Dulu Turis Eropa, Kini Jatiluwih Didominasi Wisatawan Asia dan Domestik

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dulu Turis Eropa, Kini Jatiluwih Didominasi Wisatawan Asia dan Domestik

I Dewa Made Krisna Pradipta - detikTravel
Rabu, 03 Jun 2026 21:15 WIB
Wisatawan mancanegara berjalan di area persawahan di Desa Wisata Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, Sabtu (28/2/2026). Gubernur Bali Wayan Koster memprioritaskan penataan lima pembangunan sektor kepariwisataan untuk mendongkrak daya saing wisata Pul
Wisatawan mancanegara berjalan di area persawahan di Desa Wisata Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali (Nyoman Hendra Wibowo/Antara)
Jakarta -

Imbas perang di Timur Tengah saat ini, dominasi wisatawan ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan mengalami pergeseran. Jika biasanya turis yang berkunjung didominasi dari Eropa dan Amerika, kini wisatawan Asia dan domestik lebih banyak.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, menjelaskan sebelum konflik antara AS-Israel dan Iran itu dimulai, setiap bulan persentase wisatawan Barat tercatat mencapai 80 persen. Sementara, 20 persen lainnya adalah campuran Asia serta domestik.

"Sekarang ada pergeseran. Di bulan Mei kemarin perbandingannya 70 persen Western (Barat) dan 30 persen mix (campuran). Prediksi kami di bulan Juni, wisatawan Asia dan domestik bisa mencapai 40 persen dan 60 persen Western," kata Ketut Purna, Rabu (3/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purna mengatakan kondisi itu dipengaruhi oleh tarif yang harus dibayar oleh wisatawan asal Eropa atau AS menuju Bali. Untuk menghindari wilayah konflik, sejumlah penerbangan harus menempuh jalur lebih panjang, sehingga ongkos perjalanan meningkat dan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, masyarakat Bali saat ini juga tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, di tengah situasi tersebut, Purna melihat masih ada peluang bagi sektor pariwisata. Menurutnya, melemahnya rupiah dapat membuat biaya liburan di Indonesia terasa lebih terjangkau bagi wisatawan asing, sehingga berpotensi mendorong peningkatan kunjungan.

Meski demikian, pria yang akrab disapa John itu menilai dampaknya belum terlihat signifikan. Ia memperkirakan wisatawan mancanegara akan bertambah, tetapi mahalnya harga tiket penerbangan masih menjadi faktor penghambat.

"Tapi sekarang ini masih belum ada lonjakan signifikan karena memang saat ini tiket penerbangan sedang mahal-mahalnya," ujar dia.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads