Lonjakan pariwisata di Jepang membawa konsekuensi baru bagi para pelancong. Sampah mulai menumpuk, karena adanya kesenjangan disiplin antara turis dan warga.
Distrik Shibuya, pusat komersial dan hiburan ikonik di Tokyo yang terkenal dengan Shibuya Crossing-nya, resmi memberlakukan sanksi tegas berupa denda di tempat sebesar 2.000 yen Jepang (Rp 225.700) bagi siapa saja yang kedapatan membuang sampah sembarangan. Sanksi baru ini mulai diterapkan secara efektif sejak hari Senin (1/6).
Tidak hanya menyasar individu, aturan ketat ini juga berlaku bagi pelaku usaha. Di distrik-distrik tertentu, pihak berwenang akan menjatuhkan denda kepada pemilik toko makanan dan minuman yang tidak menyediakan fasilitas tempat sampah bagi pelanggan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini diambil menyusul rekor kunjungan pariwisata Jepang yang menembus 42,7 juta wisatawan asing pada tahun 2025. Pemerintah setempat kini tengah berupaya keras meredakan ketegangan dan gesekan sosial yang terjadi antara warga lokal dan para turis akibat ledakan kunjungan ini.
Melansir laporan lembaga penyiaran publik NHK, para pejabat setempat mengungkapkan adanya tren peningkatan jumlah orang, termasuk wisatawan asing yang mengonsumsi minuman keras di area publik lalu meninggalkan sampah mereka begitu saja di sekitar Shibuya.
Sebagai bagian dari kampanye anti-sampah ini, pemerintah meluncurkan slogan "Jika Anda membuang sampah, Anda kehilangan uang." Guna mempermudah proses penindakan, pelanggar yang tertangkap tangan harus membayar denda di tempat melalui berbagai opsi pembayaran, mulai dari uang tunai, kartu kredit, hingga pemindaian kode QR. Demi menegakkan aturan ini, pihak berwenang mengerahkan hingga 50 petugas untuk berpatroli menyisir lingkungan sekitar.
"Kami tidak dapat mentolerir pembuangan sampah sembarangan hanya karena tidak ada tempat sampah," tegas pihak berwenang Distrik Shibuya dalam siaran persnya seperti dikutip dari BBC.
"Kami meminta kerja sama Anda dalam menciptakan kota di mana setiap orang dapat menikmati diri mereka sendiri dengan nyaman."
Dilema Fasilitas Tempat Sampah di Jepang
Faktanya, menemukan tempat sampah umum di Jepang memang sangat sulit. Kelangkaan ini berakar dari sejarah masa lalu terkait masalah keamanan pasca-serangan teror yang pernah terjadi di dalam maupun luar negeri.
Kondisi ini pun kerap dikeluhkan oleh para pelancong. Dalam survei pemerintah tahun lalu terhadap sekitar 4,000 pengunjung asing, lebih dari 20% responden menempatkan "kurangnya tempat sampah umum" sebagai ketidaknyamanan terbesar yang mereka rasakan selama berlibur di Jepang.
Melemahnya nilai tukar yen dan masifnya eksposur media sosial pasca-pandemi Covid-19 menjadi bahan bakar utama meroketnya pariwisata Jepang. Namun, gelombang turis yang datang bertubi-tubi ini mulai menguji batas ketahanan infrastruktur perkotaan dan kenyamanan warga lokal.
Masalah ini tidak hanya terjadi di Tokyo. Di Kota Fujiyoshida yang terletak dekat Gunung Fuji, membeludaknya wisatawan telah memicu kemacetan parah dan penumpukan sampah kronis yang mengganggu aktivitas sehari-hari warga setempat. Imbasnya, pihak berwenang terpaksa membatalkan festival bunga sakura yang terkenal di kota tersebut tahun ini karena situasinya dinilai sudah tidak terkendali.
Sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi fenomena overtourism ini, Pemerintah Jepang terus merumuskan berbagai langkah strategis. Beberapa di antaranya meliputi kebijakan menaikkan pajak bagi wisatawan internasional hingga peluncuran aplikasi pengontrol keramaian yang mampu menyajikan data kepadatan suatu area secara real-time.











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan