Presiden Prabowo Subianto belum lama ini mengatakan akan mereaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Ahli menyebut wacana reaktivasi ini menjadi tantangan baru.
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, mengatakan reaktivasi Bandara Husein menimbulkan tarikan antara pemulihan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan investasi jangka panjang.
"Kebijakan ini memicu perdebatan karena melibatkan tarikan yang kuat antara kenyamanan konsumen jangka pendek dan keberlanjutan investasi infrastruktur jangka panjang. Secara garis besar, dampak dari rencana pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara dapat dipetakan ke dalam beberapa dimensi," kata Djoko dalam pernyataannya yang diterima detikTravel, Selasa (2/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, reaktivasi Bandara Husein ini punya dampak positif untuk sektor pariwisata dan ekonomi di Bandung Raya. Ia menjelaskan pengaktifan bandara tersebut menjadi angin segar bagi para pelaku usaha, ditambah memudahkan akses untuk wisatawan domestik dan internasional berkunjung ke wilayah Bandung.
"Ada geliat ekonomi lokal, sektor hospitality (hotel, restoran, kafe), industri kreatif, dan UMKM di Bandung diproyeksikan akan langsung merasakan lonjakan omzet karena kembalinya target pasar pelancong akhir pekan yang sempat hilang," ujar Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu.
Kemudian, terkait keberlanjutan Bandara Kertajati di Majalengka, yang dulu digadang-gadang sebagai pengganti yang paling ideal untuk Bandara Husein di Bandung. Bandara Kertajati dibangun dengan investasi triliunan rupiah sebagai gerbang udara utama Jawa Barat yang menggantikan Bandara Husein Sastranegara.
Namun menurut Djoko jika maskapai jet kembali diizinkan beroperasi di Bandung, daya tarik Kertajati bagi masyarakat Bandung Raya berpotensi menurun drastis. Kondisi tersebut dapat membuat Bandara Kertajati kembali sepi penumpang, sehingga menyulitkan pencapaian tingkat pengembalian investasi (return on investment) dan meningkatkan beban fiskal operasional.
Yang ketiga, reaktivasi Bandara Husein ini menjadi jalan terbaik untuk konsumen dalam efisiensi waktu dan juga biaya perjalanan.
"Dari sudut pandang psikologi konsumen, rencana ini disambut sangat positif oleh netizen dan pelaku perjalanan. Memotong waktu perjalanan, bagi warga Bandung yang ingin terbang ke Medan, Bali, atau Surabaya, mereka tidak perlu lagi mengalokasikan waktu 1,5 jam ke Kertajati atau tiga jam ke Bandara Soekarno-Hatta," jelasnya.
Dan yang terakhir, Djoko menyoal keterbatasan teknis dan keselamatan. Karena secara teknis Bandara Husein punya beberapa keterbatasan, misalnya faktor geografis Bandung yang dikelilingi oleh pegunungan dan berada di tengah pemukiman padat penduduk.
Landasan pacu yang dimiliki oleh Bandara Husein ini hanya 2.600 meter yang tak terbatas untuk pesawat berbadan lebar. Untuk dilakukannya perluasan fisik pun sudah tidak memungkinkan lagi.
"Kapasitas terbatas untuk ruang tunggu dan apron Bandara Husein Sastranegara, sehingga rentan mengalami kepadatan ekstrem jika frekuensi penerbangan ditingkatkan secara agresif," tegas Djoko.
Ia mengingatkan bahwa pengaktifan Bandara Husein ini nantinya akan membawa efek yang dilematis bagi Kota Kembang itu. Djoko menjabarkan di satu sisi menjadi katalisator untuk pertumbuhan ekonomi secara instan.
Tetapi di sisi lainnya, keberadaan Bandara Husein yang terletak di tengah kota itu jadi faktor pembatas untuk perkembangan fisik wilayah Kota Bandung dalam jangka panjang.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha