Saat ini Jepang menjadi destinasi top bagi kalangan traveler. Bahkan, turis pun dipermudah dengan berbagai kebijakan. Sayangnya, warga lokal tidak sepakat.
Kebijakan sejumlah pemerintah daerah di Jepang untuk memikat wisatawan mancanegara kini tengah dibanjiri kritik tajam. Langkah-langkah seperti pemberian subsidi tiket kereta cepat Shinkansen hingga pembebasan biaya masuk tempat wisata dinilai tidak adil oleh para pengamat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun fiskal berjalan, Pemerintah Prefektur Kagoshima meluncurkan sebuah program khusus demi mendongkrak angka kunjungan turis asing yang performanya belum pulih total sejak hantaman pandemi COVID-19.
Bentuk insentif yang ditawarkan tidak main-main, yaitu subsidi total untuk ongkos Shinkansen sebesar 10.000 yen (Rp 1.050.000) bagi perjalanan satu arah dari Stasiun Hakata di Prefektur Fukuoka, yang juga terletak di wilayah Kyushu.
Melalui program ini, pemerintah setempat ingin mengedukasi para calon pelancong luar negeri, khususnya dari negara yang tidak memiliki rute penerbangan langsung ke Kagoshima, bahwa destinasi tersebut tetap bisa dijangkau dengan mudah menggunakan moda transportasi Shinkansen.
Sayangnya, baru satu bulan diperkenalkan gelombang protes langsung datang dalam bentuk 600 keluhan masyarakat. Di antara protes yang masuk, warga mempertanyakan, "Apakah ini perlakuan istimewa untuk orang asing?" serta menyampaikan kekecewaan seperti, "Saya tidak ingin orang asing datang jika pajak kita digunakan."
Menanggapi polemik ini, seorang pejabat dari pemerintah prefektur memberikan pembelaan.
"Kami juga berupaya untuk menarik warga Jepang, tetapi hanya proyek untuk pengunjung asing yang mendapat perhatian," ujarnya sepeerti dikutip dari Japan Today, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan bahwa sebenarnya, pemerintah berharap dapat menarik wisatawan domestik dan asing sambil menjelaskan langkah-langkahnya dengan cermat.
Persoalan serupa juga menimpa Prefektur Nara. Sejak tahun 2008, wilayah ini sebenarnya sudah memberlakukan pembebasan biaya masuk bagi turis asing di empat fasilitas publik, termasuk museum seni prefektur. Namun, program tersebut akhirnya resmi dihentikan pada April 2024 setelah viralnya berbagai unggahan di media sosial yang menyebut bahwa pemberian hak istimewa khusus bagi warga asing adalah sebuah kekeliruan.
Gubernur Nara, Makoto Yamashita, turut angkat bicara mengenai pembatalan tersebut.
"Banyak (pengunjung asing) baru mengetahui bahwa masuk gratis setelah mereka datang ke loket, jadi hal itu tidak membantu menarik pelanggan," ungkapnya.
Ia juga mengakui bahwa mereka tidak dapat memperoleh pemahaman dari masyarakat prefektur.
Sementara itu di Prefektur Shimane, tercatat ada 33 fasilitas wisata yang menawarkan potongan harga khusus bagi pelancong asing pada tahun fiskal 2019. Meski begitu, upaya untuk menghapuskan kebijakan ini sudah mulai berjalan sejak tahun 2023.
Awalnya, skema diskon tersebut digalakkan oleh pemerintah prefektur untuk mempermudah pelacakan jumlah kunjungan wisatawan. Namun, arah kebijakan tersebut diubah seiring dengan melonjaknya kedatangan turis kelas atas akibat melemahnya nilai tukar yen. Alhasil, beberapa fasilitas memilih menyetop program diskon tersebut di tengah derasnya kritikan mengenai perlakuan khusus bagi warga asing.
Walaupun demikian, kebijakan diskon ini tidak sepenuhnya hilang. Sebanyak 11 fasilitas yang sangat populer di mata turis asing akan tetap mempertahankan potongan harga tersebut.











































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan