Konflik Timur Tengah Ancam Kebangkitan Pariwisata ASEAN, Termasuk Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Konflik Timur Tengah Ancam Kebangkitan Pariwisata ASEAN, Termasuk Indonesia

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Kamis, 04 Jun 2026 11:02 WIB
Penumpang pesawat antre di tempat lapor diri Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Rabu (18/3/2026). Bandara Bali akan berhenti beroperasi sementara selama 24 jam saat Hari Raya Nyepi tahun Saka
Ilustrasi wisatawan. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta -

Industri pariwisata Asia Tenggara kembali menghadapi tekanan setelah sempat menunjukkan pemulihan pascapandemi Covid-19. Konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan gangguan penerbangan kini mulai membayangi tren liburan musim panas yang menjadi periode penting bagi sektor wisata di kawasan tersebut.

Kenaikan harga bahan bakar mendorong tarif tiket pesawat menjadi lebih mahal, sementara ketidakpastian situasi global membuat minat bepergian berpotensi melemah. Kondisi itu menjadi tantangan bagi negara-negara yang bergantung pada sektor pariwisata seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

Melansir Euronews, Kamis (4/6/2026) pariwisata merupakan salah satu penopang utama ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Di Thailand, sektor ini menyumbang hampir 13% produk domestik bruto (PDB), sementara di Vietnam sekitar 9%. Industri tersebut juga menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan warga Kamboja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Tanda-tanda perlambatannya mulai terlihat. Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand mencatat jumlah wisatawan yang datang pada April 2026 turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kedatangan wisatawan dari Eropa turun hampir 16%, sedangkan wisatawan dari Timur Tengah merosot hingga 57%.

Di Kamboja, destinasi wisata utama Siem Reap juga mengalami penurunan kunjungan. Otoritas setempat melaporkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara pada empat bulan pertama 2026 turun 37,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jitsai Santaputra dari perusahaan konsultan energi The Lantau Group mengatakan industri pariwisata kini menghadapi dua krisis besar dalam waktu yang berdekatan.

"Ini terjadi dalam rentang lima tahun, pertama pandemi dan sekarang perang. Kondisi ini sangat buruk bagi industri pariwisata," kata Jitsai seperti yang dikutip Euronews dari Associated Press.

Dampak konflik juga dirasakan industri penerbangan. Kelangkaan bahan bakar jet dan lonjakan harga membuat sejumlah maskapai seperti Vietnam Airlines, AirAsia Group, dan Cathay Pacific, mengurangi penerbangan atau menyesuaikan jadwal operasional.

Selain itu, penutupan wilayah udara di kawasan Teluk Persia pada awal konflik memaksa sejumlah maskapai mengambil rute yang lebih panjang. Akibatnya, biaya operasional meningkat dan harga tiket pesawat ikut terkerek naik.

Cathay Pacific mengakui kondisi tersebut mulai memengaruhi perilaku wisatawan. Kepala Pelanggan dan Komersial Cathay Pacific, Lavinia Lau, mengatakan banyak calon penumpang kini menunda pembelian tiket hingga mendekati waktu keberangkatan.

Menurutnya, tren tersebut menunjukkan tingginya tingkat ketidakpastian di kalangan wisatawan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Development Programme (UNDP) juga memperingatkan bahwa tarif penerbangan yang lebih mahal dan menurunnya kepercayaan wisatawan dapat berdampak pada pendapatan masyarakat serta penerimaan negara, terutama di negara-negara yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber devisa.

Yang Dirasakan Indonesia

Tak terkecuali di Indonesia, imbasnya pun mulai terasa. Mengutip Antara, baru-baru ini Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyatakan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mengalami penurunan.

"Mulai 28 Februari 2026 situasi geopolitik dunia mulai memanas, terutama kondisi di Timur Tengah. Hal ini tentunya menimbulkan banyak keraguan untuk sektor pariwisata," ungkapnya.

Di periode Januari-April 2026 turun 1,89% dan Maret-April pun mengalami penurunan 20,68% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Widi berujar penurunan kunjungan wisatawan Timur Tengah itu dikarenakan banyaknya pembatalan penerbangan.

"Hal ini tidak mengherankan karena telah terjadi 1.232 pembatalan penerbangan via Timur Tengah yang terjadi sampai dengan 30 April 2026, yang berarti terdapat 127.376 potensi perjalanan tidak terealisasi," lanjut Widi.

Situasi serupa juga terjadi untuk wisatawan asal Eropa. Penurunan wisatawan asal Benua Biru itu dalam periode Januari-April 2026 merosot hingga 6,5% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025.




(upd/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads