Sisi Kelam Destinasi Hollywood, LA "Sembunyikan" Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sisi Kelam Destinasi Hollywood, LA "Sembunyikan" Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026

Femi Diah - detikTravel
Senin, 08 Jun 2026 13:23 WIB
Tiny house di Los Angeles dibangun untuk homeless jelang Piala Dunia 2026.
Tiny house di Los Angeles dibangun untuk homeless jelang Piala Dunia 2026. (Patrick T. Fallon/AFP)
Los Angeles -

Jelang perhelatan Piala Dunia 2026, Los Angeles gencar membersihkan tenda kumuh di trotoar kota. Kota itu menyembunyikan tuna wisma saat menyambut timnas dan suporter dunia.

Wali Kota LA Karen Bass memindahkan ribuan tunawisma ke hunian prefabrikasi sempit berukuran 6 meter persegi bernama tiny homes. Untuk melaksanakan proyek itu, pemkot menyediakan anggaran USD 300 juta (Rp 4,8 triliun).

Michael Gilpin (44), salah satu penghuni, menyebut rumah satu ruangan itu mirip sel penjara. Namun, dia juga mengakui bahwa tempat tinggal itu jauh lebih baik daripada saat dia tidur di dalam mobil dan berurusan dengan kecoak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jelas jauh lebih baik daripada hidup di jalanan," ujar Gilpin dikutip dari The Japan Times, Senin (8/6/2026).

Upaya sterilisasi kota itu mulai membuahkan hasil dengan berkurangnya kluster tenda yang dibuka di jalanan ikonik seperti Hollywood dan Pantai Venice. Sensus terbaru menunjukkan penurunan jumlah tunawisma jalanan sebesar 17,5% dalam periode dua tahun terakhir, yang menjadi penurunan paling konsisten sejak pendataan dimulai 20 tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Namun, di balik klaim kesuksesan tersebut, proyek kejar tayang itu dinilai belum mampu menyelesaikan akar masalah penanganan tunawisma secara menyeluruh. Skala krisis di lapangan di LA memang sudah begitu besar. Wilayah Los Angeles County mencatat ada 72.000 orang yang tidak memiliki rumah dan 47.000 di antaranya telantar di jalanan.

Tiny house di Los Angeles dibangun untuk homeless jelang Piala Dunia 2026.Tiny house di Los Angeles dibangun untuk homeless jelang Piala Dunia 2026. (Patrick T. Fallon/AFP)

Di San Fernando Valley, aktivitas sosial berjalan pincang karena jumlah tunawisma mencapai empat hingga lima kali lipat lebih banyak dibandingkan kapasitas tempat tidur penampungan yang tersedia. Akibatnya, saat otoritas kota membongkar sebuah pemukiman tenda bulan lalu, belasan tenda baru langsung berdiri kembali tidak jauh dari lokasi karena tidak semua orang kebagian jatah hunian.

Keterbatasan kuota itu membuat banyak tunawisma harus mengantre sangat lama tanpa kepastian. Di antara terpal plastik dan alat pemanggang darurat di pinggiran rel, seorang wanita berusia 40-an bernama Maggie mengaku berada di daftar tunggu setelah 10 tahun hidup luntang-lantung di jalanan.

"Saya sudah menunggu selama tiga bulan agar mereka bisa membantu saya," ujar Maggie.

Dia juga menyampaikan harapan agar bisa segera mendapatkan tempat tinggal permanen dari pemerintah setempat.

Bagi mereka yang beruntung mendapatkan tempat di penampungan pun, keberlanjutannya belum tentu terjamin karena fasilitas tiny homes itu menerapkan aturan ketat, seperti larangan membawa pengunjung atau tamu.

Aturan itu dianggap bikin program tidak efektif. Data akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa dari 5.800 orang yang sempat ditampung, sebanyak 40% di antaranya kemudian memilih keluar dan kembali ke jalanan akibat aturan kaku dan krisis pasokan hunian murah di California yang menaikkan tarif sewa apartemen studio hingga rata-rata USD 1.800 (Rp 29 juta) per bulan.

Kondisi tersebut dialami oleh Michael Reyes (59), seorang pekerja pemeliharaan yang terpaksa tidur di kursi belakang mobilnya selama setahun setelah mengalami kecelakaan kerja. Tunjangan bulanan yang diterima usai kecelakaan tidak mampu mengejar tingginya biaya hidup kota yang terus meroket.

"Biaya hidup kami terus naik, tetapi pendapatan kami tidak. Ada yang salah dengan sistem ini," kata Reyes yang kini menempati salah satu unit tiny homes itu.

Di usianya yang menjelang lansia, Reyes meragukan keberlanjutan program penampungan itu dan meyakini bahwa pembenahan trotoar akan langsung kendor begitu Piala Dunia selesai.

"Mereka melakukan ini semua hanya demi turis," kata dia dengan nada sinis.

"Oh, mari bersihkan Hollywood. Namun, realitas di kota ini tidak akan pernah benar-benar berubah," ujar Reyes.



(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads