Rottnest Island bukan hanya soal pantai berpasir putih dan laut biru jernih. Pulau dekat Perth ini justru paling diingat wisatawan karena pertemuan dengan quokka, satwa mungil yang seolah selalu tampak tersenyum.
Dalam perjalanan menuju Rottnest Island saat kunjungan ke Perth akhir Mei lalu, detikTravel menyeberang ke pulau itu lewat Fremantle. Perjalanan dimulai dengan naik kereta sekitar 30 menit dari Stasiun Perth menggunakan jaringan resmi Transperth. Jalur Fremantle Line yang berwarna biru membawa penumpang menuju kota pelabuhan bersejarah itu.
Kami berangkat dari Hostel G, tempat menginap, sebelum fajar, untuk mengejar jadwal kapal feri pukul 07.15. Pagi itu terasa dingin, tetapi antusiasme menjelajah Rottnest membuat bangun sepagi itu tetap terasa sepadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiket satu zona dari Perth ke Fremantle sekitar AUD 3.5 atau sekitar Rp 43 ribu jika bayar tunai atau kartu, atau AUD 2.80 (sekitar 35 ribu) jika memakai kartu SmartRider. Bahkan lebih hemat lagi, pengguna SmartRider bisa naik gratis setiap hari Minggu.
Setibanya di Stasiun Fremantle, hanya perlu berjalan sekitar lima menit menuju Victoria Quay dan B Shed Terminal, tempat keberangkatan kapal feri Rottnest Express menuju pulau.
Tiket feri pulang-pergi dari Fremantle ke Rottnest Island sekitar AUD 92 atau Rp 1,115 juta per orang dewasa, sudah termasuk biaya konservasi pulau. Untuk yang ingin berkeliling dengan sepeda, paket feri plus sewa sepeda biasanya mulai dari sekitar AUD 118 per orang.
Alternatif lain, pengunjung bisa membeli tiket bus hop-on hop-off Island Explorer Bus seharga sekitar AUD 32 untuk dewasa, AUD 29 untuk pelajar/pensiunan, dan AUD 24 untuk anak usia 4-12 tahun.
Perjalanan kereta tadi terasa seperti pemanasan dari petualangan yang akan datang. Kami melihat satu keluarga membawa sepeda mereka-dan benar saja, mereka juga menuju Rottnest untuk menjelajah dengan dua roda.
Setengah jam kemudian, dalam perjalanan feri yang mulus, garis pantai Rottnest mulai terlihat dari kejauhan.
Rottnest Island, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Hal pertama yang langsung disadari pengunjung setelah tiba di Rottnest Island adalah tidak adanya kendaraan bermotor pribadi. Suasana pulau tetap tenang, dan satu-satunya transportasi umum adalah bus Island Explorer yang beroperasi setiap 20 menit sepanjang hari.
Papan informasi di dekat dermaga menjelaskan sejarah dan warisan budaya yang kaya. Di sini, pengunjung belajar bahwa Rottnest juga disebut Wadjemup, nama tradisional dari suku Noongar.
Sebuah patung setinggi sembilan meter bernama Koora-Yeye-Borawan-Kalyakorn (berarti "Masa Lalu-Sekarang-Masa Depan-Selamanya" dalam bahasa Noongar) berdiri megah di dekat terminal feri.
Monumen ini terbuat dari batu kapur, beton, dan aluminium, menampilkan figur prajurit Noongar dan paus yang muncul dari laut. Karya ini menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya dan spiritual masyarakat Whadjuk Noongar.
Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah yang lebih kelam. Sebagian struktur menyerupai jeruji penjara, mengingatkan bahwa pulau ini pernah menjadi tempat penahanan ribuan pria dan anak laki-laki Aborigin selama lebih dari satu abad.
Dari atas, dasar monumen ini menggambarkan geografi Wadjemup, termasuk danau-danau garam serta konstelasi "Emu in the Sky", bagian penting dari astronomi tradisional Aborigin.
Menjelajahi Pulau
Ada banyak cara menikmati Rottnest. Banyak pengunjung memilih bersepeda, sementara yang lain berjalan kaki, jogging, atau menggunakan bus Island Explorer.
Bus pertama berangkat pukul 08.45 dari Thomson Bay, pusat utama wisata pulau, dan beroperasi searah jarum jam dengan 19 pemberhentian.
Karena kami tiba lebih awal, kami sempat bersantai di Thomson Bay. Dome CafΓ© sudah ramai oleh pengunjung yang menikmati sarapan dan kopi di tepi air. Cappuccino hangat jadi teman sempurna sambil menikmati suasana pagi yang tenang.
Lalu datang momen yang paling ditunggu banyak orang.
Rottnest Island, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Saat berjalan menuju halte bus, kami melihat seekor quokka-penghuni paling terkenal Rottnest. Hewan kecil berkantung asli Australia ini dikenal ramah dan selalu tampak tersenyum. Tidak heran mereka menjadi ikon wisata satwa liar Western Australia.
Seorang wisatawan terlihat berjongkok, terpukau saat quokka itu mendekat dengan rasa penasaran. Tingkahnya yang lucu membuat siapa pun sulit tidak ikut tersenyum. Banyak orang bahkan mencoba berfoto selfie, meski pengunjung tetap diimbau menjaga jarak dan tidak mengganggu hewan.
Melihat quokka dari dekat menjadi awal hari yang sangat menyenangkan di Rottnest.
Tak lama kemudian, petualangan dengan Island Explorer pun dimulai. Sepanjang perjalanan, sopir bus memberi penjelasan tentang berbagai titik penting dan bahkan menunjukkan beberapa quokka yang sedang beristirahat di pinggir jalan.
Pantai-Pantai yang Wajib Disinggahi
Di antara banyak pantai, kami memilih Little Salmon Bay dan Salmon Bay. Keduanya memiliki pasir putih selembut tepung dan air laut biru toska yang sangat jernih. Aksesnya mudah dengan berjalan kaki, dan tersedia rak sepeda bagi yang berkeliling dengan bike.
Saat siang mulai panas, kami menuju destinasi berikutnya adalah Pinky Beach.
Pinky Beach du Rottnest Island, Australia Barat khas dengan pantai pasir putih dan mercusuarnya. (Femi Diah/detikcom) |
Kami turun di Geordie Bay lalu berjalan kaki melewati area penginapan, kafe, dan toko kecil. Suasananya hidup namun tetap santai-orang-orang berjalan dari satu spot ke spot lain sambil berhenti untuk kopi.
Kadang-kadang, Bathurst Lighthouse terlihat di antara pepohonan sebelum akhirnya tampak jelas saat kami mendekati Pinky Beach.
Pemandangannya benar-benar seperti kartu pos.
Hamparan pasir putih yang panjang melengkung indah menuju mercusuar ikonik, salah satu spot paling banyak difoto di Rottnest. Meski datang saat tengah hari, angin laut yang sejuk membuat kami betah duduk di pasir.
Sedikit berjalan melintasi pantai dan menaiki tangga kayu, kami sampai di mercusuar. Pagar di sekitarnya dipenuhi gembok-gembok cinta, meski tidak ada penjelasan resmi, kemungkinan besar gembok-gembok itu ditinggalkan sebagai simbol kenangan.
Dari area ini, pemandangan laut biru kehijauan Samudra Hindia terbentang luas tanpa batas.
Penutup Manis dengan Sepotong Es Krim
Sisa hari dihabiskan dengan menjelajah pantai dan titik pandang, sebelum kembali ke pusat keramaian di Thomson Bay Settlement.
Di sini, pengunjung bisa bersantai di restoran, kafe, dan toko suvenir.
Satu tempat yang wajib dicoba adalah Simmo's Ice Cream.
Es krim khas Western Australia ini terkenal dengan teksturnya yang lembut dan rasa yang kaya. Setelah seharian di bawah matahari Rottnest, satu scoop es krim terasa seperti hadiah sempurna. Dengan harga sekitar AUD 7, ini jadi penutup hari yang manis.
Di dekatnya, Visitor Centre & Gift Shop menawarkan berbagai suvenir-mulai dari kaos, topi, boneka quokka, hingga gantungan kunci.
Perjalanan pulang pun mudah-cukup berjalan kaki singkat dari Thomson Bay kembali ke terminal feri. Waktu kami di Rottnest perlahan berakhir, dan perjalanan berikutnya sudah menunggu.
Kembali di Fremantle, suasananya berubah total. Bangunan bersejarah, taman hijau, dan Fremantle Markets menghadirkan energi yang jauh lebih ramai. Pasar ini dipenuhi aroma makanan jalanan, dari camilan manis hingga hidangan gurih dari berbagai negara.
Udara terasa hangat dengan aroma kuliner yang menggoda di setiap sudut.
Jika Anda merencanakan liburan ke Western Australia, ada juga cara untuk lebih hemat. Allo PayLater menawarkan diskon 20% untuk produk wisata Western Australia.
Ditambah lagi diskon MegaFirst 10% serta potongan hingga IDR 500.000 untuk paket tur Australia melalui Antavaya. Pemesanan bisa dilakukan lewat situs atau aplikasi mereka agar perjalanan lebih terjangkau.














































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan