Dukungan Warga Maluku ke Timnas Belanda di Piala Dunia Ternyata Turun Temurun

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dukungan Warga Maluku ke Timnas Belanda di Piala Dunia Ternyata Turun Temurun

Hari Suroto - detikTravel
Sabtu, 06 Jun 2026 20:10 WIB
Soccer Football - Netherlands vs Denmark
Ilustrasi (REUTERS/Yves Herman)
Ambon -

Setiap gelaran Piala Dunia, sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Maluku untuk selalu mendukung timnas oranye Belanda. Ternyata itu berlangsung turun temurun.

Dari opa sampai ke cucu, dukungan tersebut berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga saat ini. Saat traveler berkunjung ke Ambon di Maluku, bendera merah putih biru Belanda akan terlihat berkibar-kibar di tiang bambu yang dipasang setinggi mungkin di pohon-pohon, maupun di pagar depan rumah.

Fanatisme ini berakar dari ikatan sejarah, budaya, dan hubungan silsilah keluarga. Banyak pemain top Belanda yang memiliki darah keturunan Maluku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka adalah Ruud Gullit, Giovanni van Bronckhorst, Simon Tahamata, Sonny Silooy, Tijjani Reijnders, Jenson Seelt, Denny Landzaat hingga Virgil van Dijk.

Antusiasme masyarakat Maluku pada timnas oranye terlihat dalam setiap pertandingan timnas Belanda yang selalu mereka nonton bareng-bareng selama Piala Dunia.

ADVERTISEMENT

Setiap musim panas di Eropa bulan Juli sampai Agustus, banyak diaspora Maluku di Belanda yang memanfaatkan liburan musim panas untuk pulang kampung mengunjungi kerabatnya di Maluku.

Hal ini juga menjadi bagian dari fenomena Tracing Your Roots di Belanda, yakni generasi muda Belanda keturunan Maluku yang bernostalgia untuk mencari jejak leluhur dan sejarah keluarga Indo-Belanda di Indonesia.

Saat berlibur ke Maluku, mereka akan menikmati pantai berpasir putih dan kelapa muda, buah eksotis yang tidak bisa tumbuh di Belanda, serta kuliner mulai dari papeda dan ikan kuah kuning khas Maluku.

Ketika pulang ke negerinya, tentu saja oleh-oleh favorit yang mereka bawa adalah rempah-rempah seperti pala, cengkeh, kayu manis.

Rempah-rempah yang menjadi daya tarik nenek moyang mereka berlayar ke Maluku pada pada tahun 1599 di bawah pimpinan Wybrand van Warwijck.


-------

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara dan diubah seperlunya oleh redaksi.



(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads