Tim ranger Gunung Prau sempat mengerahkan 10 personel lengkap dengan tandu dan peralatan medis setelah menerima laporan seorang pendaki asal Bantul, Yogyakarta, tak mampu turun di Pos 3. Namun, setibanya di lokasi, survivor yang dilaporkan justru tidak ditemukan.
Peristiwa itu kemudian viral di media sosial setelah akun Instagram @ranger_prau mengunggah video dengan narasi bahwa tim rescue "kena prank". Dalam unggahan tersebut dijelaskan pendaki yang dilaporkan membutuhkan evakuasi ternyata sudah berada di basecamp saat tim rescue tiba di lokasi.
"Eeeh kena prank. Laporan survivor... katanya tidak bisa turun di Pos 3 dan harus dievakuasi. Setelah tim rescue merespons laporan dan bergegas menuju TKP, survivor tidak ditemukan. Setelah dihubungi kembali ternyata survivor sudah di basecamp," tulis akun tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pengelola Pendakian Gunung Prau, Solichun, menegaskan kejadian itu bukanlah prank atau laporan palsu. Menurutnya, insiden tersebut murni dipicu miskomunikasi antara pendaki yang dilaporkan dengan teman-temannya.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (27/6/2026). Saat itu, pengelola menerima laporan sekitar pukul 12.51 WIB mengenai seorang pendaki perempuan berinisial AN asal Bantul yang disebut sudah lemas dan tidak mampu melanjutkan perjalanan turun.
AN diketahui mendaki bersama dua teman wanitanya. Dalam perjalanan turun, mereka sempat terpisah. AN berada di Pos 3, sedangkan dua rekannya sudah berada di Pos 2. Teman-temannya meminta AN menunggu di Pos 3, lalu melapor kepada ranger karena mengira kondisi AN tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
"Kalau ada laporan itu kita tanggapi. Kita tanyakan bagaimana kondisi survivor, lalu disampaikan sudah lemas dan tidak bisa jalan," ujar Solichun.
Mendapat laporan tersebut, tim rescue langsung bergerak. Sebanyak 10 personel diterjunkan dengan membawa tandu, perlengkapan medis, hingga peralatan pertolongan pertama (P3K). Salah seorang teman AN bahkan ikut mendampingi tim menuju titik yang dilaporkan.
Namun, saat tim tiba di Pos 3, AN sudah tidak berada di lokasi. Setelah dilakukan pencarian, ranger mendapat informasi dari bawah bahwa pendaki tersebut ternyata sudah berhasil turun dan tiba di basecamp.
"Akhirnya setelah sampai di titik yang dilaporkan, survivor sudah tidak ada. Setelah dicari-cari, ternyata dari bawah ada laporan bahwa survivor sudah ada di basecamp," kata Solichun.
Belakangan diketahui, AN ternyata memutuskan turun sendiri tanpa sempat bertemu kembali dengan kedua rekannya yang menunggu di Pos 2. Teman-temannya pun mengaku tidak melihat AN melintas saat mereka turun.
"Temannya pas menunggu di Pos 2 ketemu tim rescue. Tapi saat temannya turun, dia juga tidak lihat. Ternyata survivor yang disuruh menunggu malah sudah turun duluan," kata dia.
Meski sempat membuat tim rescue melakukan evakuasi yang berujung sia-sia, pihak pengelola memastikan tidak ada sanksi bagi para pendaki. Menurut Solichun, merespons setiap laporan darurat secara cepat memang menjadi bagian dari tanggung jawab ranger.
"Teman-teman tidak ada sanksi atau apa. Setiap ada laporan kami harus responsif. Ini jadi pelajaran bersama dan merupakan konsekuensi tugas pengelola," ujarnya.
Solichun juga mengingatkan seluruh pendaki agar mengisi formulir pendakian dengan lengkap, terutama terkait riwayat penyakit. Informasi tersebut dinilai sangat penting sebagai acuan bagi tim rescue apabila sewaktu-waktu harus melakukan penanganan darurat.
"Riwayat penyakit itu untuk membantu. Bukan berarti yang punya riwayat penyakit tidak boleh mendaki, tetapi agar tim rescue bisa lebih cepat dan tepat dalam menangani jika terjadi sesuatu," kata dia.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa