yang digunakan sebelumnya. Material tersebut dipilih agar mosaik lebih kuat menahan tekanan dari ribuan tumit wisatawan.

Selama restorasi berlangsung, wisatawan tidak bisa melakukan ritual di mosaik banteng. Namun, sebagian pengunjung tetap mencari alternatif dengan melakukan putaran tumit pada mosaik serigala betina di dekatnya yang melambangkan Kota Roma.

Mosaik banteng tersebut terakhir kali diperbaiki pada 2017. Anggota Dewan Kota Milan, Emmanuel Conte dan Marco Granelli, mengatakan keausan pada mosaik tidak terlepas dari tingginya jumlah pengunjung yang datang ke galeri tersebut setiap tahun.

Galli mengaku bangga dapat terlibat dalam restorasi mosaik ikonik tersebut. Ia juga berharap lebih banyak anak muda tertarik menjadi restorator karena profesi itu masih sangat dibutuhkan di Italia.

"Saya ingin mendorong anak-anak muda untuk menekuni profesi ini, karena Italia sangat membutuhkan restorator, baik laki-laki maupun perempuan," kata dia.

Meski pekerjaan restorasi menuntut mobilitas tinggi dan harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, Galli menilai profesi tersebut memiliki nilai yang istimewa.

"Saya tahu ini pekerjaan yang menuntut, karena Anda harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Namun di Italia, profesi ini juga dianggap sebagai sebuah kehormatan," ujar Galli.




(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads