Viral di medsos, pendaki wanita bercerita jadi korban pelecehan seksual yang dilakukan pemandu. Bagian tubuh sensitif pendaki itu diraba-raba di dalam tenda.
Sebuah postingan akun X terkait seorang pendaki wanita yang diduga menjadi korban pelecehan seksual saat melakukan pendakian di Gunung Merbabu. Dalam cuitannya di akun X @itsb**nd, pendaki tersebut juga merasa ditipu dengan pemandu yang ia sewa.
Cerita bermula ketika pendaki wanita berinisial F (26) itu berkenalan dengan H (29) dari Grobogan melalui media sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendaki asal Banjarnegara yang berdomisili di Purwokerto itu mengaku memilih H menjadi pemandunya. Keduanya bertemu saat F menyewa jasa H untuk menjadi pemandu saat mendaki Gunung Merbabu.
"Saya ingin menyewa private trip. Dia bilang sudah pernah private trip di Rinjani. Sebelumnya dia sempat chat aku di X, kita sempat komunikasi. Aku juga suka naik gunung, apalagi ini bulan naik gunung. Teman-temanku bisanya minggu ini, tapi aku minggu ini udah mutasi kerja," kata F saat dihubungi, Selasa (9/6).
F semakin yakin karena postingan H sebelumnya seputar dunia pendakian. Sampai F mulai bertanya, apakah H bisa private trip ke Merbabu, dan H disebut bisa dengan tarif Rp 1 juta.
Menurut F, H kemudian mengganti tarif jasa open trip dengan F menanggung biaya administrasi, logistik, dan keperluan bersama saat naik gunung dengan total sekitar Rp 1 juta. Meski sempat keberatan, namun F tetap mengiyakan.
Harapannya dengan menyewa jasa open trip, dia bisa melakukan pendakian sendiri dengan lebih aman, nyaman, dan lebih ringan. Sebab, ada pemandu yang menjaganya.
"Kalau untuk sekarang aku bisa mengatakan itu modus (jasa open trip). Tapi kalau awal aku kira dia membuka jasa open trip, karena dia bilang pernah private trip ke Rinjani membawa 3 orang. Sehingga aku merasa dia sudah profesional," ucapnya.
Keduanya kemudian melakukan pendakian ke Merbabu via Selo, Boyolali pada Jumat (29/5). Dari Purwokerto F berangkat ke Jogja, dan dijemput H. Mereka kemudian naik motor ke Pos Pendakian Selo.
Awal pendakian, tas F membawa keperluan logistik makanan, sementara H membawa peralatan seperti pertendaan. Mereka kemudian melakukan pendakian dengan tujuan Sabana 2 Pos Pendakian Merbabu Via Selo.
Di sana, keduanya mulai mendirikan tenda, dengan posisi di depan jurang, belakang semak-semak. Tenda yang didirikan berkapasitas 4 orang.
Bagian Tubuh Sensitif F Diraba-raba di Dalam Tenda
Keduanya berada dalam satu tenda dengan posisi awal kedua tidur berada di ujung satu dan di ujung yang lain, sehingga masih ada ruang di tengah. Setelah makan malam, F sempat tidur dan terbangun karena kedinginan, namun H masih belum tidur.
"Aku sempat dikasih air, tapi karena aku ngantuk banget aku tidur lagi, dengan kondisi sleeping bag aku tutup. Aku posisi tidur miring, tiba-tiba ada kok aku merasa ada meraba (bagian sensitif), dan aku singkirin tangan dia, tapi dia nyoba lagi, berkali-kali," ujarnya.
"Akhirnya aku menyilangkan tangan aku menutupi bagian dada, tapi tangannya masih mencoba masuk ke ketiak. Aku pengin nangis, teriak, kabur, tapi depan tenda aku jurang. Kalau aku teriak, takutnya dikira aku baru nge-freeze," imbuhnya.
F kemudian sadar jika sleeping bagnya terbuka setengah, lalu dia tutup kembali. Namun dia merasa H masih mencoba memeluk, dan mengatakan untuk H segera menyingkir. Di tengah kebingungan dan ketakutan, F hanya bisa beraksi diam dan menutup semua bagian tubuhnya.
Keesokan harinya, F segera untuk turun gunung. Namun kedua sempat kesasar. Beruntung, ada pendaki lain yang memberitahu jika mereka salah jalur, dan menunjukkan jalur yang benar.
F kemudian pulang dalam keadaan trauma, dia mengaku tidak bisa tidur, gelisah, ketakutan, dan tidak mau makan. "Aku hingga hari ini aku belum bisa tidur, saat ketemu akan baru aja lepas infus," kata dia.
Dia sempat menceritakan kejadian yang ia alami kepada kakaknya, dan meminta kakaknya menemui H. Dalam pertemuan itu, H diminta menemui F di Purwokerto untuk menyelesaikan permasalahan dan meminta maaf secara langsung. H kemudian ke Purwokerto menemui F pada Kamis (4/6). F yang didampingi temannya, bertemu di sebuah tempat makan.
"Awalnya dia bilang apa yang dikatakan aku tuh benar, tapi pas ketemu beda cerita. Dia menyangkal semuanya. Sebelumnya saya juga memberi waktu untuk dia buat video permintaan maaf dan klarifikasi, tapi dia nggak mau," ujarnya.
Akhirnya H Membuat Video Permintaan Maaf
Karena dianggap H kurang kooperatif, F mengancam kasus ini akan dilaporkan ke pihak kepolisian. H disebut meninggalkan tempat makan, dan dicari rekan-rekan F. Keduanya kemudian mendatangi Polsek terdekat, dan dilakukan mediasi.
"Akhirnya dia buat surat pernyataan, tulisannya didektein sama petugas kepolisian. Saat dia nulis itu aku video, dan sama polisinya dia disuruh baca. Tapi dia tahu aku videoin, dia diam nggak mau melanjutkan," terangnya.
Namun akhirnya foto H membawa surat pernyataan, beserta foto surat pernyataan itu sudah diunggah di akun X H. F memutuskan belum membawa kasus ini ke ranah hukum. Dia menilai sanksi sosial untuk saat ini sudah cukup.
"Sanksi sosial kayaknya sudah cukup, karena akan terus menghantui dia," pungkasnya.
Di akun X milik H sendiri kini telah mengunggah permintaan maafnya kepada korban. Dia mengakui semua perbuatannya dan membuat pernyataan baik dalam bentuk video maupun tertulis.
---------
Artikel ini telah naik di detikJateng.
Simak Video "Video: Momen Mahasiswa Unnes Geruduk Terduga Pelaku Pelecehan Seksual"
[Gambas:Video 20detik] (wsw/wsw)











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan