Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Bikin Asia Cuan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Bikin Asia Cuan

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Selasa, 07 Jul 2026 09:21 WIB
A man cools himself off during a heatwave across Italy, in Naples, Italy July 10, 2023. REUTERS/Ciro De Luca
Ilustrasi panas ekstrem di Eropa. (REUTERS/Ciro De Luca)
Jakarta -

Gelombang panas yang melanda Eropa tak hanya memicu krisis kesehatan dan gangguan aktivitas, tetapi juga mendongkrak penjualan pendingin ruangan (AC) buatan Asia.

Produsen seperti Samsung Electronics, Midea, hingga Mitsubishi Electric mencatat lonjakan permintaan dari sejumlah negara di Benua Biru. Kondisi ini dipicu suhu ekstrem yang memecahkan rekor di berbagai wilayah Eropa.

Cuaca panas telah menyebabkan korban jiwa, mengganggu pasokan listrik, hingga memaksa sejumlah sekolah menghentikan kegiatan belajar. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dan pelaku usaha berbondong-bondong membeli AC portabel maupun AC permanen untuk menghadapi musim panas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Reuters, Selasa (7/7/2026) Samsung Electronics memperkirakan tren tersebut masih akan berlanjut seiring suhu yang diprediksi terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

"Dengan suhu yang diperkirakan terus meningkat mulai Juni, kami memperkirakan permintaan akan tetap kuat sepanjang puncak musim pendinginan," kata Samsung Electronics.

ADVERTISEMENT

Lonjakan permintaan juga dirasakan LG Electronics. Perusahaan itu mengatakan lini produksi AC di salah satu pabriknya di Korea Selatan telah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April untuk memenuhi permintaan musim panas dari Korea Selatan maupun pasar global.

Produsen asal China, Midea, juga mengalami kondisi serupa. Perusahaan itu menyebut permintaan AC portabel PortaSplit melonjak tajam hingga stok di beberapa jalur distribusi habis. Tingginya permintaan bahkan membuat harga unit bekas melampaui harga produk baru.

Pihak Midea mengatakan pasar Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan dua digit sepanjang paruh pertama tahun ini.

"Gelombang panas pada dua pekan terakhir Mei secara signifikan meningkatkan penjualan, terutama untuk AC PortaSplit yang habis terjual di beberapa saluran distribusi," ujar mereka.

Midea juga mencatat penjualan melalui kanal e-commerce di Jerman naik sekitar 37% pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pengiriman AC ke Spanyol dan Prancis melonjak hingga 108% secara tahunan.

Meningkatnya permintaan perangkat pendingin mencerminkan perubahan kebutuhan masyarakat Eropa di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Selama ini penggunaan AC di Eropa masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia, karena banyak bangunan lama yang membuat pemasangan AC menjadi lebih rumit dan mahal.

Menurut Midea, biaya pemasangan AC di Eropa bisa mencapai lebih dari 1.000 euro (Rp 20 juta). Besarnya biaya tersebut membuat banyak rumah tangga belum mampu memasang pendingin ruangan.

Data International Energy Agency (IEA) juga menunjukkan tingkat kepemilikan AC di Eropa baru sekitar 20%.

Gelombang panas yang berkepanjangan diperkirakan akan terus menguntungkan negara-negara produsen AC seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Cuaca ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok rentan, terutama lansia dan penderita penyakit kronis, yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

Sejumlah perusahaan di Eropa mulai menerapkan berbagai langkah untuk melindungi pekerja lapangan seperti membagikan kotak pendingin berisi handuk pendingin yang dapat digunakan kembali, pendingin pergelangan tangan berbahan aktif air, hingga pelindung leher dari paparan sinar ultraviolet.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya menyebut Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Pengunaan AC yang Menjadi Kebutuhan

Melansir Travelweekly, Direktur Konsultan dan Layanan Perhotelan Global HVS, Alexandra Dumoulin, mengatakan AC awalnya merupakan investasi yang dulunya hanya terkonsentrasi pada properti mewah saja. Tetapi dengan kondisi suhu ekstrem saat ini, hal itu menjadi sebuah kebutuhan pasti untuk semua kategori.

"Kita sudah mengalami gelombang panas ini selama kurang lebih satu dekade terakhir. Dan industri perhotelan sudah mulai bergerak, investasi pendingin ruangan di hotel-hotel Eropa telah meningkat secara signifikan," ungkapnya.

Dumoulin menegaskan kini hotel-hotel tanpa pendingin ruangan itu lebih banyak dikeluhkan oleh wisatawan dan mendapatkan rating buruk.



(upd/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads