Tak Cuma Ronaldinho, Brasil Juga Punya Cafezinho, Budaya Ngopi yang Populer

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tak Cuma Ronaldinho, Brasil Juga Punya Cafezinho, Budaya Ngopi yang Populer

Hari Suroto - detikTravel
Rabu, 17 Jun 2026 18:11 WIB
espresso
Ilustrasi (iStock)
Rio de Janeiro -

Tak cuma punya Ronaldinho, Brasil juga punya Cafezinho, budaya ngopi yang populer di negeri Samba. Bagaimana kisahnya?

Kopi diminum secara teratur sepanjang hari di Brasil, bahkan sampai-sampai kata 'cafezinho' yang berarti 'kopi kecil', menjadi ungkapan yang sangat populer di sana.

Secangkir kecil kopi ini diminum sedikit demi sedikit oleh warga Brasil dan dalam frekuensi yang sering. Traveler yang berkunjung ke Brasil tidak jarang akan menemukan dispenser kopi dan tumpukan cangkir di tempat-tempat umum, seperti pom bensin dan restoran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat-tempat itu, traveler dapat mengambil sendiri kopi secara gratis. Cafezinho adalah kopi tradisional Brasil yang disajikan porsi kecil dalam gelas atau cangkir kecil (demitasse).

Kopi ini dikenal memiliki rasa yang kuat, manis, dan disajikan panas. Minuman ini dibuat dengan menambahkan gula atau 'rapadura', gula mentah khas Brasil ke kopi hitam.

ADVERTISEMENT

Cafezinho sering disajikan hitam, tetapi tidak jarang terlihat para penikmat kopi menambahkan susu atau krim untuk meringankan rasa dan mengentalkan teksturnya.

Cafezinho sepintas mirip espresso. Meskipun keduanya disajikan dalam porsi kecil, cafezinho dan espresso disiapkan secara berbeda.

Cafezinho yang berarti kopi kecil, adalah kopi tradisional Brasil, kuat dan manis, biasanya disajikan dalam cangkir kecil. Kopi ini disiapkan dengan merebus air dengan bubuk kopi halus dan gula, sehingga memiliki cita rasa lokal yang unik.

Sebaliknya, espresso yang terkenal di dunia disiapkan dengan mengalirkan air panas melalui biji kopi yang digiling halus, kemudian menghasilkan kopi yang pekat dan kaya rasa tanpa tambahan gula.


--------

Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.



(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads