Di ujung Samudra Atlantik, sebuah negara kepulauan mungil mendadak jadi sorotan dunia. Bukan karena konflik atau politik, tetapi sepak bola, Cape Verde menahan imbang Spanyol di laga pembuka Piala Dunia 2026.
Dalam pertandingan Grup H yang digelar di Stadion Atlanta pada Senin (15/6/2026), Cape Verde bermain 0-0 dengan Spanyol. Bagi Cape Verde, sebagai tim debutan, hasil tersebut terasa seperti kemenangan besar. Menahan raksasa Eropa seperti Spanyol tanpa gol bukanlah perkara biasa.
Setelah wasit meniup peluit panjang, masyarakat Tanjung Verde pun berpesta. Ibu kota Praia berubah menjadi lautan manusia. Klakson kendaraan bersahutan, bendera biru dikibarkan di mana-mana, mereka menari bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari BBC, Selasa (16/6), seorang suporter Isa Conceicao, yang nobar di fan zone tengah kota, menggambarkan momen itu dengan begitu emosional. Dia tak menyangka tim nasional Cape Verde bisa menahan imbang Spanyol.
"Ini momen yang sangat emosional. Sebagai negara kecil, bisa meraih hasil seperti ini melawan Spanyol adalah perasaan yang luar biasa dan tak tergantikan. Ini perasaan terbaik yang pernah ada," kata dia.
Para pria, wanita, dan anak-anak ikut menari mengikuti chant nos ora dja txiga diputar di fan zone itu, mereka kompak meneriakkannya dengan penuh semangat. Ungkapan itu dalam bahasa Kreol Cape Verde berarti waktu kita telah tiba.
Bagi Pauline, seorang wisatawan asal Prancis, penampilan Cape Verde pada Senin itu bisa dikaitkan dengan fakta bahwa mereka bermain dengan hati.
"Itu saja yang penting," kata Pauline.
"Saya kira Spanyol akan menang, tapi energi dan kecepatan Cape Verde luar biasa," seorang pendukung asal Kongo yang juga sedang pertama kali berkunjung ke pulau-pulau tersebut menimpali.
Sepak bola memang sudah lama menjadi olahraga paling dicintai di Cape Verde. Namun, Cape Verde bukan hanya soal bola.
Cape Verde adalah negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat, terdiri dari pulau-pulau vulkanik dengan karakter alam yang kontras, dengan pantai tropis berair biru jernih berpadu dengan perbukitan kering yang bikin Pauline dan turis dunia terpikat.
Di Pulau Santiago, ada Praia sebagai pusat pemerintahan dan kehidupan modern, tapi yang paling menarik justru kota sejarahnya, Cidade Velha. Kota ini dianggap sebagai situs kolonial tertua di Afrika Barat dan sudah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.
Mercu suar di Praia (Getty Images/iStockphoto/Wirestock) |
Bergeser ke Pulau Sal, wisata paling populer ada di kawasan pantai Santa Maria Beach yang terkenal dengan pasir putih dan air laut biru jernih. Pulau ini juga jadi pintu masuk utama wisatawan internasional.
Di Pulau Boa Vista, suasananya lebih tenang dengan gurun pasir dan pantai panjang yang masih sepi, cocok untuk healing dengan lanskap alami.
Sementara itu, Pulau Fogo memiliki gunung berapi aktif Pico do Fogo yang bisa didaki. Pemandangannya dramatis, dengan lanskap lava hitam dan desa-desa kecil di sekitarnya.
Taman Nasional Serra Malagueta di Tanjung Verde (Getty Images/Iacob Madaci) |
Di Pulau Sao Vicente, kota Mindelo dikenal sebagai pusat musik dan budaya. Di sinilah kehidupan malam, seni, dan festival lokal paling terasa, terutama musik tradisional seperti morna.
Kalau ingin alam yang lebih hijau dan pegunungan, ada Serra Malagueta National Park yang menawarkan jalur trekking dengan pemandangan lembah dan perbukitan.
Bagi wisatawan dari Indonesia, Cape Verde memang bukan destinasi yang mudah dijangkau. Belum ada penerbangan langsung. Umumnya perjalanan harus transit di Timur Tengah seperti Doha atau Dubai atau melalui Eropa seperti Lisbon atau Amsterdam, barulah kemudian melanjutkan penerbangan ke Atlantik.
Gerbang utama masuk biasanya melalui AmΓlcar Cabral International Airport di Pulau Sal. Total waktu perjalanan bisa mencapai 20-30 jam, tergantung rute dan lama transit.
Untuk urusan visa, kebijakan dapat berubah, tetapi umumnya wisatawan Indonesia memerlukan e-visa atau registrasi perjalanan sebelum kedatangan. Karena aturan bisa diperbarui kapan saja, pengecekan ke sumber resmi tetap disarankan sebelum berangkat.













































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan