Wisata Psikologi, Pendekatan Baru Pelesiran yang Tak Melulu soal Destinasi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wisata Psikologi, Pendekatan Baru Pelesiran yang Tak Melulu soal Destinasi

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Kamis, 18 Jun 2026 07:43 WIB
Konferensi pers wisata psikologi yang diluncurkan oleh Artotel Group bekerjasama dengan PT. Perisai Psikologi Indonesia
Konferensi pers wisata psikologi. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)
Jakarta -

Bicara tentang perjalanan wisata, kini pelesiran tak melulu soal destinasi atau atraksi. Melalui psychological tourism, perjalanan menjadi sebuah cara untuk menyelami dan kembali pada diri sendiri bisa.

Lini baru dari sektor tersebut coba digarap oleh Artotel Group bersama PT. Perisai Psikologi Indonesia. Psychological tourism atau wisata psikologi ini menjadi ranah baru yang coba mereka kembangkan, dengan pendekatan ilmu psikologi dan pariwisata. Menekankan pada konektivitas dengan diri sendiri.

"Dengan konsep wellness yang dikolaborasikan kami ingin menghadirkan dimensi baru yaitu pengalaman yang membantu seseorang berhenti sejenak, merefleksikan hidupnya, dan kembali terhubung dengan dirinya sendiri dengan bantuan langsung dari para psikolog," kata Director of Sales & Revenue Artotel Group, Nastalia Nursanti, dalam konferensi pers program 'Midhavana' di Artotel Casa Hang Tuah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep wisata psikologi ini berangkat dari fenomena meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang pemulihan mental. COO PT. Perisai Psikologi Indonesia, Catur Prasetyo, menjelaskan Indonesia kini tengah memasuki fase aging population.

ADVERTISEMENT

Merujuk pada data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik 2025, ia menjabarkan bahwa jumlah penduduk lanjut usia telah mencapai 34 juta jiwa, dengan 85% ditanggung oleh anak dan 15% oleh mandiri. Oleh karena ini menjadi celah untuk berkembangnya wisata psikologi di Indonesia.

Secara target pasar, wisata psikologi ini ditujukan untuk masyarakat lanjut usia di atas 50 tahun. Tujuannya untuk kembali merefleksikan hidup dan untuk menata ulang makna hidup di masa mendatang.

"Selama puluhan tahun dunia pariwisata berbicara tentang destinasi, atraksi, fasilitas, dan pengalaman perjalanan. Namun dengan perubahan zaman yang begitu cepat, kami melihat sebuah fenomena-fenomena baru yang semakin nyata," kata Catur.

"Banyak orang mampu berlibur. Tapi belum tentu pulih," ujar dia.

Dan dengan konsep wisata psikologi ini, ia yakni wisata psikologi ini bisa menjadi arah baru sektor pariwisata Indonesia di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental.

"Kami percaya kemewahan masa depan bukan hanya tentang fasilitas, kemewahan tertinggi adalah ketenangan batin, kemewahan tertinggi adalah mampu memahami diri sendiri, kemewahan tertinggi adalah hidup dengan makna. Karena itu, Mindhavana kami sebut psycological luxury experiences," kata dia.



(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads