Piala Dunia 2026 Dibayangi Masalah Visa buat Ribuan Suporter

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Piala Dunia 2026 Dibayangi Masalah Visa buat Ribuan Suporter

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Jumat, 12 Jun 2026 21:15 WIB
Euforia menyambut Piala Dunia FIFA 2026 mulai terasa kuat di Jerman. Di Kota Essen, wilayah barat Jerman, sebuah jalan permukiman berubah menjadi lautan bendera setelah dihiasi ratusan atribut sepak bola yang dipasang oleh para penggemar setempat, Se
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Leon Kuegeler/Reuters)
Jakarta -

Ribuan suporter dari negara peserta Piala Dunia 2026 diprediksi terancam gagal untuk menyaksikan langsung pertandingan di Amerika Serikat (AS). Visa jadi masalah.

Analisis BBC World Service menunjukkan lebih dari seperempat negara peserta menghadapi pembatasan perjalanan, aturan visa yang lebih ketat, bahkan hingga tingkat penolakan visa yang tinggi.

Salah satunya dialami suporter Irak, Abdulla Adnan. Dia langsung membeli tiket pertandingan setelah timnas Irak memastikan lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, upayanya berangkat ke AS kandas karena dia kesulitan mendapatkan visa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pergi ke pertandingan, berada di stadion, bersama kerumunan suporter, bersorak, dan melihat tim saya bermain adalah hal yang sangat berarti bagi saya. Tidak ada perasaan lain yang bisa menandinginya," kata Adnan dilansir dari BBC, Jumat (12/6/2026).

ADVERTISEMENT

Kendati Irak tidak masuk dalam daftar larangan perjalanan AS, layanan visa AS di Irak dihentikan sementara karena situasi keamanan kawasan. Adnan sempat terbang ke Yordania untuk mengurus visa, tetapi ditolak karena bukan warga negara setempat.

Setelah menghabiskan sekitar USD 1.800 (Rp 32 juta) untuk tiket dan perjalanan, pada akhirnya pun menyerah. Empat negara peserta seperti Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading, juga terdampak kebijakan pembatasan visa AS. Kondisi itu memicu kekecewaan di kalangan suporter.

Julien Kouadio Adonis dari Komite Nasional Pendukung Timnas Pantai Gading menilai kebijakan tersebut tidak adil.

"Ini adalah bentuk segregasi yang tidak berani disebutkan secara terang-terangan, tetapi buktinya ada. Tidak ada negara Eropa yang menghadapi pembatasan seperti ini. Mengapa Afrika?" kata dia.

Karena aturan tersebut, organisasinya memutuskan tidak mengirim rombongan suporter ke Amerika Serikat. Menurutnya, negara yang enggan menerima pendukung dari tim peserta seharusnya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia.

"Sepakbola adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan membutuhkan penonton," kata Andonis.

Data Departemen Luar Negeri AS menunjukkan tingkat penolakan visa warga dari 11 negara peserta Piala Dunia mencapai lebih dari 40%. Negara-negara itu antara lain Aljazair, Senegal, Ghana, Iran, Yordania, hingga Republik Demokratik Kongo.

Pengacara imigrasi, Celine Atallah, mengatakan FIFA Pass memang dapat mempercepat jadwal wawancara visa bagi pemegang tiket, tetapi tidak menjamin permohonan akan disetujui.

"FIFA bisa menjual tiket, tetapi pemerintah AS yang menentukan siapa yang mendapatkan visa," ujar Atallah.

Keluhan serupa datang dari Ketua Asosiasi Suporter Yordania, Abu Kass. Permohonan visanya ditolak meski ia membawa puluhan dokumen pendukung saat wawancara.

"Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, banyak permohonan ditolak. Jika ketua asosiasi suporter saja ditolak, lalu siapa yang akan diterima?," kata Kass.

Menanggapi kritik tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk Piala Dunia 2026. Namun, pemerintah menegaskan setiap permohonan visa tetap akan melalui proses pemeriksaan ketat demi menjaga keamanan negara.



(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads